Cari

Catatan Mister Rigen

Njajah Deso Milang Kori

Strategi Percepatan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

Setelah cukup lama tidak menulis di blog ini, kali ini saya akan memulai kembali dengan gagasan-gagasan yang berkaitan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Bukan apa-apa, tapi sebagai hal baru tentu saja masih ada banyak hal menarik untuk diulas dan dibahas sebagai pemikiran bersama anak-anak bangsa.

Berkaca dari pengalaman tahun ke-2 implementasi Undang-Undang Desa, masih tersisa banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah (baik pusat maupun daerah) dan khususnya bagi pemerintah dan masyarakat desa itu sendiri. Pengalaman implementasi Dana Desa di beberapa kabupaten di Jawa Tengah menunjukkan fakta yang membuat miris. APB Desa yang hingga tahun anggaran 2016 ini besaranya sudah mencapai rata-rata 1,3 M rupiah. Sungguh nilai yang tidak kecil bagi sebuah institusi pemerintahan kecil seperti Desa. Sayangnya, hingga semester pertama tahun 2016 ini belum menunjukkan tanda yang menggembirakan. Jika pada tahun 2015 di Jawa Tengah hampir 94 % Dana Desa dipergunakan untuk belanja pembangunan, dan lebih khususnya lagi pembangunan infrastruktur fisik. Tahun anggaran 2016 ini ternyata masih belum terlalu jauh berbeda dari sebelumnya.

Dampak buruknya perencanaan anggaran yang terlalu berorientasi infrastruktur fisik tersebut setidaknya mulai terasa. Mulai terlihat kedodorannya desa dengan sumber daya manusia (SDM) yang minim kapasitas tiba-tiba harus merencanakan dan mengelola serta mempertanggungjawabkan pembangunan – yang kebanyakan berupa infrastruktur fisik. Buruknya kualitas Rencana Anggaran Belanja (RAB), atau bahkan sebuah kegiatan tanpa dilampiri RAB tapi tiba-tiba muncul besaran total biayanya di APB Desa. Akhirnya, pada saat implementasi kegiatan mereka kebingungan karena kurangnya anggaran untuk mata anggaran tertentu. Jumlahnya jauh melampaui anggaran yang memang hanya bersifat estimasi, dan seterusnya.

Alasannya, mayoritas desa tidak memiliki orang teknik yang bisa membuat gambar desain dan menyusun RAB untuk pekerjaan infrastruktur desa. Kalau menurut saya ini bukan alasan, tapi sebuah kenyataan yang sudah lama ada di desa. Pertanyaannya, mengapa hampir 100 persen anggaran pembangunan di desa berorientasi fisik kalau membuat RAB saja tidak bisa ?? Padahal, kegunaan utama Dana Desa seharusnya untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Tapi, sudahlah nasi sudah menjadi bubur. APB Desa tahun 2016 telah ditetapkan dan bahkan telah dijalankan dengan berbagai fakta yang mengikutinya. Tapi akankah kita diam dan tidak berbuat apa-apa? Tentu saja tidak. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Dalam siklus pembangunan desa ada perubahan APB Desa, yang tentu saja harus juga dimulai dari perubahan RKP Desa.

Bagi para pelaku pembangunan dan stakeholder desa, ada beberapa masukan dan saran untuk melakukan langkah-langkah strategis guna melakukan percepatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat untuk tahun anggaran 2016 yang masih tersisa satu semester. Dengan memanfaatkan momentum perubahan APB Desa, kita bisa melakukan hal-hal berikut:

1. Mendorong pengurangan porsi belanja pembangunan infrastruktur fisik (hard infrastructure)

Pengurangan porsi belanja infrastruktur fisik ini dimaksudkan untuk mengurangi kendala yang muncul sebagai akibat kurangnya kapasitas pengelolaan pembangunan fisik di desa. Di sisi lain anggaran ini bisa dialihkan pada mata anggaran untuk belanja infrastruktur non fisik (soft infrastructure). Sesungguhnya, diantara Keduanya (infrastruktur fisik dan non fisik) sama pentingnya dalam mendukung tercapainya kesejahteraan masyarakat. Hal ini bisa mulai dilakukan pada sisa tahun anggaran 2016 melalui mekanisme perubahan APB Desa.

2. Mendorong percepatan pendirian BUMDesa di semua desa

Pendirian BUMDesa mutlak dibutuhkan bagi kemandirian keuangan desa di masa yang akan datang. Di sisi lain, keberadaan BUM Desa akan menjadi pendorong dan penggerak distribusi sumber daya ekonomi desa secara lebih adil, dan mengoptimalkan asset desa secara emansipatoris. Hal ini juga masih mungkin dilakukan melalui mekanisme APB Desa Perubahan di tahun 2016.

3. Mendorong peningkatan kerjasama antar desa

Desa-desa perlu didorong untuk melakukan kerjasama antar desa guna mempercepat dan meningkatkan kualitas pembangunan dan pemberdayan masyarakat desa dengan membentuk kawasan-kawasan perdesaan berdasarkan potensi dan/atau pemecahan masalah kawasan perdesaan sebagaimana bunyi pasal 3 ayat (2) Permendesa PDTT nomor 5 tahun 2016.

Bentuk kongkrit dari kerjasama antar desa ini yaitu dengan membentuk kawasan perdesaan. Untuk rujukan hal ini bisa dipelajari lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan. Salam Desa.

Coba Posting via Email 2016

Kalau ini bisa berjalan tentu akan memudahkan saya memposting tulisan atau foto di blog…

Menggembalakan Kucing

Disadari atau tidak, suka atau tidak suka..sesungguhnya kita semua dalam kehidupan ini adalah seorang penggembala (bocah angon-jawa). Barangkali ini juga menjelaskan mengapa sejarah para Nabi pada awalnya dikisahkan sebagai para penggembala.

Kembali pada realitas kekinian, sesungguhnya hal itupun masih sangat relevan diperbandingkan. Terlebih dalam konteks organisasi – baik sosial, bisnis, keagamaan – dan organisasi terkecil dalam masyarakat yaitu rumah tangga. Ini juga berkaitan dengan konsep kepemimpinan (leadership). Pemimpin organisasi bisa diibaratkan sebagai penggembala bagi para pengikut dan anggotanya.

Jika dahulu, setidaknya sebelum era informasi berkembang sedemikian pesatnya–pemimpin diibaratkan penggembala kambing. Maka ada yang mengidealkan, seorang pemimpin haruslah seperti macan (harimau). Asumsinya, meski kita segerombolan kambing jika dipimpin seekor macan maka akan menjadi pasukan “macan rasa kambing”.

Saat ini, ketika arus informasi sedemikian derasnya dan kapasitas masyarakat terdidik semakin meningkat konsep kepemimpinan juga berubah. Ada yang menyebut bahwa kepemimpinan model demokratis yang berfungsi sebagai fasilitator-lah yang dianggap tepat dengan situasi saat ini.

Terasa sulit untuk mendeskripsikan konsep tersebut, terlebih dalam prakteknya. Terbukti tidak banyak pemimpin diberbagai tingkatan yang cukup merasa sukes memimpin organisasi pada era informasi ini.  Setidaknya ini bisa kita saksikan dan rasakan dalam berbagai level dan tingkatan serta bidang-baik itu sosial, pemerintahan, maupun bisnis.

Untuk bidang terakhir disebut mungkin tidak terlalu menonjol dalam kasus dan wacana ditingkat lokal dan nasional. Bisa jadi karena sifat organisasi mereka yang tertutup, atau bisa juga karena indikator keberhasilan mereka lebih sederhana..profit! Pendapatan yang lebih besar dari pengeluarannya.

Namun, untuk konteks organisasi non profit – termasuk pemerintah – hal tersebut jauh lebih mudah dinilai atau lebih tepatnya lebih banyak yang menilai. Disamping ukuran-ukuran dan indikator keberhasilannya jauh lebih rumit dan melibatkan banyak stakeholder dan kepentingan sehingga akan lebih sulit menentukan level keberhasilan seorang pemimpin.

Lebih spesifik lagi, untuk kasus organisasi publik yang lebih kecil hal ini sering menjadi masalah serius meski tidak banyak yang memperhatikan. Ini terbukti pada organisasi non pemerintah (ornop) yang banyak tumbuh dan tumbang dalam periode yang tidak begitu panjang. Memang ada banyak faktor yang bisa dituding sebagai penyebabnya, namun bahwa ada satu faktor yang kurang begitu dikenali dan diakui yaitu perubahan besar-besaran dalam struktur sosial masyarakat termasuk dalam angkatan kerja produktif saat ini (generasi muda).

Hal tersebut memang tidak lepas dari pengaruh perkembangan informasi yang demikian masif di seluruh dunia, namun ada juga pengaruh dari pergeseran ideologi global. Kapitalisme yang dianggap sebagai ideologi tunggal yang mewarnai dunia paska tumbangnya sosialisme-komunis yang diusung Uni Soviet – juga tengah mengalami pergeseran – dan berdampak pada kondisi sosial masyarakat di seluruh belahan dunia. (Bersambung..)

Posting Pertama Via Android

Sekian lama saya tidak menulis di blog ini, entah sudah berapa tahun. Justru wordpress yang lebih tahu..🙂
Kangen juga rasanya untuk kembali mencurahkan pikiran yang terlintas ke dalam untaian kata di media ini.
Dan baru kali ini saya mencoba menulis di blog ini dengan menggunakan teknik “dua jempol”. Bayangkan, kalau satu jempol saja sudah hebat..bagaimana jika dua jempol sekaligus?! Hehee..kita lihat saja hasilnya.

Satu ons loyalitas…

Satu ons loyalitas sama nilainya dengan satu pound kecerdasan ~ Elbert Hubbard (1856-1915)

Saya cukup tergelitik dengan kutipan di atas yang saya temukan dalam sebuah buku. Akhir-akhir ini, media sering mencatat kata loyal dan loyalis (merujuk pada orang yang bersikap loyal). Dan kata loyalis barangkali paling banyak kita temukan dalam setidaknya dua tahun terakhir berkaitan dengan pemberitaan tentang Anas Urbaningrum. Ya, mantan ketua DPP PD yang baru saja ditahan KPK setelah memenuhi panggilan sebagai tersangka kasus Proyek Hambalang “dan proyek lainnya” itu.

Dan nama loyalis Anas Urbaningrum (AU) yang paling sering disebut barangkali adalah I Gde Pasek Suardika, yang akrab di sapa Pasek. Mantan ketua komisi III yang dilengeserkan akibat keterlibatannya pada ormas bentukan AU (PPI) ini memang paling tampak menonjol sebagai loyalis Anas. Ironisnya lagi, pencopotannya dari jabatan ketua komisi III DPR RI ini juga terkait dengan tudingan atau dianggap tidak loyal pada partai yang mengusungnya menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 (Partai Demokrat).

Pertanyaan menariknya, masihkah diperlukan adanya loyalitas di era sekarang ini? dan seperti apakah bentuk loyalitas yang tepat dalam dunia yang penuh sesak dengan organisasi di masyarakat kita? Dan sepertinya semuanya menuntut loyalitas dari aggotanya…

Jika anda tidak membina pemimpin lain…

Jika anda tidak membina para pemimpin lain, anda harus bekerja lebih keras di bawah tekanan waktu yang lebih sempit – Alan Price

Saya dedikasikan kutipan dari Alan Price dalam bukunya, “Ready To Lead? ini untuk rekan dan kawan semua yang tengah meniti jalan kepemimpinan atau terpaksa harus memimpin baik di dunia bisnis, sosial maupun pemerintahan.

Disharmoni

ketidakharmonisan yang terjadi, akankah kita ingkari lagi?

Relevan Menjadi Tidak Terduga

Menjadi tidak terduga sepertinya sudah menjadi sebuah kebutuhan ketika dunia sudah dianggap jenuh dan membuat orang jengah serta membosankan. Berbagai hal yang sudah menjamur hanya akan dianggap sampah. Cerita yang sama hanya akan membuat orang apatis dan tidak tertarik mendengarnya.

Sungguh berbahaya ketika kita sudah dianggap sebagai orang yang membosankan atau membawa isu-isu yang membuat bosan. Sadar atau tidak, banyak diantara kita yang tejebak menjadi orang yang membosankan. Bikin boring banget…

Orang-orang saat ini banyak yang menunggu hadirnya sesuatu yang “tak terduga”. Inilah fenomena yang membuat Jokowi melenggang menuju DKI 1, keong racun menjadi topik hangat di dunia maya bahkan dunia nyata.

Nah, tantangan terbesar kita untuk membuat orang lain mau mendengar, peduli dan tertarik dengan kita lagi adalah dengan membuat kita menjadi “tidak mudah ditebak” alias tidak terduga. Artinya, kita semua harus lebih kreatif.

Inilah rahasia yang akan saya bagikan di sini !🙂

Salah satu teknik untuk meningkatkan kreativitas kita yaitu dengan membuat hal yang relevan menjadi tidak terduga. Contohnya, jika kita ingin menasehati atau mempengaruhi anak-anak kita dengan nilai-nilai moral yang kita anggap penting, tapi anak sudah membaca dan bahkan sudah menebak arah kata dan sikap kita – segeralah berbelok dan berubah arah. Mereka terpaksa akan mendengar dan memperhatikan kita lagi.

Selamat mencoba !🙂

Kegalauan Masal..

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata galau artinya: sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran).

Nah, jika kata galau tersebut kita kaitkan dengan fenomena di dunia remaja saat ini (bahkan juga yang tua) yang sering mengalami kondisi galau, barangkali arti yang dimaksudkan kemungkinan adalah yang terakhir, yaitu kondisi pikiran kacau tidak karuan.

Dalam kesempatan ini,  saya tidak mau ikut-ikutan galau atau menyalahkan orang yang tengah galau.  Saya akan mencoba mengaitkan fenomena kegalauan masal ini dengan hal lain yang kemungkinan menjadi penyebabnya secara umum.

Menurut sebuah buku yang pernah saya baca, para ahli telah memprediksikan akan hadirnya sebuah era perubahan besar yang dikatakan hampir menyamai perubahan yang terjadi pada 500 tahun yang lalu. Periode perubahan besar itu adalah antara tahun 1970-2020. Artinya, pada periode ini manusia mengalami perasaan terguncang yang demikian hebat dalam hidupnya karena perubahan yang dramatis tersebut.

Pertanyaannya, faktor apa yang menjadi penyebabnya? Para ahli sepakat bahwa perkembangan teknologi (radio, televisi, komputer, pesawat terbang dll) memang telah mengubah hidup manusia secara drastis. Namun, ada satu faktor lagi yang sangat fenomenal yaitu Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan lebih khusus lagi teknologi internet-lah yang dianggap mengguncang peradaban manusia khususnya pada periode tahun 2000-an.

Kalau merujuk pada prediksi di atas maka kegalauan masal ini mungkin akan berakhir kira-kira satu windu lagi – atau tahun 2020. Namun, prediksi ini bisa saja meleset (yah, namanya saja prediksi..), artinya bisa lebih atau justru kurang dari waktu yang telah diperkirakan.

Sayaratnya, menurut saya jika manusia-manusia di bumi sekarang ini mulai menyadari situasi dan kondisi yang tengah dialami bersama di hampir seluruh belahan dunia ini. Yaitu tengah berlangsungnya proses perubahan dunia yang bersifat radikal sehingga mengguncang dan menjungkir-balikkan keadaan dunia kita beserta tatanannya ini.  Dan sudah barang tentu jika hal ini juga berpengaruh pada kondisi psikologis manusia di dalamnya, termasuk kita.

Jadi, inilah sumber kegalauan masal yang kita rasakan bersama, khususnya  dalam 10 tahun terakhir.  Sehingga untuk bisa menghadapi semua itu tanpa kegalauan – atau untuk mengusir kegalauan tersebut – maka kita harus  mulai menyadari dan menerima kenyataan itu terlebih dulu.

Perubahan tidak perlu kita lawan, justru kita harus berdamai dengan keadaan dan perubahan tersebut supaya kita tidak menjadi korbannya.

Untuk bisa bertahan di tengah perubahan, kita tidak perlu menyukai perubahan tersebut. Tapi melawan keadaan yang cenderung chaos ini jelas merupakan tindakan yang sia-sia.

Intinya, kita harus bersahabat dengan perubahan dan mencoba beradaptasi serta mengambil manfaat dari perubahan yang tengah dan terus berlangsung ini.

Apakah penjelasan singkat saya ini bisa mengurangi ataukah justru menambah kegalauan yang tengah anda rasakan..??!

Setidaknya saya berharap, dengan kita menyadari dan menerima keadaan – yang telah saya sampaikan di atas – maka pikiran kita akan menjadi sedikit lebih tenang.  Dan orang yang tenang mestinya tidak akan mengalami kegalauan khan?  :)

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: