pas-brotherhoodIstilah reframing sering juga disebut dengan membingkai ulang isi. Maksudnya adalah proses mengubah pengalaman negative menjadi sesuatu yang positif dengan mengubah makna pengalaman tersebut. Ingatlah bahwa setiap pengalaman atau kejadian memiliki banyak makna. Makna yang kita pilih utnuk kita percayai akan menjadi sesuatu yang nyata bagi kita.

Teknik ini sering digunakan oleh para terapis untuk membantu klien yang mengalami trauma akibat kejadian buruk di masa lalu. Inti dari teknik ini adalah memberi makna baru pada sebuah kejadian di masa lalu ataupun sekarang ini. Misalnya, ada seorang pegawai yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) ditengah sulitnya mencari pekerjaan. Reaksi otomatis yang akan muncul adalah marah, kecewa, sakit hati dan sederet emosi negative lainnya.

Dan menurut para ahli kejiwaan, emosi negative yang sering terjadi inilah yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan seperti yang diharapkannya. Nah, reframing ini tidak mengubah kejadian tersebut – tetapi memberikan makna baru yang pada akhirnya akan memunculkan emosi yang positif dan membangun bagi diri dan juga lingkungan kita. Untuk contoh kasus diatas, reframing-nya bisa menjadi sebagai berikut:

Kejadian:

Di PHK disaat sulit

Reaksi & pengalaman:

Sakit hati, kecewa dll

Bingkai ulang:

  • Ini merupakan langkah awal untuk berwirausaha
  • Saya tidak harus menjadi pegawai sampai tua
  • Dll

Dengan membingkai ulang sebuah pengalaman memang tidak akan mengubah kejadian itu sendiri – akan tetapi yang sedang kita ubah adalah cara kita memaknai pengalaman tersebut menjadi lebih positif dan pada akhirnya akan memunculkan sikap dan tindakan yang positif pula. Dan yang lebih penting lagi kita tidak terus hidup di masa lalu tetapi siap untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

Hal ini bisa diterapkan dalam bidang apa saja, baik bisnis, hubungan keluarga, pertemanan dan bahkan pengalaman yang paling pribadi sekalipun. Untuk ini saya punya sebuah kisah nyata.

Saya memiliki dua orang anak yang masih kecil, satu perempuan (Bita) dan satunya laki-laki (Fawwaz) saat ini berumur tiga tahun lebih, sedangkan kakaknya baru genap enam tahun.

Ceritanya terjadi kurang lebih tiga tahun yang lalu (tepatnya saya lupa). Saya dan anak saya yang pertama mengantarkan keponakan perempuan saya (Dian) yang masih kuliah dan ingin membeli sebuah laptop (notebook). Waktu itu saya bersama dua perempuan, gadis muda dan balita tersebut ke Jogjatronik (anda pasti bisa menebak kotanya khan…?!).

Saya ajak anak gadis saya tersebut melihat-lihat setiap konter penjual computer dan laptop – Tanya sana-sini, minta brosur dan melihat-lihat barangnya.

Akhirnya setelah berputar-putar cukup lama dari satu konter ke konter lainnya, saya memberikan saran pada keponakan saya untuk membeli sebuah laptop warna kuning (merk dirahasiakan..nanti dikira promosi) yang memang dia juga suka, dan saya melihat bentuk dan spesifikasinya lumayan bagus untuk kondisi saat itu. Lengkap dengan web cam, wi-fi dan DVD Writer plus LCD 10” (waktu itu sudah sangat hebat khan..?)

Cerita sebenarnya bukanlah itu, tapi bahwa pengalaman ini ternyata menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi si gadis kecil (anak pertama saya) – dan dia selalu menceritakan hal itu ketika kami melewati toko tersebut yang memang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tentu saja hal ini tidak menyenangkan bagi anak saya yang kecil – yang kebetulan tidak ikut karena masih terlalu kecil untuk saya ajak – pada saat kejadian tersebut.

Dia menunjukkan reaksi tidak senang kalau dalam perjalanan melewati toko tersebut, si kakak langsung menceritakan pengalamannya tanpa bosan-bosannya dan tanpa perasaan bersalah – justru sebaliknya perasaannya seperti menang, tapi saya juga maklum namanya saja anak-anak.

Tentu saja si adik ini menjadi kesal (saya tahu dari sikapnya…!?) tetapi ia dengan cerdasnya mengarang sebuah cerita seolah-olah dia pernah pergi ke toko tersebut bersama kakak sepupunya dan membeli laptop – tanpa mengajak serta si kakak dalam ceritanya. Saya menganggap ini merupakan sebuah penerapan teknik reframing yang bahkan saya yakin anak saya mendengar istilahnya saja belum pernah. Tapi dia telah melakukan hal itu.

Daripada dia kesal setiap kali mendengar cerita dan pengalaman masa lalu yang tidak pernah berubah (mengajak dia menjadi tokoh cerita maksudnya…hehehe) dan harus merasa kalah – ia justru membingkai ulang kejadian tersebut menjadi cerita versinya sendiri. Dan setiap kali kami melewati toko tersebut, dia sigap berdiri dari jok mobil dan melihat ke belakang (biasanya kakak perempuan dan ibunya duduk di jok belakang) dan dengan gagahnya menceritakan pengalaman “belanja imajiner” dengan judul, “Membeli laptop bersama Ayah dan Mbak Dian”. Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana kira-kira cara dia menceritakannya…!? hehehe

Saya (sebagai pelaku sejarah-pun) tidak mampu mengubah alur cerita tersebut sesuai dengan aslinya dan hanya bisa manggut-manggut. Memang ibunya sempat khawatir bahwa ini berbahaya bagi kejiwaannya, tapi saya justru mengatakan sebaliknya, “Imajinasi Lebih Penting Daripada Pengetahuan” – ya, anda benar saya cuma mengutip dari Einstin. Dan toh saat ini ia masih kecil dan bukan kriminal, dan justru tugas kamilah untuk menanamkan nilai-nilai yang berguna bagi dirinya kelak tanpa harus membunuh kreativitas dan imajinasinya.

Karena pikiran anda tidak bisa membedakan kisah nyata atau imajinasi – semuanya adalah nyata dalam dunia pikiran. Membingkai ulang sebuah kisah bisa jadi berguna khan? Tanpa harus mengubah sejarah, kita bisa menyongsong masa depan lebih baik. Dan yang terpenting kita tidak terjebak untuk menyalahkan siapapun dan terperangkap di masa lalu.

Iklan