Cari

Catatan Mister Rigen

Njajah Deso Milang Kori

Tag

leadership; kepemimpinan; manajemen; kepemimpinan bisnis; kepemimpinan sosial; kepemimpinan pemerintahan

Menggembalakan Kucing

Disadari atau tidak, suka atau tidak suka..sesungguhnya kita semua dalam kehidupan ini adalah seorang penggembala (bocah angon-jawa). Barangkali ini juga menjelaskan mengapa sejarah para Nabi pada awalnya dikisahkan sebagai para penggembala.

Kembali pada realitas kekinian, sesungguhnya hal itupun masih sangat relevan diperbandingkan. Terlebih dalam konteks organisasi – baik sosial, bisnis, keagamaan – dan organisasi terkecil dalam masyarakat yaitu rumah tangga. Ini juga berkaitan dengan konsep kepemimpinan (leadership). Pemimpin organisasi bisa diibaratkan sebagai penggembala bagi para pengikut dan anggotanya.

Jika dahulu, setidaknya sebelum era informasi berkembang sedemikian pesatnya–pemimpin diibaratkan penggembala kambing. Maka ada yang mengidealkan, seorang pemimpin haruslah seperti macan (harimau). Asumsinya, meski kita segerombolan kambing jika dipimpin seekor macan maka akan menjadi pasukan “macan rasa kambing”.

Saat ini, ketika arus informasi sedemikian derasnya dan kapasitas masyarakat terdidik semakin meningkat konsep kepemimpinan juga berubah. Ada yang menyebut bahwa kepemimpinan model demokratis yang berfungsi sebagai fasilitator-lah yang dianggap tepat dengan situasi saat ini.

Terasa sulit untuk mendeskripsikan konsep tersebut, terlebih dalam prakteknya. Terbukti tidak banyak pemimpin diberbagai tingkatan yang cukup merasa sukes memimpin organisasi pada era informasi ini.  Setidaknya ini bisa kita saksikan dan rasakan dalam berbagai level dan tingkatan serta bidang-baik itu sosial, pemerintahan, maupun bisnis.

Untuk bidang terakhir disebut mungkin tidak terlalu menonjol dalam kasus dan wacana ditingkat lokal dan nasional. Bisa jadi karena sifat organisasi mereka yang tertutup, atau bisa juga karena indikator keberhasilan mereka lebih sederhana..profit! Pendapatan yang lebih besar dari pengeluarannya.

Namun, untuk konteks organisasi non profit – termasuk pemerintah – hal tersebut jauh lebih mudah dinilai atau lebih tepatnya lebih banyak yang menilai. Disamping ukuran-ukuran dan indikator keberhasilannya jauh lebih rumit dan melibatkan banyak stakeholder dan kepentingan sehingga akan lebih sulit menentukan level keberhasilan seorang pemimpin.

Lebih spesifik lagi, untuk kasus organisasi publik yang lebih kecil hal ini sering menjadi masalah serius meski tidak banyak yang memperhatikan. Ini terbukti pada organisasi non pemerintah (ornop) yang banyak tumbuh dan tumbang dalam periode yang tidak begitu panjang. Memang ada banyak faktor yang bisa dituding sebagai penyebabnya, namun bahwa ada satu faktor yang kurang begitu dikenali dan diakui yaitu perubahan besar-besaran dalam struktur sosial masyarakat termasuk dalam angkatan kerja produktif saat ini (generasi muda).

Hal tersebut memang tidak lepas dari pengaruh perkembangan informasi yang demikian masif di seluruh dunia, namun ada juga pengaruh dari pergeseran ideologi global. Kapitalisme yang dianggap sebagai ideologi tunggal yang mewarnai dunia paska tumbangnya sosialisme-komunis yang diusung Uni Soviet – juga tengah mengalami pergeseran – dan berdampak pada kondisi sosial masyarakat di seluruh belahan dunia. (Bersambung..)

Jika anda tidak membina pemimpin lain…

Jika anda tidak membina para pemimpin lain, anda harus bekerja lebih keras di bawah tekanan waktu yang lebih sempit – Alan Price

Saya dedikasikan kutipan dari Alan Price dalam bukunya, “Ready To Lead? ini untuk rekan dan kawan semua yang tengah meniti jalan kepemimpinan atau terpaksa harus memimpin baik di dunia bisnis, sosial maupun pemerintahan.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: