Satu ons loyalitas sama nilainya dengan satu pound kecerdasan ~ Elbert Hubbard (1856-1915)

Saya cukup tergelitik dengan kutipan di atas yang saya temukan dalam sebuah buku. Akhir-akhir ini, media sering mencatat kata loyal dan loyalis (merujuk pada orang yang bersikap loyal). Dan kata loyalis barangkali paling banyak kita temukan dalam setidaknya dua tahun terakhir berkaitan dengan pemberitaan tentang Anas Urbaningrum. Ya, mantan ketua DPP PD yang baru saja ditahan KPK setelah memenuhi panggilan sebagai tersangka kasus Proyek Hambalang “dan proyek lainnya” itu.

Dan nama loyalis Anas Urbaningrum (AU) yang paling sering disebut barangkali adalah I Gde Pasek Suardika, yang akrab di sapa Pasek. Mantan ketua komisi III yang dilengeserkan akibat keterlibatannya pada ormas bentukan AU (PPI) ini memang paling tampak menonjol sebagai loyalis Anas. Ironisnya lagi, pencopotannya dari jabatan ketua komisi III DPR RI ini juga terkait dengan tudingan atau dianggap tidak loyal pada partai yang mengusungnya menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 (Partai Demokrat).

Pertanyaan menariknya, masihkah diperlukan adanya loyalitas di era sekarang ini? dan seperti apakah bentuk loyalitas yang tepat dalam dunia yang penuh sesak dengan organisasi di masyarakat kita? Dan sepertinya semuanya menuntut loyalitas dari aggotanya…

Iklan