Cari

Catatan Mister Rigen

Njajah Deso Milang Kori

Akuntansi Sebagai “Bahasa B”

Bahasa PemrogramanSaya tertarik untuk  menuliskan judul ini setelah sekian lama “tidak lagi terlalu suka” membicarakan akuntansi. Ada banyak sebab mengapa beberapa waktu lalu saya tidak lagi suka – dan sempat meninggalkan dunia akuntansi (padahal dari sanalah saya berasal). Salah satu sebabnya karena akuntansi masih “belum dianggap” bermanfaat oleh dunia bisnis dan juga organisasi lainnya (pemerintah atau organisasi nirlaba) di Indonesia tercinta ini.

Memang, ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Namun, beberapa faktor penyebab itu sekarang telah berubah. Sehingga mestinya  akuntansi bisa menjadi lebih bermanfaat dan populer di kalangan masyarakat ekonomi dan organisasi dewasa ini.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang akuntansi, saya coba kutipkan salah satu definisi berikut ini.  Menurut Al. Haryono Yusup dalam buku Dasar-dasar Akuntansi 1 disebutkan definisi akuntansi sebagai sistem informasi sebagai berikut:

“Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, mengolah data menjadi laporan, dan mengomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan”.

Oleh karena itu, akuntansi juga disebut “bahasa bisnis” karena dengan akuntansi sebagian besar informasi bisnis dikomunikasikan.

Kembali pada soal minat saya membicarakan akuntansi, pertama karena ada kemungkinan perkembangan praktik-praktik baru dalam dunia akuntansi sejalan dengan lahirnya standar baru yang ditetapkan pemberlakuannya oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) pada 2011 lalu, yaitu SAK-ETAP (Standar Akuntansi Keuangan-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik).

Yang konon katanya ini merupakan adopsi dari IFRS for SME atau kalau diterjemahkan secara bebas berarti, “standar laporan keuangan untuk usaha kecil dan menengah”.  Jika selama ini Indonesia hanya punya SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang bersifat umum dan kurang tepat diterapkan pada usaha kecil dan menengah, dengan hadirnya SAK-ETAP tentunya bisa menjadi angin segar.

Nah, itu dia salah satu hal yang membuat saya berbunga-bunga 🙂

Bukan apa-apa, tapi karena selama ini saya sendiri peduli dan banyak bergelut dan berkecimpung dalam dunia usaha kecil dan menengah. Tak salah jika saya berharap besar bahwa hal itu akan membawa perubahan yang berarti dan bermanfaat untuk UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di negri ini.

Sebab yang kedua, saat ini saya kembali ke kampus dan mengajar mata kuliah dasar akuntansi. Dan menariknya lagi bahwa kelas yang saya ajar adalah mahasiswa Manajemen Informatika (MI) dan Sistem Informatika (SI).

Ini dia hal yang membuat saya sangat bersemangat !!

Selama ini akuntansi sudah diidentikkan dengan rutinitas kegiatan klerikal yang menjengkelkan dan berkesan manual, bahkan mungkin dianggap “jadul” .  Seolah jauh sekali dengan tren saat ini khususnya dunia TI,  komputer atau sistem informasi lainnya yang tampak sangat canggih (hi-tech).

Sayangnya kecanggihan itu masih lebih banyak dinikmati kalangan multimedia dan para penikmatnya atau kalaupun ada dari dunia bisnis, masih banyak yang berasal dari kalangan korporasi atau perusahaan besar yang mendapat manfaatnya. Usaha kecil dan menengah? masih jauh. Paling banter pengusaha kecil memiliki atau membelikan laptop atau netbook untuk anaknya yang sekolah atau kuliah. Atau ada beberapa PC di perusahaan tapi masih belum berfungsi optimal.

Usaha kecil yang sudah sangat merasakan manfaat TI barangkali baru sebatas retailer (pengecer) modern seperti mini market, apotik dan bengkel. Itupun prosentasenya masih sangat kecil jika dibandingkan secara keseluruhan dari jumlah usaha kecil yang ada. Hal ini salah satunya disebabkan masih minimnya inovasi dalam perangkat lunak (software ) yang dapat membantu pengusaha kecil untuk pemanfaatan teknologi komputasi sesuai dengan bisnisnya.

Padahal, sesungguhnya komputer menyimpan potensi luar biasa sebagai sebuah mesin logika dan mesin hitung. Khususnya untuk membantu kerja-kerja usaha kecil dan menengah agar lebih efisien dan efektif. Utamanya untuk menangani pekerjaan operasi logika, perhitungan dan matematika yang berulang bahkan rumit dengan frekuensi tinggi.  Yang jika hal ini dikerjakan oleh manusia, lebih sering mengalami “error” atau malah “hang”.  🙂

Sayangnya, di sekitar kita saat ini komputer (atau laptop dan netbook) masih banyak yang baru difungsikan sebagai alat yang menggantikan kalkulator untuk menghitung, atau menggantikan mesin ketik untuk menulis.

Sayangnya lagi..orang-orang yang berlatar-belakang ilmu komputer dan pemrograman sepertinya “ogah” belajar akuntansi. Dan orang akuntansi sendiri (termasuk saya) banyak juga yang enggan dan sulit belajar pemrograman komputer. Sehingga, orang yang tahu akuntansi tidak bisa menerjemahkan dalam bahasa komputer dan orang komputer tidak faham akuntansi. Hal ini tentunya harus dicarikan solusi dan jalan tengahnya.

Dan salah satu usaha tersebut dalam dunia akademik yaitu dengan mengenalkan dasar akuntansi pada anak-anak TI (MI, SI dll). Meski hasilnya masih belum terlalu menggembirakan.

Saya jadi terpikir untuk menyebut “akuntansi” khususnya bagi kalangan TI dengan sebutan “Bahasa B”. Ini barangkali akan bisa membuat mahasiswa TI  lebih familiar, berminat dan termotivasi untuk belajar akuntansi.  Dan pada akhirnya, dari mereka kita bisa berharap akan lahir banyak inovasi-inovasi  perangkat lunak (software) dalam bidang akuntansi dan bisnis yang lebih bermanfaat untuk usaha kecil dan menengah.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, dalam dunia TI ada bahasa pemrograman yang sudah begitu terkenal dikalangan programmer di hampir seluruh belahan dunia yaitu bahasa C dan C++.

Kalau mahasiswa bersemangat belajar bahasa C dan C++, apalagi belajar bahasa B atau malah B++ ??!

Mungkin nggak sich…???! 🙂

(Kepada para pembaca kami persilahkan untuk mengikuti pooling dibawah ini jika berkenan. Namun mohon maaf, tidak ada hadiah atau imbalan apapun bagi peserta pooling ini). 🙂

Organisasi dalam Islam

Beberapa periode terkahir ini masyarakat kita sudah sangat familiar dengan istilah organisasi. Baik itu berupa organisasi bisnis, organisasi sosial dan kemasayarakatan, sosial-politik dan keagamaan – dan bahkan organisasi pemerintahan dan militer. Dalam beberapa tahun terakhir – khususnya setelah era reformasi bergulir di Indonesia ini – ada semacam pendikotomian antara sipil dan militer, termasuk dalam bidang organisasi.

Organisasi militer masih dianggap lebih efektif dibandingkan organisasi sipil (non militer) pada umumnya. Itu sebabnya, bahkan ilmu manajemen bisnis modern-pun lebih banyak mengadopsi konsep-konsep dari militer. Sayangnya, karena adanya anggapan sifat otoriter pada organisasi militer oleh beberapa kalangan, hal ini menyebabkan sikap antipati pada hal-hal yang berbau “militer” – dan cenderung mendikotomikan dengan hal-hal yang bersifat “sipil”. Hal ini juga berlaku dalam soal politik dan pemerintahan khususnya era reformasi.

Lepas dari hal tersebut diatas, ijinkan saya mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud sebagai berikut,

“Ketika tiga orang atau lebih pergi dalam satu perjalanan, pilih seorang pemimpin di antara kamu.” (HR. Abu Dawud)

Hal ini menunjukkan pentingnya organisasi dalam setiap aktifitas kehidupan yang melibatkan tiga orang atau lebih. Dan ini tentu sudah banyak difahami oleh masyarakat secara umum. Hanya saja, dalam praktek berorganisasi masih saja ditemukan ketidakefektifan dan in-efisiensi. Baik dalam bisnis maupun sosial dan pemerintahan. Tidak perlu dibahas panjang-lebar tetapi ada satu kalimat yang bisa menjelaskan dengan gamblang bahwa hal semacam itu disebut salah-kelola, mis-manajemen dan istilah lain yang sejenis. Maksudnya, pengelolaan organisasi yang tidak tepatlah yang dituding sebagai penyebab rendahnya efektifitas dan efisiensi.

Oleh sebab itu, ijinkan saya mengingatkan satu hal yang seringkali sudah dianggap terlalu jelas oleh banyak orang, yaitu pentingnya manajemen dalam berbagai bdiang kehidupan kita terlebih dalam organisasi formal – baik bisnis maupun sosial dan pemerintahan – yang tentunya melibatkan banyak orang di dalamnya.

Ini bukan berarti bahwa kita punya “kambing hitam” yang baru atas berbagai persoalan yang ada ditengah masyarakat kita dewasa ini. Bahwa pemerintahan, bisnis dan lembaga sosial yang tidak efektif dan efisien adalah akibat salahnya “si manajemen”. Manajemen hanyalah sebuah konsep artifisial, bukan makhluk hidup yang nyata yang bisa disalahkan dan lantas membela diri. Maka, jika kita ingin melihat keadaan yang lebih baik, saatnyalah kita melakukan evaluasi atas apa saja yang telah dilakukan oleh orang yang berada di balik istilah manajemen dan dampaknya terhadap kehidupan kita yang nyata tapi fana ini.

Manusia-lah yang telah ditunjuk Tuhan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini. Dan sorga atau neraka sebagai imbalan atau hukuman itu diperuntukkan bagi makhluk hidup – bukan bagi barang-barang atau benda mati, konsep-konsep dan hewan. Saya rasa kita bisa sepakat bahwa organisasi bukanlah makhluk hidup, dan tidak akan memperoleh imbalan atau hukuman (masuk sorga ataupun neraka) karena tindakannya. Tidak peduli itu organisasi sipil atau militer, bisnis atau sosial, politik ataupun agama.

Refleksi Tentang Kepemimpinan Model VVC Plus

Barangkali tidak ada waktu yang lebih tepat daripada saat ini, disini dan dari saya sendiri untuk memulai sebuah refleksi. Alasannya, adanya momentum prahara politik di partai demokrat, bencana dan pemulihannya di seputar Merapi – khususnya di kabupaten Magelang – dimana sekarang saya tinggal. Dan bertepatan pula dengan akan hadirnya bulan suci Ramdhan yang tinggal hitungan hari.

Tentu saja hampir semua orang mengetahui bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa dimulai dari diri kita sendiri. Untungnya, (maklum orang Jawa – selalu saja untung) saya menyadari hal ini sebelum perjalanan yang saya tempuh terlampau jauh, atau umur ini terlalu tua untuk bisa merubah diri dan kebiasaan demi menyesuaikan diri dengan tantangan yang kita hadapi di era globalisasi ini.

Setidaknya 10 tahun sudah saya belajar tentang hidup dan kehidupan yang sesungguhnya, karir dan pekerjaan, serta manajemen dan kepemimpinan – baik di rumah tangga maupun di organisasi dan masyarakat. Tidak cukup lama memang, tetapi setidaknya saya telah mendapatkan beberapa pelajaran berharga selama kurun waktu yang singkat tersebut.

Jika mengadopsi konsep kepemimpinan model VVC Plus (Vision, Value and Courage) dari Neil Snyder, James J. Dowd Jr, dan Diane Morse Houghton seperti disitir Prof. Djoko Moelyono dalam bukunya, Beyond Leadership setidaknya saya telah mendapatkan pembelajaran untuk ketiganya.  Saya belajar tentang visi – baik pribadi maupun organisasi – sebagai bekal menatap masa depan dengan cara lebih baik. Setidaknya ini tidak terlalu sulit bagi saya yang bahkan kata teman-teman – dengan nada guyon tentu saja – sering dianggap pikiran saya terlalu nggladrah (Jawa: liar). Saya tidak akan protes dan membantah, karena yang saya fahami bahwa visi itu memang soal pandangan tentang masa depan – yang saat ini memang belum ada. Batasnya sangat tipis dengan khayalan atau mimpi.

Yang kedua, soal value atau nilai-nilai. Ini jauh lebih sulit untuk saya fahami apalagi dalam praktiknya, khususnya jika berbicara soal nilai moral dan etika. Jujur saja, sulit mencari contoh yang tepat dari kehidupan yang sesungguhnya. Dari pemimpin terkecil, yaitu yang memimpin diri sendiri hingga pemimpin tertinggi bangsa dan negara ini. Sulit mengambil model yang tepat bagi penerapan prinsip kepemimpinan ber-etika ini.

Nilai-nilai moral dan etika adalah salah satu ajaran manajemen yang penting, namun banyak dilupakan orang – bahkan jarang yang tertarik untuk mempelajarinya – apalagi mempraktikkannya dalam kehidupan pribadi maupun organisasi dan masyarakat atau komunitas. Itulah kesulitan yang harus dihadapi seorang pembelajar ketika berminat untuk mempelajari atau menerapkannya. Sangat sedikit contoh tentang penerapan etika dalam kepemimpinan – terlebih untuk 10 hingga 15 tahun terakhir ini.

Tetapi setidaknya lebih mudah bagi saya jika dibandingkan Pak SBY atau Anas Urbaningrum (mungkin perbandingan ini terlalu berlebihan) yang justru harus memberi contoh bagi bangsa ini dan lebih terbatas lagi mencari model yang akan dijadikan panutan – kecuali harus menemukan sendiri – dan memang sudah seharusnya demikian.

Yang terakhir, ini jauh lebih sulit lagi. Soal keberanian (courage) bagi seorang pemimpin, bahkan hampir tidak ada rujukan ilmu pengetahuan atau resep ampuh yang bisa diterapkan secara langsung. Ini hanya bisa didapatkan dengan cara mencoba dan melakukan (learning by doing). Dan saya merasa beruntung karena telah memperoleh kesempatan untuk mempelajari dan menerapkan ketiganya hanya dalam waktu 10 tahun terakhir. Itu barangkali menjelaskan mengapa saat ini banyak pemimpin dalam berbagai bidang dan level telah kehilangan integritas karena mengabaikan etika.

Kalau soal nilai keberanian (courage) ini barangkali saya beruntung mendapat fasilitas dari Tuhan, berupa kesempatan menemui berbagai tantangan yang dapat menguji kedua prinsip kepemimpinan tersebut diatas – pada saat umur saya masih cukup muda. Mungkin akan berbeda halnya jika saya mendapat kesempatan yang sama pada saat usia saya menginjak 40 tahun atau lebih, barangkali akan berbeda cerita akhirnya.

Tetapi satu hal yang saya fahami bahwa keberanian itu bukan muncul karena badan kita besar, fisik yang kuat, percaya diri yang tinggi, cerdas dan terampil serta kompeten dalam berbagai bidang. Keberanian tumbuh dari nilai-nilai dan keyakinan tentang kebaikan atau kebenaran. Dan tidak ada yang berani mengatakan bahwa para pemberani itu tidak punya rasa takut. Bahkan pemimpin terbesar dalam sejarah bisa saja gemetar dan berkeringat dingin, gelisah tak bisa memejamkan mata semalaman hanya karena harus mengambil sebuah keputusan. Terlebih keputusan yang akan berdampak pada banyak orang.

Tak ada Jendral, Kopral-pun Jadi !

Ini memang diadaptasi dari sebuah peribahasa, yang saya yakin hampir semua orang tahu apa artinya – karena begitu populernya. Namun kali ini saya ingin menggunakannya dalam kerangka yang lebih spesifik, yaitu soal kepemimpinan..khususnya di daerah.

Seperti kita ketahui bersama, selalu ada pemimpin formal & juga informal di kehidupan kita. Seperti halnya di Magelang, yang saat ini sepertinya tengah mengalami krisis kepemimpinan informal. Hal ini bisa disimak dengan fakta-fakta meninggalnya banyak tokoh-tokoh senior dalam bidang agama (kyai, dll) yang terjadi di Magelang secara beruntun sebelum dan sesudah erupsi Merapi 2010 lalu. Celakanya, hal ini bertumbukan dengan dampak erupsi Merapi yang bisa disebut terbesar dalam abad ini.

Sehingga memang tampak sekali kegamangan masyarakat dan bahkan pemerintah daerah dalam menghadapi dan menyikapi berbagai dampak akibat letusan eksplosif Merapi yang puncaknya terjadi 5 November 2010 lalu.

Bahkan, dikalangan aktifis masyarakat sipil (baca LSM dan ormas) juga terjadi hal yang tidak jauh berbeda. Terjadi situasi mirip anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung harus mengikuti siapa dan kemana akan melangkah. Ini memang wajar terjadi dimanapun – seperti halnya pasukan yang baru saja ditinggalkan sang jendral.

Namun, “pertempuran” tidak boleh berhenti hanya karena tidak adanya Sang Jendral ditengah-tengah pasukan. Harus ada yang maju menggantikannya, meski dia bukanlah Jendral sekalipun. Umumnya, para Jendral memang sudah mempersiapkan penggantinya jauh-jauh hari..dan itu sudah menjadi naluri seorang Jendral sejati. Hanya saja tidak semua Jendral dengan terang-terangan mengatakan pada ajudannya bahwa dia sedang dipersiapkan sebagai calon Jendral dimasa yang akan datang.

Akan tetapi, rencana manusia selalu saja tinggal rencana..Tuhan jualah yang menentukan. Ada kalanya sang Jendral belum menemukan calon yang akan dipersiapkan sebagai penggantinya namun keburu mangkat. Jika ini yang terjadi maka seharusnyalah para ajudan Jendral dan kolonel segera berembug untuk mengangkat salah seorang dari mereka sebagai Jendral yang baru.

Dan jika tidak ada perwira tinggi maupun menengah yang tersedia, maka Kopral-pun jadilah. Namun, harus juga disadari oleh semua orang bahwa dia hanyalah seorang KopJen (Kopral Jendral). Artinya, jangan juga kemudian disandangkan padanya beban dan harapan yang sama seperti terhadap pada Sang Jendral. Di sisi lain, Si KopJen ini juga harus segera menyesuaikan diri dengan tuntutan peran barunya. Jangan harap, meski sudah berbaju Jendral lantas akan memiliki kekuatan dan keahlian sama seperti pendahulunya.

Sekali lagi, Tak ada Jendral Kopral-pun jadi..! syaratnya kalau kita menyadari dan mau bersepakat !?

Seperti Menggembala Kucing…

Kalimat tersebut saya baca dari sebuah buku berjudul, “Communicate or Die” (ngeri dech…?!) karangan Thomas D. Sweifel seorang konsultan dari Swiss Consulting Group. Dia menggambarkan dengan sangat jelas tentang situasi dan kondisi masyarakat – khususnya dalam berbagai organisasi saat ini – baik sosial, bisnis maupun pemerintahan bahkan organisasi agama yang cenderung sedang mengalami tekanan dan “kesakitan luar biasa” akibat perubahan global yang tengah berlangsung sekarang ini.

Kebetulan juga saat ini saya pribadi tengah mencoba belajar kembali membangun hubungan dengan kucing. Ya, anda tidak salah membaca..yang saya maksudkan adalah soal memperlakukan kucing yang sesungguhnya – yang akhir-akhir ini tengah menjadi masalah bagi saya – setelah sekian lama saya “tidak lagi” menyukai kucing. Untuk cerita asal-muasalnya, silahkan anda baca tulisan saya yang ini !

Saya menjadi tertarik memperhatikan perilaku kucing, setelah membaca buku tersebut. Relasinya sangat jelas, karena dalam buku tersebut Thomas menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar kepemimpinan abad ini adalah dalam hal cara memperlakukan anak buah, anggota atau siapapun yang kita pimpin – bahkan barangkali termasuk juga anak-anak di keluarga kita – dan kesuksesan kepemimpinan. Dia menyebut bahwa pemimpin – bisnis, sosial bahkan organisasi non bisnis lainnya – saat ini dianalogikan seperti menggembala kucing.

Secara cepat saya menyimpulkan bahwa hal itu tentu sangatlah tidak mudah. Jika yang dimaksud pemimpin itu seperti penggembala kambing..maka saya dengan bangga mungkin akan segera meng-klaim bahwa saya mampu! karena setidaknya saya punya pengalaman menggembala kambing (sebagaimana lazimnya anak-anak lain di kampung saya dulu). Tetapi begitu disebutkan pemimpin saat ini seperti penggembala kucing…maka lemaslah saya !??

Belum pernah saya punya pengalaman menggembalakan seekor, apalagi banyak kucing sekaligus – meski dulu pernah memelihara dan menyukai kucing. Tetapi begitulah yang disebut Thomas dan sayapun mengamini setelah merenungkan kembali apa yang saya baca dalam buku tersebut. Dan tentu saja dengan merefleksikan kembali pengalaman masa lalu memelihara kucing – sekaligus saya bandingkan dengan situasi saat ini – dimana saya disibukkan dengan perilaku kucing di rumah yang disenangi anak-anak sedangkan saya sendiri risih, disamping trauma masa lalu yang belum sepenuhnya hilang terhadap kucing.

Namun, pada akhirnya saya harus menyadari bahwa lingkungan masyarakat dan organisasi kita saat ini memang tengah menjadi seperti yang digambarkan oleh Thomas tersebut. Organisasi dimana-mana saat ini berisi “kucing-kucing” dan bukan lagi “kambing-kambing” yang menurut saja digiring kemana saja si penggembala menghendakinya.

Tetapi sekali lagi, mereka adalah kucing-kucing dan bukannya macan yang tangguh dan siap bertempur berebut daging segar. Artinya, mereka tidak atau belum sepenuhnya siap diberikan tanggung jawab sepenuhnya – tapi juga tidak mau lagi diatur layaknya kambing. Dan diantara kucing-kucing tersebut ada kucing rumahan yang jinak dan lucu (meski tetap saja sulit dipahami), tetapi ada juga kucing garong yang suka membuat gaduh dan suaranya bising.

Akhirnya, saya sendiri “terpaksa” harus memperhatikan dan mempelajari perilaku kucing (di rumah) agar dapat memperlakukannya dengan benar – sehingga tidak harus ribut dengan anak-anak yang suka bermain dengan kucing tersebut – dan saya bisa tetap hidup berdampingan dengan kucing tanpa harus menjadi frustasi – seperti dinukil oleh Thomas D. Sweifel dalam bukunya tersebut di atas.

Kepada para pemimpin dimanapun dan level apapun saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat Menggembalakan Kucing !” ..dan semoga sukses.

Ya Sudah lah…

Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah

Itulah sepenggal bait lagu yang dilantunkan oleh Bondan and Fade to Black. Awalnya saya tidak begitu peduli, dan bingung ketika banyak orang yang menyanyikannya. Bahkan anak saya yang berumur 4 (empat) tahun juga seringkali mendendangkannya.

Lama-kelamaan saya juga ikut menyukai lagu tersebut..terlebih setelah Pak Djalal (Tokoh dalam sinetron Para Pencari Tuhan) juga sempat menyayikan sebait lagu tersebut. Namun, saya tidak begitu tahu kalau ternyata lagu yang awalnya tampak pesimis dan apatis tersebut ternyata diujungnya menyimpan sya’ir yang memotivasi kita untuk tetap bertahan dalam berbagai situasi.

Akhirnya saya menjadikan lagu tersebut sebagai ringtone di HP saya. Meski untuk menghapal syair-nya hingga saat ini belum juga bisa. Tapi yang jelas saya masih menyukai lagu tersebut sampai sekarang.

Janganlah kau bersedih, “cause everything gona be OK..”

Seperti peribahasa, Anak ayam mati di lumbung padi

Itulah penggalan kata-kata yang sering saya ucapkan kepada kawan dan orang yang bertanya, “Mengapa Indonesia jadi seperti ini? Mengapa Magelang jadi seperti itu? dan mengapa Cilacap jadinya seperti yang sedang berlangsung?”. Ini memang tak lepas dari berbagai situasi yang sudah dan terus berlangsung di negri ini berkaitan dengan sumber daya alam yang melimpah di negri yang digambarkan sebagai negri makmur yang jadi impian banyak penduduk bumi ini.

Peribahasa itu dengan tepat menggambarkan situasi negri yang melimpah dengan sumber daya alam ini — dimana secara kontras terlihat jika diperbandingkan dengan kondisi kemiskinan masyarakatnya. Sungguh sebuah ironi, tetapi ini sungguh-sungguh terjadi..!?

Dan yang lebih memprihatinkan dan memiriskan hati lagi adalah realita bahwa hal demikian, yang dulu hanya berlangsung dalam level tinggi (pemerintah pusat) namun dalam skala yang lebih sempit. Ironisnya sekarang justru terjadi di level yang lebih rendah dengan skala yang lebih luas. Hal ini terjadi di tataran propinsi, kabupaten dan bahkan desa. Eksploitasi sumber daya alam dengan pengabaian terhadap hak-hak umum dan keseimbangan alam serta lingkungan.

Rasanya tak perlu lagi saya menyampaikan berbagai data dan informasi serta analisis soal dampak lingkungan, ekonomi dan sosial yang timbul akibat praktek-praktek semacam itu. Urjensinya disini adalah, bagaimana kita menyadarkan segera masyarakat dan pemangku kebijakan lokal (pemda, pemdes) dan stakeholder pembangunan lainnya terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam dengan lebih baik.

Dan di era demokratisasi dan otonomi daerah ini, hal yang demikian tidak lagi hanya bisa dipasrahkan pada pemerintah pusat dan daerah semata. Karena terbukti, gubernur dan bupati sudah tidak selalu menurut dan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat–yang pada kenyataannya juga belum sepenuhnya bisa dianggap sebagai kebijakan yang bertanggung jawab. Ini memang bagian dari dampak ketidakefektifan demokrasi yang berjalan di negri ini.

Kesimpulannya, dibutuhkan dua pendekatan sekaligus yaitu advokasi kebijakan yang mendukung dan juga pemberdayaan (co-powerment bukan lagi empowerment) bagi pemerintah daerah, pemerintahan desa dan juga unsur masyarakat sipil lainnya, termasuk masyarakat itu sendiri. Atau dengan kata lain, dibutuhkan pendekatan kekuatan keras (hard power) dan kekuatan lunak (soft power). Apakah ini pekerjaan mudah? tentu saja tidak ada yang mengatakan demikian. Namun, dengan kesadaran tersebut, maka selayaknyalah jika semua pihak harus peduli, mengingat demikian besarnya tantangan tersebut.

Sebagai inspirasi kita bisa mencontoh dua negara yang tengah menjadi motor Asia, yaitu China dan India. Jika China menekankan pada penggunaan hard power, sebaliknya India justru lebih dominan menggunakan soft power. Dan kita juga bisa melihat hasilnya, dan yang lebih penting adalah belajar dari keduanya. Demokrasi India yang sangat menghargai hak individu dan ketegasan China dalam mengedepankan kepentingan kolektif.

Mestinya Indonesia bisa mengadopsi dan menggabungkan keduanya, seperti pengalaman para pendahulu kita yang mampu menggubah wayang yang notabene berasal dari India dan disisi lain memiliki budaya dagang yang ditularkan oleh China.

Kita adalah bangsa Indonesia, kita bukan India dan juga bukan China. Jatidiri inilah yang harus kita temukan kembali setelah sekian lama terjubur dalam hiruk-pikuk pembangunan orde baru dan euforia demokrasi era reformasi.

Masalah Para Pekerja Pengetahuan (Knowledge Worker)

Cukup lama saya tidak menyentuh blog ini, untuk sekedar meng-update tulisan yang niatnya akan saya bagikan kepada siapapun yang kebetulan lewat dan mampir di sini. Namun, lebih dari itu sebenarnya lebih untuk menyimpan ide dan lontaran pikiran agar tidak hilang begitu saja. Maklum, meski terkadang belajar untuk mencatat baik dalam memo maupun buku agenda – hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan pemikiran – namun seringkali catatan itu hanya hilang begitu saja entah kemana.

Inilah salah satu masalah yang menimpa para pekerja pengetahuan, yang menurut definisi umumnya disebut sebagai “pekerja yang lebih banyak menggunakan kekuatan pikiran dan pengetahuan dibandingkan ketrampilan fisiknya”. Masalah lainnya tentu saja banyak..tapi yang paling menonjol adalah soal pengelolaan waktu (time management). Saya tak harus malu untuk mengakui bahwa kesulitan terbesar adalah mengatur waktu dan disiplin dengan berbagai aktifitas yang seringkali ternyata dihamburkan dengan tidak ada hasilnya.
Continue reading “Masalah Para Pekerja Pengetahuan (Knowledge Worker)”

Motivasi adalah penggerak utama manusia!…

Motivasi adalah penggerak utama manusia! Masalahnya hanya, tidak semua orang termotivasi hanya dengan kata-kata, yel-yel, ataupun contoh yang baik saja!? Itu sebabnya bagi masyarakat awam, tidak cukup dengan petuah bijak, mimpi-mimpi indah, peningkatan pengetahuan..tapi diperlukan juga bantuan yang bersifat materi untuk memotivasi.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: