Bahasa PemrogramanSaya tertarik untuk  menuliskan judul ini setelah sekian lama “tidak lagi terlalu suka” membicarakan akuntansi. Ada banyak sebab mengapa beberapa waktu lalu saya tidak lagi suka – dan sempat meninggalkan dunia akuntansi (padahal dari sanalah saya berasal). Salah satu sebabnya karena akuntansi masih “belum dianggap” bermanfaat oleh dunia bisnis dan juga organisasi lainnya (pemerintah atau organisasi nirlaba) di Indonesia tercinta ini.

Memang, ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Namun, beberapa faktor penyebab itu sekarang telah berubah. Sehingga mestinya  akuntansi bisa menjadi lebih bermanfaat dan populer di kalangan masyarakat ekonomi dan organisasi dewasa ini.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang akuntansi, saya coba kutipkan salah satu definisi berikut ini.  Menurut Al. Haryono Yusup dalam buku Dasar-dasar Akuntansi 1 disebutkan definisi akuntansi sebagai sistem informasi sebagai berikut:

“Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, mengolah data menjadi laporan, dan mengomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan”.

Oleh karena itu, akuntansi juga disebut “bahasa bisnis” karena dengan akuntansi sebagian besar informasi bisnis dikomunikasikan.

Kembali pada soal minat saya membicarakan akuntansi, pertama karena ada kemungkinan perkembangan praktik-praktik baru dalam dunia akuntansi sejalan dengan lahirnya standar baru yang ditetapkan pemberlakuannya oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) pada 2011 lalu, yaitu SAK-ETAP (Standar Akuntansi Keuangan-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik).

Yang konon katanya ini merupakan adopsi dari IFRS for SME atau kalau diterjemahkan secara bebas berarti, “standar laporan keuangan untuk usaha kecil dan menengah”.  Jika selama ini Indonesia hanya punya SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang bersifat umum dan kurang tepat diterapkan pada usaha kecil dan menengah, dengan hadirnya SAK-ETAP tentunya bisa menjadi angin segar.

Nah, itu dia salah satu hal yang membuat saya berbunga-bunga 🙂

Bukan apa-apa, tapi karena selama ini saya sendiri peduli dan banyak bergelut dan berkecimpung dalam dunia usaha kecil dan menengah. Tak salah jika saya berharap besar bahwa hal itu akan membawa perubahan yang berarti dan bermanfaat untuk UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di negri ini.

Sebab yang kedua, saat ini saya kembali ke kampus dan mengajar mata kuliah dasar akuntansi. Dan menariknya lagi bahwa kelas yang saya ajar adalah mahasiswa Manajemen Informatika (MI) dan Sistem Informatika (SI).

Ini dia hal yang membuat saya sangat bersemangat !!

Selama ini akuntansi sudah diidentikkan dengan rutinitas kegiatan klerikal yang menjengkelkan dan berkesan manual, bahkan mungkin dianggap “jadul” .  Seolah jauh sekali dengan tren saat ini khususnya dunia TI,  komputer atau sistem informasi lainnya yang tampak sangat canggih (hi-tech).

Sayangnya kecanggihan itu masih lebih banyak dinikmati kalangan multimedia dan para penikmatnya atau kalaupun ada dari dunia bisnis, masih banyak yang berasal dari kalangan korporasi atau perusahaan besar yang mendapat manfaatnya. Usaha kecil dan menengah? masih jauh. Paling banter pengusaha kecil memiliki atau membelikan laptop atau netbook untuk anaknya yang sekolah atau kuliah. Atau ada beberapa PC di perusahaan tapi masih belum berfungsi optimal.

Usaha kecil yang sudah sangat merasakan manfaat TI barangkali baru sebatas retailer (pengecer) modern seperti mini market, apotik dan bengkel. Itupun prosentasenya masih sangat kecil jika dibandingkan secara keseluruhan dari jumlah usaha kecil yang ada. Hal ini salah satunya disebabkan masih minimnya inovasi dalam perangkat lunak (software ) yang dapat membantu pengusaha kecil untuk pemanfaatan teknologi komputasi sesuai dengan bisnisnya.

Padahal, sesungguhnya komputer menyimpan potensi luar biasa sebagai sebuah mesin logika dan mesin hitung. Khususnya untuk membantu kerja-kerja usaha kecil dan menengah agar lebih efisien dan efektif. Utamanya untuk menangani pekerjaan operasi logika, perhitungan dan matematika yang berulang bahkan rumit dengan frekuensi tinggi.  Yang jika hal ini dikerjakan oleh manusia, lebih sering mengalami “error” atau malah “hang”.  🙂

Sayangnya, di sekitar kita saat ini komputer (atau laptop dan netbook) masih banyak yang baru difungsikan sebagai alat yang menggantikan kalkulator untuk menghitung, atau menggantikan mesin ketik untuk menulis.

Sayangnya lagi..orang-orang yang berlatar-belakang ilmu komputer dan pemrograman sepertinya “ogah” belajar akuntansi. Dan orang akuntansi sendiri (termasuk saya) banyak juga yang enggan dan sulit belajar pemrograman komputer. Sehingga, orang yang tahu akuntansi tidak bisa menerjemahkan dalam bahasa komputer dan orang komputer tidak faham akuntansi. Hal ini tentunya harus dicarikan solusi dan jalan tengahnya.

Dan salah satu usaha tersebut dalam dunia akademik yaitu dengan mengenalkan dasar akuntansi pada anak-anak TI (MI, SI dll). Meski hasilnya masih belum terlalu menggembirakan.

Saya jadi terpikir untuk menyebut “akuntansi” khususnya bagi kalangan TI dengan sebutan “Bahasa B”. Ini barangkali akan bisa membuat mahasiswa TI  lebih familiar, berminat dan termotivasi untuk belajar akuntansi.  Dan pada akhirnya, dari mereka kita bisa berharap akan lahir banyak inovasi-inovasi  perangkat lunak (software) dalam bidang akuntansi dan bisnis yang lebih bermanfaat untuk usaha kecil dan menengah.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, dalam dunia TI ada bahasa pemrograman yang sudah begitu terkenal dikalangan programmer di hampir seluruh belahan dunia yaitu bahasa C dan C++.

Kalau mahasiswa bersemangat belajar bahasa C dan C++, apalagi belajar bahasa B atau malah B++ ??!

Mungkin nggak sich…???! 🙂

(Kepada para pembaca kami persilahkan untuk mengikuti pooling dibawah ini jika berkenan. Namun mohon maaf, tidak ada hadiah atau imbalan apapun bagi peserta pooling ini). 🙂

Iklan