Beberapa periode terkahir ini masyarakat kita sudah sangat familiar dengan istilah organisasi. Baik itu berupa organisasi bisnis, organisasi sosial dan kemasayarakatan, sosial-politik dan keagamaan – dan bahkan organisasi pemerintahan dan militer. Dalam beberapa tahun terakhir – khususnya setelah era reformasi bergulir di Indonesia ini – ada semacam pendikotomian antara sipil dan militer, termasuk dalam bidang organisasi.

Organisasi militer masih dianggap lebih efektif dibandingkan organisasi sipil (non militer) pada umumnya. Itu sebabnya, bahkan ilmu manajemen bisnis modern-pun lebih banyak mengadopsi konsep-konsep dari militer. Sayangnya, karena adanya anggapan sifat otoriter pada organisasi militer oleh beberapa kalangan, hal ini menyebabkan sikap antipati pada hal-hal yang berbau “militer” – dan cenderung mendikotomikan dengan hal-hal yang bersifat “sipil”. Hal ini juga berlaku dalam soal politik dan pemerintahan khususnya era reformasi.

Lepas dari hal tersebut diatas, ijinkan saya mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud sebagai berikut,

“Ketika tiga orang atau lebih pergi dalam satu perjalanan, pilih seorang pemimpin di antara kamu.” (HR. Abu Dawud)

Hal ini menunjukkan pentingnya organisasi dalam setiap aktifitas kehidupan yang melibatkan tiga orang atau lebih. Dan ini tentu sudah banyak difahami oleh masyarakat secara umum. Hanya saja, dalam praktek berorganisasi masih saja ditemukan ketidakefektifan dan in-efisiensi. Baik dalam bisnis maupun sosial dan pemerintahan. Tidak perlu dibahas panjang-lebar tetapi ada satu kalimat yang bisa menjelaskan dengan gamblang bahwa hal semacam itu disebut salah-kelola, mis-manajemen dan istilah lain yang sejenis. Maksudnya, pengelolaan organisasi yang tidak tepatlah yang dituding sebagai penyebab rendahnya efektifitas dan efisiensi.

Oleh sebab itu, ijinkan saya mengingatkan satu hal yang seringkali sudah dianggap terlalu jelas oleh banyak orang, yaitu pentingnya manajemen dalam berbagai bdiang kehidupan kita terlebih dalam organisasi formal – baik bisnis maupun sosial dan pemerintahan – yang tentunya melibatkan banyak orang di dalamnya.

Ini bukan berarti bahwa kita punya “kambing hitam” yang baru atas berbagai persoalan yang ada ditengah masyarakat kita dewasa ini. Bahwa pemerintahan, bisnis dan lembaga sosial yang tidak efektif dan efisien adalah akibat salahnya “si manajemen”. Manajemen hanyalah sebuah konsep artifisial, bukan makhluk hidup yang nyata yang bisa disalahkan dan lantas membela diri. Maka, jika kita ingin melihat keadaan yang lebih baik, saatnyalah kita melakukan evaluasi atas apa saja yang telah dilakukan oleh orang yang berada di balik istilah manajemen dan dampaknya terhadap kehidupan kita yang nyata tapi fana ini.

Manusia-lah yang telah ditunjuk Tuhan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini. Dan sorga atau neraka sebagai imbalan atau hukuman itu diperuntukkan bagi makhluk hidup – bukan bagi barang-barang atau benda mati, konsep-konsep dan hewan. Saya rasa kita bisa sepakat bahwa organisasi bukanlah makhluk hidup, dan tidak akan memperoleh imbalan atau hukuman (masuk sorga ataupun neraka) karena tindakannya. Tidak peduli itu organisasi sipil atau militer, bisnis atau sosial, politik ataupun agama.

Iklan