Barangkali tidak ada waktu yang lebih tepat daripada saat ini, disini dan dari saya sendiri untuk memulai sebuah refleksi. Alasannya, adanya momentum prahara politik di partai demokrat, bencana dan pemulihannya di seputar Merapi – khususnya di kabupaten Magelang – dimana sekarang saya tinggal. Dan bertepatan pula dengan akan hadirnya bulan suci Ramdhan yang tinggal hitungan hari.

Tentu saja hampir semua orang mengetahui bahwa perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa dimulai dari diri kita sendiri. Untungnya, (maklum orang Jawa – selalu saja untung) saya menyadari hal ini sebelum perjalanan yang saya tempuh terlampau jauh, atau umur ini terlalu tua untuk bisa merubah diri dan kebiasaan demi menyesuaikan diri dengan tantangan yang kita hadapi di era globalisasi ini.

Setidaknya 10 tahun sudah saya belajar tentang hidup dan kehidupan yang sesungguhnya, karir dan pekerjaan, serta manajemen dan kepemimpinan – baik di rumah tangga maupun di organisasi dan masyarakat. Tidak cukup lama memang, tetapi setidaknya saya telah mendapatkan beberapa pelajaran berharga selama kurun waktu yang singkat tersebut.

Jika mengadopsi konsep kepemimpinan model VVC Plus (Vision, Value and Courage) dari Neil Snyder, James J. Dowd Jr, dan Diane Morse Houghton seperti disitir Prof. Djoko Moelyono dalam bukunya, Beyond Leadership setidaknya saya telah mendapatkan pembelajaran untuk ketiganya.  Saya belajar tentang visi – baik pribadi maupun organisasi – sebagai bekal menatap masa depan dengan cara lebih baik. Setidaknya ini tidak terlalu sulit bagi saya yang bahkan kata teman-teman – dengan nada guyon tentu saja – sering dianggap pikiran saya terlalu nggladrah (Jawa: liar). Saya tidak akan protes dan membantah, karena yang saya fahami bahwa visi itu memang soal pandangan tentang masa depan – yang saat ini memang belum ada. Batasnya sangat tipis dengan khayalan atau mimpi.

Yang kedua, soal value atau nilai-nilai. Ini jauh lebih sulit untuk saya fahami apalagi dalam praktiknya, khususnya jika berbicara soal nilai moral dan etika. Jujur saja, sulit mencari contoh yang tepat dari kehidupan yang sesungguhnya. Dari pemimpin terkecil, yaitu yang memimpin diri sendiri hingga pemimpin tertinggi bangsa dan negara ini. Sulit mengambil model yang tepat bagi penerapan prinsip kepemimpinan ber-etika ini.

Nilai-nilai moral dan etika adalah salah satu ajaran manajemen yang penting, namun banyak dilupakan orang – bahkan jarang yang tertarik untuk mempelajarinya – apalagi mempraktikkannya dalam kehidupan pribadi maupun organisasi dan masyarakat atau komunitas. Itulah kesulitan yang harus dihadapi seorang pembelajar ketika berminat untuk mempelajari atau menerapkannya. Sangat sedikit contoh tentang penerapan etika dalam kepemimpinan – terlebih untuk 10 hingga 15 tahun terakhir ini.

Tetapi setidaknya lebih mudah bagi saya jika dibandingkan Pak SBY atau Anas Urbaningrum (mungkin perbandingan ini terlalu berlebihan) yang justru harus memberi contoh bagi bangsa ini dan lebih terbatas lagi mencari model yang akan dijadikan panutan – kecuali harus menemukan sendiri – dan memang sudah seharusnya demikian.

Yang terakhir, ini jauh lebih sulit lagi. Soal keberanian (courage) bagi seorang pemimpin, bahkan hampir tidak ada rujukan ilmu pengetahuan atau resep ampuh yang bisa diterapkan secara langsung. Ini hanya bisa didapatkan dengan cara mencoba dan melakukan (learning by doing). Dan saya merasa beruntung karena telah memperoleh kesempatan untuk mempelajari dan menerapkan ketiganya hanya dalam waktu 10 tahun terakhir. Itu barangkali menjelaskan mengapa saat ini banyak pemimpin dalam berbagai bidang dan level telah kehilangan integritas karena mengabaikan etika.

Kalau soal nilai keberanian (courage) ini barangkali saya beruntung mendapat fasilitas dari Tuhan, berupa kesempatan menemui berbagai tantangan yang dapat menguji kedua prinsip kepemimpinan tersebut diatas – pada saat umur saya masih cukup muda. Mungkin akan berbeda halnya jika saya mendapat kesempatan yang sama pada saat usia saya menginjak 40 tahun atau lebih, barangkali akan berbeda cerita akhirnya.

Tetapi satu hal yang saya fahami bahwa keberanian itu bukan muncul karena badan kita besar, fisik yang kuat, percaya diri yang tinggi, cerdas dan terampil serta kompeten dalam berbagai bidang. Keberanian tumbuh dari nilai-nilai dan keyakinan tentang kebaikan atau kebenaran. Dan tidak ada yang berani mengatakan bahwa para pemberani itu tidak punya rasa takut. Bahkan pemimpin terbesar dalam sejarah bisa saja gemetar dan berkeringat dingin, gelisah tak bisa memejamkan mata semalaman hanya karena harus mengambil sebuah keputusan. Terlebih keputusan yang akan berdampak pada banyak orang.

Iklan