Ini memang diadaptasi dari sebuah peribahasa, yang saya yakin hampir semua orang tahu apa artinya – karena begitu populernya. Namun kali ini saya ingin menggunakannya dalam kerangka yang lebih spesifik, yaitu soal kepemimpinan..khususnya di daerah.

Seperti kita ketahui bersama, selalu ada pemimpin formal & juga informal di kehidupan kita. Seperti halnya di Magelang, yang saat ini sepertinya tengah mengalami krisis kepemimpinan informal. Hal ini bisa disimak dengan fakta-fakta meninggalnya banyak tokoh-tokoh senior dalam bidang agama (kyai, dll) yang terjadi di Magelang secara beruntun sebelum dan sesudah erupsi Merapi 2010 lalu. Celakanya, hal ini bertumbukan dengan dampak erupsi Merapi yang bisa disebut terbesar dalam abad ini.

Sehingga memang tampak sekali kegamangan masyarakat dan bahkan pemerintah daerah dalam menghadapi dan menyikapi berbagai dampak akibat letusan eksplosif Merapi yang puncaknya terjadi 5 November 2010 lalu.

Bahkan, dikalangan aktifis masyarakat sipil (baca LSM dan ormas) juga terjadi hal yang tidak jauh berbeda. Terjadi situasi mirip anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung harus mengikuti siapa dan kemana akan melangkah. Ini memang wajar terjadi dimanapun – seperti halnya pasukan yang baru saja ditinggalkan sang jendral.

Namun, “pertempuran” tidak boleh berhenti hanya karena tidak adanya Sang Jendral ditengah-tengah pasukan. Harus ada yang maju menggantikannya, meski dia bukanlah Jendral sekalipun. Umumnya, para Jendral memang sudah mempersiapkan penggantinya jauh-jauh hari..dan itu sudah menjadi naluri seorang Jendral sejati. Hanya saja tidak semua Jendral dengan terang-terangan mengatakan pada ajudannya bahwa dia sedang dipersiapkan sebagai calon Jendral dimasa yang akan datang.

Akan tetapi, rencana manusia selalu saja tinggal rencana..Tuhan jualah yang menentukan. Ada kalanya sang Jendral belum menemukan calon yang akan dipersiapkan sebagai penggantinya namun keburu mangkat. Jika ini yang terjadi maka seharusnyalah para ajudan Jendral dan kolonel segera berembug untuk mengangkat salah seorang dari mereka sebagai Jendral yang baru.

Dan jika tidak ada perwira tinggi maupun menengah yang tersedia, maka Kopral-pun jadilah. Namun, harus juga disadari oleh semua orang bahwa dia hanyalah seorang KopJen (Kopral Jendral). Artinya, jangan juga kemudian disandangkan padanya beban dan harapan yang sama seperti terhadap pada Sang Jendral. Di sisi lain, Si KopJen ini juga harus segera menyesuaikan diri dengan tuntutan peran barunya. Jangan harap, meski sudah berbaju Jendral lantas akan memiliki kekuatan dan keahlian sama seperti pendahulunya.

Sekali lagi, Tak ada Jendral Kopral-pun jadi..! syaratnya kalau kita menyadari dan mau bersepakat !?

Iklan