Kalimat tersebut saya baca dari sebuah buku berjudul, “Communicate or Die” (ngeri dech…?!) karangan Thomas D. Sweifel seorang konsultan dari Swiss Consulting Group. Dia menggambarkan dengan sangat jelas tentang situasi dan kondisi masyarakat – khususnya dalam berbagai organisasi saat ini – baik sosial, bisnis maupun pemerintahan bahkan organisasi agama yang cenderung sedang mengalami tekanan dan “kesakitan luar biasa” akibat perubahan global yang tengah berlangsung sekarang ini.

Kebetulan juga saat ini saya pribadi tengah mencoba belajar kembali membangun hubungan dengan kucing. Ya, anda tidak salah membaca..yang saya maksudkan adalah soal memperlakukan kucing yang sesungguhnya – yang akhir-akhir ini tengah menjadi masalah bagi saya – setelah sekian lama saya “tidak lagi” menyukai kucing. Untuk cerita asal-muasalnya, silahkan anda baca tulisan saya yang ini !

Saya menjadi tertarik memperhatikan perilaku kucing, setelah membaca buku tersebut. Relasinya sangat jelas, karena dalam buku tersebut Thomas menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar kepemimpinan abad ini adalah dalam hal cara memperlakukan anak buah, anggota atau siapapun yang kita pimpin – bahkan barangkali termasuk juga anak-anak di keluarga kita – dan kesuksesan kepemimpinan. Dia menyebut bahwa pemimpin – bisnis, sosial bahkan organisasi non bisnis lainnya – saat ini dianalogikan seperti menggembala kucing.

Secara cepat saya menyimpulkan bahwa hal itu tentu sangatlah tidak mudah. Jika yang dimaksud pemimpin itu seperti penggembala kambing..maka saya dengan bangga mungkin akan segera meng-klaim bahwa saya mampu! karena setidaknya saya punya pengalaman menggembala kambing (sebagaimana lazimnya anak-anak lain di kampung saya dulu). Tetapi begitu disebutkan pemimpin saat ini seperti penggembala kucing…maka lemaslah saya !??

Belum pernah saya punya pengalaman menggembalakan seekor, apalagi banyak kucing sekaligus – meski dulu pernah memelihara dan menyukai kucing. Tetapi begitulah yang disebut Thomas dan sayapun mengamini setelah merenungkan kembali apa yang saya baca dalam buku tersebut. Dan tentu saja dengan merefleksikan kembali pengalaman masa lalu memelihara kucing – sekaligus saya bandingkan dengan situasi saat ini – dimana saya disibukkan dengan perilaku kucing di rumah yang disenangi anak-anak sedangkan saya sendiri risih, disamping trauma masa lalu yang belum sepenuhnya hilang terhadap kucing.

Namun, pada akhirnya saya harus menyadari bahwa lingkungan masyarakat dan organisasi kita saat ini memang tengah menjadi seperti yang digambarkan oleh Thomas tersebut. Organisasi dimana-mana saat ini berisi “kucing-kucing” dan bukan lagi “kambing-kambing” yang menurut saja digiring kemana saja si penggembala menghendakinya.

Tetapi sekali lagi, mereka adalah kucing-kucing dan bukannya macan yang tangguh dan siap bertempur berebut daging segar. Artinya, mereka tidak atau belum sepenuhnya siap diberikan tanggung jawab sepenuhnya – tapi juga tidak mau lagi diatur layaknya kambing. Dan diantara kucing-kucing tersebut ada kucing rumahan yang jinak dan lucu (meski tetap saja sulit dipahami), tetapi ada juga kucing garong yang suka membuat gaduh dan suaranya bising.

Akhirnya, saya sendiri “terpaksa” harus memperhatikan dan mempelajari perilaku kucing (di rumah) agar dapat memperlakukannya dengan benar – sehingga tidak harus ribut dengan anak-anak yang suka bermain dengan kucing tersebut – dan saya bisa tetap hidup berdampingan dengan kucing tanpa harus menjadi frustasi – seperti dinukil oleh Thomas D. Sweifel dalam bukunya tersebut di atas.

Kepada para pemimpin dimanapun dan level apapun saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat Menggembalakan Kucing !” ..dan semoga sukses.

Iklan