http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/09/10/76419_menkeu_sri_mulyani_dan_gubernur_bi_boediono_300_225.JPG Mengikuti tayangan di televisi tentang drama lanjutan dari serial Pansus Century, tampaknya akan menghasilkan sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin melegakan – tetapi bagi saya pribadi memprihatinkan dan menyedihkan. Semua berawal dari kekaguman pribadi saya pada sosok SMI sebagai wanita cerdas, penuh integritas dan tegas serta lugas dalam tugas. Sejak kemunculannya sebagai ekonom yang cukup disegani di negri ini – bahkan diluar negri – saya yakin banyak orang yang merasakan hal yang tidak berbeda dengan saya. Sebagai seorang ekonom dan akademisi yang brilian, SMI akhirnya harus terjun juga sebagai seorang praktisi – yang kata banyak orang sungguh berbeda halnya dengan dunia teori – yang kebanyakan orang pula gagal memadukan keduanya.
Inilah kekaguman saya berikutnya, dimana sebagai seorang akademisi SMI telah mampu menunjukkan bahwa beliau bukan hanya berteori – namun membuktikannya dalam tataran praksis dan empirik – dan menurut saya cukup sukses ditengah hadangan berbagai masalah pelik ekonomi yang tak kunjung reda dialami negri ini. Tentu bukan hanya seorang SMI saja yang punya peran dalam menggerakkan roda ekonomi di negri ini. Tetapi menafikkan peran beliau selama era reformasi adalah sebuah kenaifan kalau tidak mau dikatakan sebagai sebuah kesombongan atau kebohongan. Masih terngiang dalam ingatan saya ketika sekitar tahun 2006/07 mendengar berita pertama kali adanya reformasi birokrasi di departemen di negri ini – hal tersebut dimulai dari departemen keuangan – yang notabene pada saat itu dipimpin oleh SMI. Terbersit harapan baru dalam pikiran saya bahwa negri ini akan segera menjadi sebuah negara yang bersih dan dikelola dengan baik serta profesional. Dan ukuran standar kuantitatif yang paling mudah dilihat tentu saja adalah soal pengelolaan keuangan negara yang memenuhi prinsip-prinsip good governance. Harapan tersebut kian membesar ketika negri ini mulai melakukan perang terhadap korupsi – yang genderangnya ditabuh dengan keras oleh KPK yang dipimpin oleh Antasari Azhar – yang saat inipun saya tidak tahu lagi nasibnya – tapi toh KPK bukan hnya Antasari seorang. Mudah-mudahan demikian adanya. Sebenarnya saya sendiri tidak bisa membohongi hati nurani bahwa kenyataannya di negri ini masih melekat budaya yang melebihkan figur dan ketokohan daripada pentingnya sistem yang baik. Meski pada akhirnya banyak tokoh hebat ataupun punya integritas (baik) yang akhirnya harus tenggelam dan termakan oleh sebuah sistem, tentu dengan proses yang sistemik atau sistematis. Sungguh ironis…
Sosok pemimpin yang karismatik dan berwibawa masihlah menjadi dambaan seluruh lapisan masyarakat dan bahkan profesional dibidang apapun, termasuk dalam politik dan pemerintahan. Mungkin ini juga salah satu sebab KPK pimpinan Antasari Azhar lebih agresif dalam prestasi dibanding Taufikurrahman Ruki. Meski tidak adil jika membandingkan keduanya yang memimpin dalam periode dan situasi yang berbeda. Setiap pemimpin memiliki panggung sejarah dan bentuk pengorbanannya masing-masing, demikian kata-kata yang sering kita dengar dari para bijak.
Kembali pada soal SMI diatas, seting cerita menjadi semakin lengkap dengan kehadiran BO sebagai pimpinan otoritas moneter di Indonesia. Seperti halnya SMI yang meninggalkan Universitas Indonesia untuk mengabdikan diri di pemerintahan, BO telah lebih dahulu meninggalkan kampusnya (UGM) untuk mengabdi sebagai seorang teknokrat berbekal kepiawaiannya dalam bidang moneter. Dengan karakternya yang tenang dan cermat, sangat pas ketika harus mengelola sebuah institusi yang sangat membutuhkan koservatisisme dan ketelatenan – disamping tentu saja kesabaran yang tinggi. Itulah sebabnya sejak beberapa periode pemerintahan BO dipercaya untuk menduduki jabatan-jabatan dalam bidang otoritas moneter.
Akhirnya jadilah bapak yang santun dan bersahaja ini bagian dari tim moneter Indonesia yang banyak berperan dalam mengendalikan otoritas moneter periode 90-an sampai awal 2009 lalu. Dan sebagai seorang pejabat publik, beliau memiliki catatan khusus sebagai seorang yang terkenal pendiam dan tidak reaktif – bahkan ketika menghadapi proses penyidikan oleh pansus DPR RI yang bagi sebagian orang memicu naiknya darah dan merahnya telinga.
Hari ini, pansus century telah menyatakan rekomendasi yang mayoritas fraksi menunjuk BO dan SMI sebagai pejabat yang bertanggung jawab atas skandal 6,7 trilyun tersebut. Di satu sisi ada rasa bangga, anak-anak muda yang berada di DPR dan khususnya berada di pansus telah mampu menunjukkan kepada khalayak bahwa mereka tidaklah mandul atau “masuk angin” seperti yang semula dikahwatirkan banyak pihak dan pengamat politik. Namun, disisi lain ada perasaan tidak bisa menerima mengapa seorang BO atau SMI harus berada pada posisi yang sangat dilematis tersebut bagi rakyat dan pemimpin negri ini. Dan bagi saya pribadi, dua pribadi yang bertolak belakang dalam karakter namun memiliki kesamaan dalam hal integritas tersebut – dan yang saya idealkan tersebut – ternyata harus mengalami nasib yang demikian pahit.
Nasib bangsa yang besar ini memang tidak hanya tergantung pada dua inisial nama yang banyak disebut diatas – dan memang tidak seharusnya kita menggantungkan nasib pada orang ataupun tokoh pemimpin tertentu – sebesar dan sehebat apapun mereka itu. Bagi orang beragama tentu saja tidak akan demikian. Karena ada Sang Maha, Almighty yang seharusnya menjadi tempat bergantung. Akan tetapi, setiap peristiwa sejarah hanyalah akan menjadi sebuah rutinitas belaka tanpa adanya hikmah dan pelajaran yang diambil. Karena itu, saya pribadi berusaha untuk mencari hikmah (yang mungkin masih tersembunyi) dibalik berbagai kejadian dalam sejarah bangsa tersebut. Satu pelajaran yang sudah saya petik yaitu bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan, dan dalam setiap cerita baik sejarah maupun dongeng – korban diidentikkan dengan orang atau hal yang suci. Mudah-mudahan demikian hal yang terjadi dengan AA, BO dan SMI. Semoga mereka adalah “orang-orang suci” yang pantas menjadi tumbal (dibanding yang lain) untuk kemakmuran bangsa dan rakyat negri ini dimasa yang akan datang. Semoga..

Riyanto Suwito
0812 271 2426
www.pembukuanonline.com

Iklan