Mungkin ini bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan, tapi bisa jadi sangat menarik jika direnungkan. Ceritanya begini, puluhan tahun yang lalu – tepatnya ketika saya masih usia Sekolah Dasar – bahkan mungkin sejak sebelumnya. Saya adalah penyayang binatang, khususnya burung dan juga kucing. Saya punya pengalaman berkesan dengan beberapa burung piaraan yang biasanya saya pelihara sejak masih kecil. Memang burung piaraan saya tersebut bukan jenis burung-burung ocehan yang mahal, tapi lebih banyak burung kampung yang biasanya saya dapatkan dari berburu sarang dan mengambil anaknya atau membeli dari seorang kawan yang sama-sama menyukai burung. Burung yang paling saya suka adalah dari jenis pipit yang kecil dan lucu.

Burung yang saya pelihara sejak kecil tersebut biasanya sangat jinak dan lucu. Dipanggil dengan siulan saja (kalau dipanggil dengan nama malah mungkin tidak) mereka akan datang dan hinggap di pundak, tangan atau kepala saya. Semuanya masih berjalan baik-baik saja sampai saya masuk ke sekolah dasar. Setiap pagi – sudah barang tentu saya harus berangkat ke sekolah dan meninggalkan burung kesayangan tersebut – kecuali di hari minggu. Dari sinilah masalah mulai muncul, yaitu bagaimana saya harus menjaga burung piaraan saya selama sedang di sekolah? Karena seperti saya sebutkan diawal cerita, saya juga memelihara seekor kucing. Meskipun kucing tersebut sangat jinak dan penurut dengan bulu berwarna belang merah – kalau dikampung disebut kembang asem – namun naluri hewaninya tetap saja tidak akur dengan seekor burung. Entah berniat untuk menyakiti atau tidak, tetapi jika kebetulan si pipit sedang bermain bersama saya dan kebetulan si kucing lewat – ia pasti akan mengejar dan mencoba menerkamnya – sehingga si pipit terbang terbirit-birit.

Karena itu, untuk menjaga keamanan si pipit selama saya tidak di rumah – harus ada kandang untuknya dan menggantungkannya di langit-langit dapur – agar aman dari terkaman si kucing. Keputusan ini saya ambil dan saya jalankan dengan asumsi bahwa si kucing tidak bisa terbang, sehingga ketika si pipit berada di kandang dan digatung di tempat yang tinggi – si kucing tidak akan menjangkaunya. Sebuah logika sederhana anak SD.

Beberapa waktu berlalu dengan aman. Si pipit tetap aman di tempatnya sampai saya pulang dari sekolah. Namun, suatu pagi menjelang siang sepulang sekolah (kelas I dan II SD pulangnya memang tidak sampai tengah hari) saya langsung bergegas ke dapur – tentu untuk menengok burung pipit piaraan saya tersebut. Yang saya dapati sungguh sangat memiriskan hati. Kandang kecil yang terbuat dari bambu dan kayu tempat si pipit berada sudah terserak diatas lantai tanah di dapur. Dan yang lebih memilukan, saya mendapati kandang tersebut penuh dengan bulu-bulu yang berserakan tidak karuan – dan tidak ada si pipit di dalamnya. Tiba-tiba pikiran saya melayang sesaat. Tampak di pelupuk mata ketika kandang tersebut di terjang oleh lompatan si kucing lantas terjatuh di lantai tanah dan dengan sigap si kucing dengan cakar tajamnya berusaha untuk merenggut si pipit dari kandang – sehingga terjadilah petaka tersebut. Si pipit berusaha terbang dan meronta – namun ia tak berdaya karena pintu kandang tertutup – sedangkan di luar ada si kucing bercakar tajam yang bisa menjulurkan kaki-kakinya ke dalam kandang. Sampai akhirnya ia tak berdaya dengan cengkeraman kuat dari cakar si belang.

Tak tega saya meneruskan khayalan tersebut, tiba-tiba saya tersadar ketika setetas air hangat jatuh di tangan saya. Cukup lama saya menangis sendiri – karena ibu dan bapak biasanya memang berada di toko pada pagi sampai sore hari – meratapi kandang kosong yang penuh bulu tersebut. Setelah tersadar dari kesedihan saya segera melihat sekeliling, mencari dan menganalisa darimana datangnya bahaya yang telah merenggut nyawa dan badan si pipit. Akhirnya saya sadar, bahwa di dapur itu ada sebuah almari tenpat menyimpan pring dan perabot – meski letaknya cukup jauh dari tempat gantungan si pipit – namun dengan cara melompat dan menerkam si kucing telah berhasil menjatuhkan kandang tersebut – dan menggumulinya di atas tanah. Dan ini pastilah bukan skenario sehari dua hari. Si kucing pasti sudah melakukan pengintaian dan menyusun strategi yang mungkin juga sebelumnya gagal – lantas disusun strategi lainnya – sampai eksekusi pada hari itu yang terbilang sukses.

Ketika saya pergi mencarinya, si kucing tengah berada di halaman belakang dekat tempat pembuangan sampah. Disekitarnya juga masih ada beberapa ceceran bulu dari jenis yang sama dengan piaraan saya. Lengkaplah sudah dakwaan saya, si kucing saya vonis bersalah – dan dengan masih emosional – saya menendangnya sehingga lari terbirit-birit. Tentu saja ia kaget bukan kepalang – karena tidak biasanya saya berbuat demikian – hingga beberapa waktu ia tidak menampakkan diri dihadapan saya.

Sejak saat itulah, saya tidak begitu tertarik untuk memelihara burung karena merasa telah gagal melindungi nyawanya dari bahaya dan itu karena sistem pengamanan yang saya terapkan – yaitu kandang – tentu saja ini sangat ironis dan menyedihkan. Sistem pengamanan yang seharusnya melindungi dari bahaya tesebut ternyata justru turut andil dalam membinasakannya. Di sisi lain saya juga menjadi tidak lagi menyayangi kucing – meski tidak sampai membencinya – karena saya merasa tidak bisa mengendalikan sifat hewaninya. Ya, meski telah jinak kucing tetaplah kucing yang memiliki naluri membunuh (killer instink) kepada hewan yang lebih kecil yang bisa saja muncul sewaktu-waktu. Meski selama ini ia lebih banyak di beri makan nasi dan gorengan atau nasi yang dioles dengan minyak bekas gorengan ikan. Dan terkadang ia mendapatkan jatah tulang atau duri ikan sisa-sisa dari makanan kami.

Memang ada kepercayaan di pedesaan, jika kucing masih mau memakan tikus maka itu berati ia masih memiliki naluri membunuh sebagaimana aslinya. Karena itu ada orang yang tidak membolehkan kucing piaraannya memakan tikus – dan jika ketahuan segera merebutnya dan mengubur bangkai tikus tersebut. Memang itulah habitat kucing – dan mestinya terbang bebas adalah habitat si burung. Meski saat ini saya tidak lagi memelihara burung kesayangan dalam sangkar, tetapi saya juga tidak lagi memelihara kucing sebagai hewan kesayangan.

Riyanto Suwito
0812 271 2426
https://riyantosuwito.wordpress.com

Iklan