Premanisme saat ini ditengarai telah menggejala secara luas di negri ini, mulai dari organisasi kampus (atau mahasiswanya) bahkan sampai dengan organisasi keagamaan tertentu. Ini ditengarai sebagai gejala sosial sebagai akibat dari ketidakadilan dan berbagai ketidakberesan yang terjadi di negri ini – termasuk penegakan hukum yang lemah. Premanisme biasanya ditandai dengan model komunikasi yang lebih banyak melibatkan kata-kata agresif dan kasar dan bahkan cenderung mendiskreditkan atau merendahkan pihak lain. Dalam kasus yang lebih berat, premanisme ini bisa berwujud pergesekan yang melibatkan fisik antar pihak atau kecenderungan yang merusak. Atau bisa berupa tindakan-tindakan ilegal termasuk dalam hal finansial. Seperti juga ditengarai beberapa pihak bahwa manajemen Bank Century juga melakukan tindakan premanisme dengan merampok uang rakyat.
Namun lebih jauhnya, premanisme inipun menghinggapi lembaga tertinggi negeri ini yaitu DPR RI. Dalam konteks pansus Bank Century DPR RI, premanisme yang saya maksudkan adalah soal kata-kata dan bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi didalam rapat-rapat dan melakukan klarifikasi terhadap para saksi yang dipanggil. Dan lebih spesifiknya kepada para saksi atau narasumber yang dianggap sebagai saksi kunci dan dinggap paling bertanggung jawab seperti misalnya Pak Budiono sebagai Gubernur BI pada saat kasus itu terjadi.
Kembali pada soal “kata-kata atau bahasa” diatas, saya justru semakin prihatin dengan kondisi saat ini – dimana pada berbagai kesempatan semenjak musim kampanye 2009 hingga detik ini – baik melalui media langsung (live) maupun melalui media cetak kita disuguhi dengan berita dan kata-kata hujatan yang tidak semestinya kita dengar dari anak bangsa yang berbudaya seperti Indonesia. Di satu sisi kita sebagai bangsa sangat lemah dalam diplomasi Internasional – lagi-lagi inipun soal bahasa – karena melakukan diplomasi tidak mungkin dengan menggunakan “bahasa tubuh” saja. Bahkan yang saya dengar sejak era Orde baru sampai saat ini, diplomat terbaik Indonesia adalah almarhum Bapak Ali Alatas yaitu mantan Mentri Luar Negri kita. Dan sayangnya sampai sekarang belum ada pengganti yang sekaliber beliau yang sangat disegani di manca negara. Itu sebabnya kita seringkali kalah dalam diplomasi Internasional. Disisi lain, diplomasi kita didalam negri-pun tidak kalah kacaunya.
Bukti “kejahiliahan” lain semakin menguat dimana akhir-akhir ini kita dipertontonkan dengan sebuah rangkaian rapat-rapat pansus DPR kita (yang khabarnya menelan anggaran 5 M ini) yang tengah mengusut skandal Bank Century. Disitu kita disuguhi adegan-adegan dialog (lebih tepatnya lomba pidato dengan parameter penilaian tingkat agresivitas peserta) dan komunikasi yang barbar serta cenderung meninggalkan etika ketimuran. Saya tidak mengatakan Jawa karena Indonesia bukan Jawa saja. Mereka lupa akan substansi dan tujuan bahkan hanya menikmati proses sekaligus menunjukkan sikap sok kuasanya – salah satu ciri khas orang yang tidak percaya diri pada saat mendapatkan peluang – serta lupa tanggung jawab utamanya. Anggota dewan yang terhormat, dengan bahasa dan perilaku yang sok kuasa dan jauh dari kualitas untuk dihormati ini mencoba melakukan penyidikan tapi lebih mirip pengadilan. Seolah kualitas individu mereka lebih ditonjolkan (atau memang hanya itu yang menonjol) pada kemampuan MENCECAR dan MENCACI bukan MENCARI dan MENCERNA.
Dan yang menggelikan, mereka (para anggota dewan yang terhormat tersebut) umumnya berusaha menjebak lawan bicara dengan cara-cara yang tidak fair dan agresif. Ini persis dengan kejadian di kelompok-kelompok swadaya masyarakat dikampung-kampung yang sedang belajar berusaha untuk menerapkan demokratisasi dan belajar berorganisasi. Kalau yang ini masih saya anggap wajar, karena umumnya mereka adalah warga masyarakat biasa yang tidak berlatar-belakang pendidikan tinggi serta dengan pengalaman organisasi yang minim. Sehingga bisa berbicara di depan forum saja itu sebuah prestasi yang patut dibanggakan, atau sudah berani menyampaikan pendapat dengan berapi-api dan emosional pada sebuah pertemuan kelompok itupun sudah sangat bagus – karena masih banyak yang tidak berani sama sekali berbicara dalam forum yang melibatkan banyak orang.
Tapi jika hal semacam ini terjadi pada anggota dewan yang terhormat di negri ini..??? Sungguh memalukan….dan saya ikut menanggung malu – karena saya juga anggota DPR (Daerah Pelat R – alias wilayah eks Karesidenan Banyumas).
Seorang tokoh pendidikan dan negarawan yang santun, cerdas dan jujur (kalau ini obyektivitas pribadi penulis) seperti Prof. Dr. Boediono, harus berhadapan dengan orang-orang agresif semacam anggota pansus kita itu jelas saja sangat timpang. Bahkan pada akhir pemanggilan beliau yang kedua, ada pernyataan yang sungguh tidak sedap didengar – yaitu yang menyatakan bahwa jawaban beliau yang muter-muter dan tidak tegas – semakin membuat tugas penyidikan pansus kabur. Bahkan ada yang langsung memvonis bahwa ini mengindikasikan besarnya kemungkinan kesalahan beliau. Terlepas dari apakah Pak Budiono bersalah atau tidak tetapi rasa hormat kepada tokoh yang sedang menjadi simbol negara ini seharusnya tetap dipertahankan. Jika demikian maka pertanyaannya justru, siapa yang tidak becus? Penyidik ataukah nara sumbernya?
Berulang kali, para anggota pansus meminta penjelasan dengan mengatakan bahwa Pak Budiono yang profesor pasti lebih pintar dari mereka – tapi saya yakin ini hanyalah sebuah strategi “merendahkan diri meninggikan mutu” yang keliru – dengan tujuan untuk mencari kesalahan pihak lain dan mempermalukannya di depan publik. Sehingga jawaban dan penjelasan Pak Bud tetap saja tidak memberikan “apapun” kepada mereka – padahal mereka telah menghabiskan waktu rapat berjam-jam dan menguras energi semua pihak – termasuk pejabat negara yang seharusnya sedang bekerja untuk masa depan bangsa ini. Hal ini terjadi karena, saya pribadi menyangsikan niat baik (political will) dari para anggota pansus yang jumawa itu – meski tidak semua fraksi demikian.
Karenanya, jika anggota DPR kita masih belum akan berubah untuk menjadi lebih baik maka keberadaan orang seperti Ruhut Sitompul di fraksi, pansus maupun di DPR masih dibutuhkan. Alasannya sederhana sekali, mulut biarlah dihadapi dengan mulut, agresi biar saja dihadapi dengan agresi. Ini sama seperti sebuah alasan keberadaan jari tengah kita. Anda sendiri yang paling tahu kegunaannya.
Jika anda penggemar sepak bola anda pasti tahu siapa Genarro Gattuso – gelandang badak dari klub elit Italia AC Milan – yang memang bertugas untuk mengamankan Ricardo Kaka (sekarang di Real Madrid) dari kejahilan pemain lawan sekaligus untuk merusak pertahanan lawan dengan cara yang provokatif. Sebenarnya saya tidak tega menyamakan aktivitas lembaga tinggi negara dengan pertandingan sepak bola – tetapi apakah menurut anda ilustrasi saya ini berlebihan..??!
Jauh-jauh hari sebelumnya, para anggota pansus yang diwawancarai media (dan berlomba menjadi selebritis – persis seperti yang mereka tuduhkan kepada Miranda Goeltom – mantan Deputi BI yang juga pernah diundang ke dewan) kebanyakan menjanjikan bahwa untuk sesi berikutnya akan lebih tajam, keras dan menggigit. Ini seperti iklan film berseri/sekuel yang agar para penonton bersedia membeli tiket dan menonton lanjutannnya – lantas dibuatlah janji-janji bahwa episode selanjutnya bakal lebih seru dan hot dibanding seri sebelumnya. Mungkin inilah yang mereka maksudkan dengan lebih tajam, sungguh ironis sekali.
Yang lebih ironis dan menyedihkan lagi, di balkon tempat rapat yang menghadirkan Pak Budiono berlangsung ada seorang pengunjung yang meneriaki Pak Budiono sebagai MALING. Seorang Wakil Presiden dari negeri besar bernama Indonesia, ketika sedang dikeroyok oleh para anggota pansus yang agresif lantas tiba-tiba diteriaki sebagai maling. Si pelaku yang kebetulan adalah aktivis muda dari gerakan anti korupsi itu segera ditahan petugas keamanan – namun segera dilepaskan lagi – karena dianggap tidak terbukti bersalah dan tidak ada pengaduan dari korban…????! Benar-benar negri orang barbar….!!
Dalam kondisi seperti ini, siapa lagi yang bisa kita percaya? Siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang harus memperbaiki keadaan? Jawabannya adalah kita semua yang seharusnya ikut bertanggung jawab secara kolektif. Saya, anda, pers, pemerintah, anggota dewan yang terhormat, para aktivis, para pasivis, pengangguran, politisi, guru, ulama, tokoh masyarakat, pengusaha dan semua saja yang merasa dan mengaku mencintai negri ini…!?
Bangsa ini, diakui atau tidak memang tengah mengidap penyakit MINDER yang akut (bahkan hampir mendekati INFERIORITY COMPLEX) alias tidak memiliki kepercayaan diri. Lebih tepatnya, RENDAH DIRI tetapi TINGGI HATI. Dan orang yang tidak percaya diri seperti ini sulit untuk percaya kepada orang atau pihak selain dirinya. Lha dengan dirinya sendiri saja tidak percaya..? Bagaimana mungkin akan percaya kepada orang lain? Salah satu sebab hilangnya kepercayaan diri ini adalah karena tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan – namun sayangnya malu untuk mengakui dan akhirnya mencoba menutup-nutupi – sehingga yang muncul adalah tinggi hati alias sombong dan sulit menerima pendapat atau masukan dari pihak selain dirinya.
Saya lantas teringat “curhat” dari seorang guru besar UGM (Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta) yang direkrut oleh Gubernur DIY untuk menjadi pejabat dilingkungan Pemerintah Provinsi DIY sekitar dua tahun lalu ketika kami bekerja bersama dalam sebuah gugus tugas (task force) untuk melakukan reformasi birokrasi di daerah. Beliau mengeluhkan (saya yakin karena terpaksa) sikap mental dan kompetensi para anggota DPRD dan berharap ada pihak lain yang bisa dan mau membantu untuk memperbaiki kualitas anggota dan kelembagaan dewan tersebut agar lebih bisa bekerjasama dengan pemerintah sebagai mitra dan bukan sebagai lawan tanding. Andai saya mengenal Pak Budiono dan dekat dengan beliau, mungkin saja saya juga akan mendengar keluhan yang kurang lebih sama namun untuk level yang berbeda.
Semoga Tuhan akan membukakan hati kita dan memberikan petunjuk-Nya…meningkatkan kesadaran kita, dan memberikan kekuatan untuk menyerap berbagai ilmu pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) yang kita butuhkan untuk mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara ini dengan lebih baik…!? Amiin.
Riyanto Suwito
0812 271 2426
https://riyantosuwito.wordpress.com
Iklan