Mungkin sudah banyak yang sering mendengar berita tentang kesuksesan Ustadz Lihan sebagai seorang entrepreneur atau pengusaha sekligus sebagai tokoh agama sekaligus pengasuh pondok pesantren di daerah Kalimantan. Saya sendiri mulai mendengar kisahnya ketika banyak media mengupas sepak-terjangnya sebagai seorang saudagar permata atau batu mulia.
Pada saat itu nama Ustadz Lihan memang tengah bahkan mulai melambung bahkan sampai seantero Indonesia. Tak urung banyak orang mulai tertarik dengan aktivitas bisnisnya selain sepak terjangnya dalam aktivitas sosial keagamaan – seperti yang selama ini sudah digelutinya. Banyak kalangan mulai berbondong-bondong mendekatinya – seperti semut mencium gula – begitulah dengan perilaku para pemilik modal yang notabene punya uang atau harta menganggur dalam jumlah besar namun tidak bisa memberdayakannya.
Sudah lazimnya, mereka tertarik dengan orang atau institusi yang tengah “berkembang” atau naik daun sebagai penghasil atau mesin uang. Atau usaha yang sedang bagus-bagusnya dan bahkan terus menanjak. Merera akan dengan senang hati untuk menginvestasikan harta atau uang tunainya pada usaha atau bisnis tersebut – bahkan seringkali tanpa diminta oleh si pemilik bisnis. Karena ada juga orang yang beranggapan bahwa pengusaha yang sedang sukses itu diibaratkan sebagai Raja Midas – sehingga apa saja yang disentuhnya akan menjadi emas – artinya bsinis apapun yang dijalani pasti akan berhasil.
Demikian pula yang terjadi dengan Ustadz Lihan yang memang sedang naik daun dan mendapat kemudahan dalam bisnisnya – tak pelak banyak orang yang tertarik berinvestasi kepada beliau secara individu sebagai pengusaha – terserah mau dipakai untuk usaha apa saja uangnya mereka akan menurut saja, mungkin seperti pepatah ibarat kerbau dicocok hidungnya.
Namun berita yang baru-baru ini dilansir salah satu media sungguh mengejutkan kita. Ustadz Lihan ditangkap karena melakukan penipuan terhadap nasabahnya – dan bahkan dituduh melakukan praktik bank gelap alias mengumpulkan dana masyarakat secara ilegal. Sungguh sesuatu yang sangat mengejutkan dan sangat disayangkan. Ustadz muda yang tengah naik daun dan tengah pula menjadi idola kaum muslim muda – karena bisa dianggap sebagai inspirasi dan idola – dimana beliau bisa mengintegrasikan kehidupan bisnis dan agama, ternyata sungguh mengecewakan. Andai berita itu benar dan terbukti, sayapun turut bersedih dan sangat menyayangkan hal tersebut.
Akan tetapi, terlepas dari apakah itu sebuah kebenaran ataukah sekedar isu belaka – saya hanya ingin mengingatkan kepada para rekan muda khususnya dan juga siapapun yang memiliki kepedulian dengan dunai bisnis dan investasi. Bahwa sebagai sebuah negara kita memiliki aturan dan hukum yang diberlakukan baik dalam bidang pidana maupun perdata (saya tidak terlalu faham soal ini), dan pada prinsipnya setiap pelanggaran terhadap hukum tersebut dianggap sebagai tindakan ilegal alias melanggar hukum. Itu adalah sebuah kesepakatan yang tidak bisa ditawar lagi. Nah, dalam soal pengumpulan dana masyarakat memang ada rambu-rambu dan aturan tertentu karena yang diperbolehkan melakukan penggalangan dana masyarakat secara umum itu adalah bank – maka diluar institusi tersebut (selain yang diatur dalam lembaga keuangan bukan bank) – tidak boleh melakukan praktik tersebut. Dan jika terbukti melakukannya maka itu disebut sebagai tindakan ilegal dan melanggar hukum.
Nah, selain itu secara pribadi saya termasuk orang yang tidak percaya kepada model pengumpulan dana masyarakat dengan menggunakan skema investasi – lebih tepatnya investasi dengan hasil yang ditetapkan didepan. Bisa saja 5%, 10% atau bahkan sampai 20 atau 30% dan seterusnya. Logikanya sederhana sekali. Bahwa bisnis adalah sebuah permainan mengelola probabilitas (seni mengelola kemungkinan) – dan kemungkinan itu adalah untung atau rugi – atau satu lagi yaitu impas. Artinya tidak ada bisnis apapun atau yang dilakukan oleh figur siapapun yang pasti bakal menghasilkkan keuntungan – apalagi jumlahnya sudah dipastikan dalam persentase tertentu. Ini adalah perlawanan terhadap logika dan akal sehat. Bagaimana mungkin ada hasil yang “pasti” dari aktivitas yang tidak ada seorangpun manusia bisa memastikan “hasilnya” termasuk seorang ustadz.
Jadi, berkaca dari kasus Ustadz Lihan diatas, mestinya kita ingat kembali logika dasar ilmu bisnis yang saya sebutkan diatas. Pertanyaannya ini salah siapa? saya tidak akan menghakimi siapapun – karena toh itu  bukan kewenangan saya – tapi cobalah kita ingat kembali pelajaran di SMP tentang probabilitas. Dan bisnis sebenarnya adalah sebuah seni megelola probabilitas terbesar – diantara banyak ragam dan tingkat probabilitas untuk sebuah aktivitas. Dan pelaku bisnis semestinya berusaha mengelola probabilitas aktivitas yang akan memberikan keuntungan terbesar – tetapi sekali lagi dengan terpaksa saya sampaikan – tidak ada orang yang bisa memastikan hasilnya pasti untung, apalagi sampai dengan menyebut angka atau nominal yang pasti.
Bagi para investor (yang memiliki kelebihan dana dan tidak mampu mengelola sendiri) jangan hanya terkecoh oleh besaran kembalian (Return on Investment) yang ditawarkan pengusaha yang membuka peluang investasi tersebut ataupun oleh citra diri si pengusaha yang dikenal sebagai sang Raja Midas. Dan jangan pula apriori dan menyepelekan para pengusaha muda dan baru – terlebih yang belum mampu menunjukkan hasil apapun – padahal justru merekalah yang sebenarya tengah sangat membutuhkan investasi untuk mengembangkan bisnis barunya tersebut. Mengapa demikian? karena mereka pasti tengah kesulitan untuk mengaskses dana dari perbankan – karena biasanya bank mensyaratkan paling tidak bisnis telah berjalan 2 (dua) tahun dan telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Jika anda sebagai investor berlaku demikian, maka anda sama saja dengan bank – padahal anda bukan bank. Lantas jika anda merasa tertipu setelah investasi anda pada “seseorang” yang anda percaya dapat menghasilkan tingkat kembalian investasi dalam prosentase tertentu ternyata meleset, mengapa anda marah? toh anda tidak menginvestasikan uang pada bank? tapi pada individu (dan bukan bank) ..mengapa anda menganggap ia pasti seperti bank? Karena jika bank yang bangkrut – maka pemerintah melalui LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) lah yang akan menjamin dan menggantinya – tapi jika pengusaha sebagai individu maka penjaminnya paling-paling adalah orang tua dan saudara-saudaranya.
Oleh karena itu saya cukupkan saja sampai disini tulisan saya – daripada nanti malah merembet pada soal Bank Century, Pansus, Cicak dan Buaya atau Gurita Cikeas – makin justru akan semakin aneh saja jadinya. Manusia memang aneh ….tapi nyata..!?
Riyanto Suwito
0812 271 2426
https://riyantosuwito.wordpress.com
Iklan