Tulisan saya kali ini agak menyimpang dari biasanya, jika di kali lain saya lebih sering menulis tentang manajemen usaha kecil dan dinamikanya, atau terkadang tergelitik untuk berwacana soal politik dan kewirausahaan. Kali ini saya menulis tentang persoalan yang bagi sebagian besar orang sudah dianggap sebagai hal yang biasa dan sekaligus tak perlu lagi bertanya – karena sudah dianggap terlalu umum – sehingga tak perlu lagi diperbincangkan.
Baiklah, saya tidak akan mengungkit-ungkit soal pendapat tersebut. Akan tetapi, sebagai seorang konsultan manajemen tentu saja kerangka berfikir saya seperti sudah terformat demikian – dan perspektif seseorang memang sangat dipengaruhi oleh kerangka berfikir serta sudut pandangnya.

Maka kali inipun saya akan mencoba melihat persoalan rumah tangga – sebagai sebuah institusi atau organisasi terkecil dimasyarakat – dari sudut pandang manajemen. Ini memang bukan tanpa sebab, tetapi akhir-akhir ini saya sedang dihadapkan beberapa kasus atau tepatnya krisis dalam rumah tangga beberapa a orang yang kebetulan dekat dengan saya sehinggmau tidak mau saya harus turut berfikir mencarikan solusi. Disamping tentu saja, sebagai pasangan muda saya sendiri tengah belajar dan terus belajar untuk mengelola rumah tangga dengan lebih baik agar dapat mencapai tujuan awal yang sering kita dengar dan perbincangkan yaitu untuk menuju keluarga bahagia dan sejahtera. Atau dalam bahasa Islam, keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah. Akan tetapi mudah-mudahan ini juga bisa menjadi inspirasi bagi pasangan muda lainnya yang baru saja menapaki jenjang pernikahan atau bahkan mungkin yang belum dan baru akan bersiap menuju kesana.
Seperti kita ketahui bahwasanya banyak sekali masalah dan kendala (bukan menakut-nakuti yang belum menikah lho..?!) yang dihadapi oleh pasangan suami-istri dalam mengarungi bahtera bernama rumah tangga ini. Dari mulai persoalan ekonomi rumah tangga, komunikasi dan hubungan suami-istri (jangan berfikir yang bukan-bukan…!!), bertetangga, hubungan dengan orang tua dan mertua, saudara dan kerabat, kewajiban di masyarakat dan negara dan masih banyak lagi – terlebih jika telah dikaruniai keturunan – atau dalam bahasa bisnisnya telah menghasilkan “produk” berupa anak.
Saya menulis judul tulisan ini berkaitan dengan masalah struktural dalam rumah tangga, maksudnya jelas bahwa masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan ini adalah masalah struktural. Orang sering menafsirkan istilah “struktural” dengan hal yang mendasar dan terkait atau berhubungan dengan struktur tertentu – misalnya seperti persoalan kemiskinan struktural. Seperti saya sebut diawal tulisan ini bahwa rumah tangga adalah organisasi terkecil dalam masyarakat – maka masalah struktural yang saya maksudkan adalah masalah struktur organisasinya.
Pernahkah anda melihat bagan atau gambar struktur organisasi sebuah kelarga atau rumah tangga? Ditempel di ruang tamu atau di ruang kerja seseorang? Kalau di Kelurahan atau kantor-kantor saya sendiri sering melihatnya – tapi kalau untuk rumah tangga saya harus jujur mengakui – belum pernah sekalipun melihatnya. Karena itu saya berandai-andai, jika sebuah rumah tangga digambarkan strukturnya maka kira-kira akan tampak seperti berikut gambar ini:
Ini mengasumsikan bahwa rumah tangga tersebut telah memiliki 2 (dua) orang anak (laki-laki atau perempuan sama saja…) dan 1 (satu) pembantu rumah tangga (PRT). Jika rumah tangga pengantin baru tanpa anak dan pembantu maka strukturnya tinggal dua, yaitu kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga saja.
Sederhana sekali bukan? itulah sebabnya tidak ada orang yang membuat struktur organisasi dalam rumah tangganya – bahkan konsultan manajemenpun tidak – termasuk saya sendiri. Bukan karena tidak bisa..!? lha buktinya ini saya bisa membuat strukturnya..?!
Justru karena begitu sederhananya sehingga kita menganggap tidak perlu ada struktur organisasi untuk menggambarkan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi – kalau dalam istilah pemerintahan) masing-masing dalam organisasi tersebut. Apalagi sampai harus membuat rincian tugas tertulis atau job description bagi masing-masing fungsi tersebut. Namun, kalau mau jujur seringkali terjadi tumpang-tindih dalam fungsi dan peran masing-masing orang dalam rumah tangga. Meski seringkali hal itu tidak terlalu menjadi masalah selama komunikasi diantara masing-masing masih lancar dan terjalin dengan baik – minimal komunikasi melalui “bahasa tubuh”.
Masalah mulai timbul ketika struktur rumah tangga mulai kompleks, misalnya dengan hadirnya anak atau adanya saudara yang ikut menumpang disitu. atau adanya seorang pembantu yang juga akhirnya menjadi anggota rumah tangga tersebut. Yang paling sering menjadi masalah adalah soal pengasuhan dan pendidikan anak – hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar orang tua menganggap apa yang mereka lakukan adalah semata-mata demi menyiapkan masa depan anak. Atau bahasa kasarnya, menyiapkan produk bagus yang bernilai tinggi dan siap dilempar ke pasar.
Dari sini mulai muncul perselisihan-perselisihan baik sekedar pendapat atau sampai menjurus pertengkaran akibat dari kesalah-fahaman dalam cara dan tindakan mengasuh dan mendidik anak tersebut. Bahkan tak jarang saling lempar tanggung jawab (biasanya yang begini sih laki-laki…makanya ada ungkapan begini, “dasar laki-laki tidak bertanggung jawab..!?” hehehe…). Memang ada beberapa kasus dimana ada laki-laki yang kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga – dan itupun karena hasil dari pendidikan orang tua yang kurang tepat sehingga melahirkan “the produk gagal”. Namun, ada juga kasus – bahkan saat ini semakin sering terjadi – karena kurangnya kesadaran akan peran dan fungsi perempuan sebagai ibu rumah tangga.
Hal ini memang tidak semata-mata karena kegagalan orang tua mereka dalam mendidik anaknya – tapi lebih karena pengaruh modernisasi serta kemajuan jaman dan perkembangan teknologi serta ekonomi – sehingga semakin membuka akses bagi kaum perempuan untuk juga turut aktif dalam aktivitas non-domestik alias urusan luar rumah yang dahulunya hanya menjadi domain laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Ditambah lagi dengan keberhasilan berbagai gerakan emansipasi dan pemberdayaan perempuan yang sayangnya juga diboncengi oleh gerakan feminisme. Sehingga makin rumitlah struktur organisasi rumah tangga modern dan juga pembagian fungsi dan peran masing-masing.
Dalam banyak kasus di organisasi yang lebih besar (selain rumah tangga-red), baik bisnis maupun sosial memang tengah terjadi perubahan yang cukup signifikan di era informasi ini. Jika dahulu struktur organisasi lebih banyak bersifat lini dan staf – bentuknya hirarkis dan bersifat komando – maka saat ini berkembang sebuah model struktur organisasi yang lebih simpel dan efektif untuk mengikuti laju informasi dan dinamika perubahan – yaitu model struktur organisasi matrik – yang lebih mendatar (flat) . Dalam pembagian peran dan fungsinya menjadi lebih fleksibel dan efektif dengan menerapkan sistem kerja lintas fungsi (cross function).
Organisasi pemerintahpun saat ini tengah berbenah, salah satu contohnya saat ini pemerintah daerah sedang menyusun Struktur Organisasi dan Tata Kelola (SOTK) baru yang disesuaikan dengan PP (Peraturan Pemerintah) No. 40 yang mengatur tentang struktur organisasi dan perangkat kerja perangkat pemerintahan di daerah. Lagi-lagi ini memang dimaksudkan untuk merespon perkembangan jaman yang demikian cepat karena revolusi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Di sektor bisnispun banyak perusahaan yang tengah melakukan re-organizing dan re-enginering untuk maksud yang sama – bahkan disektor ini sudah jauh-jauh hari dilakukan – tapi ini bukan lantas berarti menuduh sektor pemerintahan (government) lebih lambat berbenah.
Nah, kembali pada pembahasan soal rumah tangga diatas, mestinya perlu juga dilakukan re-define terhadap fungsi dan peran masing-masing anggota keluarga dalam struktur rumah tangga tersebut. Karena soal restrukturisasi dan perampingan bukanlah isu menarik dalam rumah tangga – karena dari sononya bentuknya sudah ramping dan mendatar. Kecuali jika rumah tangga tersebut berisi satu kepala keluarga dengan dua, tiga atau bahkan empat orang istri sebagai ibu rumah tangganya – untuk alasan efisiensi bisa saja dilakukan perampingan – tapi untuk kasus ini saya tidak berani menggambarkan strukturnya, saya khawatir justru memicu kontroversi dan polemik (dan takutnya nanti malah saya langsung terkenal dan bahkan menyaingi popularitas George Aditjondro…!? Jangan-jangan nanti ada yang menuduh saya menjadi pengalih isu Gurita Cikeas…hehehe…)
Justru hal yang terpenting adalah pendefinisian kembali peran dan fungsi masing-masing dalam mencapai tujuan organisasi rumah tangga disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan jaman. Dan bahkan model cross function-pun tidak salah untuk diterapkan – dan toh selama ini sudah banyak yang melakukan sejak jaman orang tua kita dan mungkin juga jauh pada generasi sebelumnya.
Bedanya, kalau dulu orang-orang tua kita melakukan kerja-kerja lintas fungsi (cross function) dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi (rumah tangga) disertai dengan penghormatan dan pengahargaan terhadap masing-masing peran tanpa melupakan tugas pokok dan fungsinya sendiri. Dalam organisasi rumah tangga modern justru yang sering terjadi adalah saling menuntut antar pihak sampai melupakan fungsinya masing-masing dan akhirnya saling menyalahkan atau saling lempar tanggung jawab. Atau ada juga yang bekerja lintas fungsi tetapi dengan cara mendominasi atau bahkan mematikan fungsi yang lain (suami atau istri, mungkin juga anak) – baik karena alasan ketidakpercayaan atau dikarenakan rasa sayang yang berlebihan – dan bahkan ada yang disebabkan rasa ingin berkuasa dan menguasai.
Sangat disayangkan..memang persoalannya adalah masalah struktural..!? Dan solusinya haruslah (meski belum cukup) melalui pendekatan struktural, yaitu reorganisasi dan restrukturisasi atau cukup dengan redefinisi.
Riyanto Suwito
0812 271 2426
https://riyantosuwito.wordpress.com
Iklan