Seperti kita ketahui bahwa baru saja akhir tahun 2009 ditutup dengan meninggalnya seorang tokoh besar bangsa ini, yaitu KH. Abdurrahman Wachid atau lebih sering dipanggil Gus Dur. Terlepas dari berbagai kontroversi tetapi satu hal yang pasti bahwa bangsa ini merasa kehilangan – hal itu terbukti dari begitu besarnya penghormatan terhadap prosesi pemakaman Gus Dur di tanah kelahirannya, Ponpes Tebu Ireng – Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Kehilangan satu orang tersebut ternyata berimbas pada banyaknya kekurangan orang untuk berbagai posisi yang selama ini diperankan oleh Gus Dur. Diantara posisi yang lowong tersebut adalah pemimpin perubahan, guru bangsa, guru politik, tokoh agama, budayawan, penggiat demokrasi, pengasuh pesantren, pengurus dan pelayan masyarakat atau umat dan lain sebagainya yang semuanya terkesan tidak menarik khususnya bagi generasi muda saat ini. Mengapa? karena semua itu terkait dengan satu kata kunci yaitu, “berjuang”. Sebuah kata yang seperti membuat alergi bagi generasi muda saat ini.

Lantas apakah salah mereka? anak-anak muda tersebut? Apakah tidak boleh mereka mencari sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya? Dan mereka menganggap orang-orang yang berjuang dalam bidang sosial atau politik serta agama dianggap sebagai orang bodoh yang mencari susah sendiri.

Tapi jangan lantas dikira bahwa anak-anak muda atau generasi muda kita itu tidak punya cita-caita lho..?! Bahkan mereka mempunyai cita-cita yang sangat jelas, yaitu menjadi orang sukses. Suskes secara materi adalah hal yang paling mudah dijadikan indikator – dan tampaknya paling mudah menarik minat mereka. Apakah ini sebuah kecenderungan materialisme? saya kurang tahu pasti. Yang pasti saya ketahui bahwa sudah menjadi kodratnya jika manusia menyukai harta benda dan kenikmatan duniawi.

Salah satu bentuk ideal dari manifestasi kalimat “sukes” itu pada saat ini adalah Pegawai Negri Sipil (PNS) atau disisi sebaliknya ada sedikit (atau sedikit sekali) yang menyebut entrepreneur (business entrepreneur) atau wirausaha sebagai cita-cita hidupnya. Memang sangat jauh panggang dari pada api…begitu kira-kira peribahasanya.

Lantas bagaimana dan apa jadinya jika lowongan tersebut diatas tidak ada yang mengisi? Ini memang sebuah ironi…tokoh yang memperjuangkan perbaikan nasib PNS dengan menaikkan gajinya hingga 300 persen – sehingga sekarang menjadi profesi yang paling diburu oleh para pencari kerja tersebut – yaitu almarhum Gus Dur justru belum ada penggantinya dalam posisi-posisi yang disebut diatas.

Sebagai Presiden RI Gus Dur sudah digantikan oleh Megawati dan SBY, sebagai Ketua PBNU beliau digantikan oleh KH. Hasyim Muzadi. Sebagai pemimpin perubahan tentu saja tidak menawarkan kompensasi menarik dan belum tentu menghasilkan kenikmatan duniawi. Mungkin inilah mengapa social entrepreneur lebih sulit berkembang jika dibandingkan business entrepreneur – padahal ini sangat dibutuhkan – untuk membangun sebuah negri dan peradaban yang lebih baik. Tidak semua orang harus jadi PNS, atau jadi pedagang, atau aktivis sosial..tapi mestinya semangat kewirausahaan itu bisa diterapkan dimana saja secara proporsional. Semoga…

Riyanto Suwito
0812 271 2426
https://riyantosuwito.wordpress.com
Iklan