Gus Dur, seorang kyai, politisi, putra dari tokoh Nasional KH. Wachid Hasyim adalah tokoh fenomena Indonesia bahkan mungkin dunia yang memang sering disebut sebagai tokoh kontroversial – baik karena tindakannya maupun pemikirannya. Bukan hanya dikalangan Nahdliyin (Jam’iyah NU) beliau sangat dihormati – bahkan di Amerika Serikat – beliau mendapat sebutan Respected Scholar.

Meski demikian tidak sedikit pula orang – baik di kampung-kampung – bahkan sampai dengan para intelektual di perkotaan yang tidak paham dengan Gus Dur bahkan cenderung jengah sampai antipati terhadap komentar-komentarnya, tindakannya maupun buah pikirnya. Termasuk dikalangan kaum muslim sendiri yang notabene satu keyakinan dengan beliau.

Namun, kita semua dibuat kaget dan sedih ketika dengan tiba-tiba mendengar khabar tentang meninggalnya beliau di RSCM pada tanggal 30 Desember 2009 – meski sudah lama kita mendengar bahwa beliau memang sering keluar-masuk Rumah Sakit (RS) untuk berobat tentunya – akibat dari berbagai penyakit yang dideritanya cukup lama. Dan hebatnya lagi, itu semua tidak mengurangi semangat dan keberanian beliau dalam memperjuangkan keadilan dan hak-hak kaum minoritas dan lemah.

Tiba-tiba saja saya teringat kejadian sekitar sepuluh tahun lalu, yaitu pada tahun 1999. Pada saat itu almarhum mengusulkan Bangsa Indonesia agar melakukan Rekonsiliasi Nasional – atau bahasa gampangnya untuk rujuk dengan Pak Harto yang pada saat itu baru saja digulingkan dari kekuasaan 32 tahunnya oleh gerakan mahasiswa yang salah satunya di motori oleh Prof. Dr. Amien Rais – yang hingga saat ini dikenal sebagai tokoh reformasi. Karena menurut Gus Dur, terlepas dari salah atau benarnya Pak harto – beliau sebagai manusia BIASA yang LUAR BIASA – tentu memiliki jasa yang besar terhadap bangsa ini dan tentu saja masih mempunyai pendukung yang tidak sedikit yang tidak rela kalau beliau yang sangat dihormati tersebut di kuyo-kuyo oleh mahasiswa dan para tokoh reformasi pada saat itu.

Dan Gus Dur mensinyalir bahwa berbagai kerusuhan yang terjadi di Republik ini pada saat itu tak lepas dari situasi tersebut. Tanpa bermaksud menuduh, tapi bisa saja para pendukung Pak Harto melakukan hal-hal yang kontra denga agenda reformasi dan kepentingan negara – hanya karena tokoh panutan mereka di hujat dimana-mana. Sebuah pemikiran yang manusiawi dan sebenarnya sangat naif – namun ketika itu suhu politik sedang panas-panasnya dan terjadi ketegangan yang luar biasa antara pendukung Suharto yang dianggap pro status quo dan pendukung reformasi di sisi lain – sehingga tak heran ketika ide Gus Dur yang naif itu langsung menuai kecaman.

Dari kejadian tersebut muncul berbagai pernyataan yang menyudutkan Gus Dur – salah satunya dan yang paling utama pada saat itu adalah pernyataan dari Amien Rais yang menyebut ide Gus Dur adalah lelucon terbesar di akhir tahun – dan bahkan Gus Dur sendiri dipertanyakan komitmennya terhadap reformasi dan keinginan untuk mewujudkan demokratisasi di Indonesia. Gus Dur tetaplah Gus Dur yang tidak mau ambil pusing dengan pernyataan orang – selama beliau meyakini sesuatu maka akan diperjuangkannya hingga akhir – meski hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Bahkan pada saat itu ada sebutan (lebih tepatnya ejekan) yang sangat terkenal bahkan hingga ke pelosok pedesaan (karena hebatnya pengaruh euforia media masa) bahwa Gus Dur adalah orang yang plin-plan.

Satu-satunya tokoh Nasional dari kalangan NU yang sejak reformasi – bahkan semenjak keduanya masih menjadi mahasiswa di Al Azhar – hingga saat ini adalah Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) dari Rembang yang memang paling mengerti tabiat dan karakter Gus Dur yang selalu memberikan penjelasan tentang sepak-terjang Gus Dur di panggung politik Indonesia melalui berbagai pernyataan sikap maupun komentarnya di media yang cenderung menenangkan situasi. Pada saat itu beliau menyebut bahwa Gus Dur adalah orang yang konsisten dalam prinsip – tetapi sekaligus fleksibel dalam tindakan – itulah yang bagi orang kebanyakan seperti sebuah sikap yang plin-plan.

Saya pribadi menganggap bahwa Gus Dur adalah seorang wirausaha sosial (Social Entrepreneur) yang selalu berjuang untuk membawa perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Dan karena ruang lingkupnya Nasional serta mencakup dunia politik, agama, ekonomi dan sosial budaya maka saya menyebut beliau sebagai wirausaha sosial yang sebenarnya. Berbeda dengan Muhammad Yunus yang mendapat nobel karena Grameen Bank-nya saya menganggap (tanpa bermaksud merendahkan salah satunya) Gus Dur jauh lebih dari sekedar memperjuangkan keadilan dalam akses keuangan bagi orang miskin. Beliau memperjuangkan keadilan dalam berbangsa dan bernegara khususnya bagi kaum minoritas dan lemah.

Tidak perlu lagi saya menyebut berbagai penghargaan untuk Gus Dur atas kontribusinya di dunia maupun di Indonesia, tapi satu hal yang saya yakini bahwa seorang wirausaha sosial adalah orang yang berani melakukan perubahan untuk menuju hal yang lebih baik dengan melewati berbagai tantangan dan kendala yang menghadang dengan tanpa mengharap apapun – atau kalau dalam bahasa agama disebut ikhlas.

Satu hal yang saya catat dari pribadi beliau adalah tidak pendendam dan sangat konsisten – yang menurut saya itu merupakan manifestasi dari sikap ikhlas diatas. Bukti terbesarnya adalah ketika beliau dijatuhkan oleh Sidang Istimewa (SI MPR) dua tahun kurang setelah diangkat sebagai Presiden RI dengan dalih politis (karena secara yuridis tidak terbukti bersalah dalam kasus Bulog Gate) dimana ketika itu para pendukungnya mengamuk dimana-mana bahkan dari Jawa Timur sudah merangsek ke Jakarta dengan menggunakan gerbong-gerbong kereta api dengan membawa senjata tajam yang terhunus – dan turun ke jalan untuk membela Gus Dur. Ribuan pendukung yang sangat militan tersebut siap dimobilisasi untuk apa saja – bahkan mereka menyebut sebagai pasukan berani mati – demi membela kehormatan Gus Dur. Bahkan saat itu saya tidak menyangka bahwa Gus Dur justru menenagkan masa pendukungnya dan menyuruh mereka pulang dengan tertib serta tidak melakukan huru-hara. Inilah sikap seorang pemimpin sekaligus guru besar yang sesungguhnya (meski bukan profesor) sehingga berbeda dengan seorang pemimpin yang penguasa.

Sangat kontras dengan berbagai kejadian di negara lain (atau di negri ini juga) dimana seorang pemimpin terguling justru memimpin pemberontakan fisik para pendukungnya – baik sipil maupun militer – untuk merebut kembali kekuasaannya. Atau yang kerap terjadi seorang pemimpin lebih banyak berlindung atau menggunakan kekuatan masa pendukungnay untuk mencapai ambisi pribadinya. Sejak saat itulah saya menaruh penghormatan setinggi-tingginya (dibanding sebelumnya) terhadap seorang kyai bernama KH. Abdurrahman Wachid yang telah menunjukkan kebesaran hatinya sebagai seorang pemimpin perubahan sekaligus wujud dari konsistensinya terhadap prinsip-prinsip yang selama ini diperjuangkannya yaitu keadilan dan perdamaian. Dan menariknya lagi Gus Dur yang memiliki prinsip bahwa mencegah kemungkaran harus didahulukan dibanding menegakkan keadilan itu ternyata konsisten dengan prinsipnya.

Sepuluh tahun berlalu, dagelan politik di penghujung tahun itu menjadi duka sosial politik di Indonesia. Selamat Jalan Gus..jika dahulu orang-orang mengejek engkau sebagai Presiden yang menjadi tuntutan karena kemana-mana dituntun oleh pengawal – maka biarlah sekarang teladanmu menjadi penuntun bagi mereka, kami, saya, dan seluruh anak bangsa ini. Engkau adalah seorang wirausaha yang sebenarnya – meski tidak mempunyai kekayaan yang menumpuk, atau perusahaan yang menggurita – karena engkau melakukannya semata demi bangsa. It’s the real social entrepreneur……!!?

Riyanto Suwito
0812 271 2426
https://riyantosuwito.wordpress.com
Iklan