Internet disebut banyak orang sebagai jaminan bagi sebuah bisnis atau individu untuk bisa sukses melalui marketing atau branding yang tidak terbatas waktu dan tempat. Hal inilah yang lantas membuat banyak orang ikut berpartisipasi atau lebih tepatnya meramaikan dunia maya yang bernama internet ini. Dari mulai bisnis kecil, bisnis rumahan, para profesional dan bahkan tidak sedikit perusahaan besar yang juga turut serta beralih pada media baru tersebut – yang disebut-sebut memiliki pertumbuhan yang eksponensial tersebut.

Namun asumsi tersebut masih terjebak pada kerancuan media dan isi atau antara container dan content. Asumsi tersebut kurang bisa memilahkan antara porsi masing-masing dalam kontribusi terhadap efektivitas sebuah program pemasaran (marketing) baik produk ataupun layanan – atau merk dan bisnis tersebut. Hal ini masih diperparah dengan situasi persaingan bisnis yang semakin ketat dibandingkan masa-masa sebelumnya. Sehingga sebuah program pemasaran yang sama dengan periode sebelumnya tidak mampu menghasilkan pendapatan bisnis yang sama – bahkan bisa jadi tidak menghasilkan apapun.

Foto dalam gambar diatas saya ambil beberapa hari lalu di daerah Kabupaten Semarang. Itu merupakan sebuah contoh pesan pemasaran yang sederhana – karena memang berada pada sebuah lingkungan bisnis yang tidak seketat di perkotaan. Media yang dipergunakan hanyalah sebuah papan pesan tradisional dengan isi pesan (content) yang sangat singkat, jelas dan padat – bahkan cenderung naif. Saya tidak tahu persis bagaimana efektivitas program marketing tersebut – karena pada saat saya berada disitu sedang tidak beroperasi alias tidak buka sehingga tidak sempat berbicara atau melakukan wawancara dengan si pemilik usaha tersebut.

Tetapi bisa dibayangkan jika disebelahnya ada orang yang sama-sama membuka usaha tersebut dan membuat pesan pemasaran sama dengan media yang juga sama. Tentu saja akan lain hasilnya bagi masing-masing pelaku bisnis tersebut – dan yang lebih parahnya justru membuat konsumen atau calon konsumen yang akan membeli layanan tersebut bingung harus memilih – meski pesan tersebut sangatlah jelas bahkan bagi anak kelas V SD (Sekolah Dasar).

Dan pada akhirnya semua pesan pemasaran atau komunikasi pemasaran saat ini harus bisa dipahami oleh kelas terendah dalam segmen pasar yang dibidiknya. Artinya, jika segmennya adalah anak-anak kelas V SD maka pesan pemasarannya harus bisa dipahami oleh anak kelas V SD yang paling bodoh sekalipun. Jadi, media apapun yang akan kita gunakan dalam menyampaikan pesan pemasaran kita – tapi haruslah tetap dipertahankan kesederhanaan (simplicity) pesan tersebut agar bisa dengan mudah dipahami oleh segmen pasar utama kita. Media dan isi haruslah saling mendukung dan melengkapi sehingga akan meningkatkan efektivitas sebuah pesan atau komunikasi pemasaran.

Anda tentu bisa memahami ketika sebuah pesan pemasaran dengan media papan yang dicat sendiri pada gambar diatas – berada di pedesaan pinggiran kota pegunungan – dengan sasaran (target) pasarnya adalah penduduk disekitar wilayah tersebut sudah lebih efektif dibandingkan dengan usaha yang sama tanpa melakukan program pemasaran apapun. Atau seperti kebanyakan usaha kecil yang hanya mengandalkan media (dan strategi) pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth). Meski itu sudah terbukti dan teruji keandalannya – tapi belum dalam hal kecepatannya.

 

Iklan