Selalu ada pro dan kontra (seperti biasa) dalam sebuah konsep – termasuk dalam hal inovasi – khususnya inovasi bisnis atau produk. Suatu pendapat mengatakan bahwa inovasi bisa terjadi karena adanya permintaan dari pasar atau konsumen – sehingga produsen yang mengerti kebutuhan pasar akan memenuhinya dengan mengembangkan produk/jasa baru – sesuai dengan permintaan tersebut. Ini merupakan aliran yang sering disebut dengan bisnis yang digerakkan pasar (market driven).

Sebaliknya, ada yang beraliran product driven (didorong oleh produk) – dan aliran ini biasanya didukung oleh para inovator yang melahirkan produk/jasa baru – untuk kemudian mengenalkan pada pasar dan jika beruntung akan menjadi pelopor dan pemimpin dalam bisnis tersebut. Jika gagal, paling akan menjadi pecundang dan bahan olok-olok dari sekitarnya.

Lantas bagaimana dengan judul tulisan ini? Ya, saya mengutip pernyataan Dr. Edward Deming yang terkenal itu. Beliau termasuk tokoh yang percaya bahwa inovasi hadir atau lahir karena inisiatif dari produsen berdasarkan pengetahuan dan skill yang dimiliki, ditambah pengalaman dan yang tidak kalah pentingnya adalah modal. Karena seringkali pasar tidak bisa begitu saja menerima sebuah produk baru – sehingga seorang entrepreneur yang menawarkan produk baru tersebut tidak bisa segera menghasilkan pendapatan dari bisnisnya. Sedangkan operasional perusahaan tetap membutuhkan biaya dan modal.

Dan yang tidak mungkin orang lupa – bahwa aktivitas pengembangan produk (product development) selalu membutuhkan biaya dan energi besar – yang itu juga belum bisa didapatkan dari konsumen atau pelanggan bisnis tersebut.

Lantas apa maksud dari tulisan ini? mungkin dalam hati anda akan bertanya-tanya! Maksud saya sangatlah sederhana, jika anda adalah wirausaha yang inovatif dan memiliki gagasan-gagasan besar – tetaplah menjaga semangat itu – dan jangan terganggu dengan pernyataan-pernyataan yang bernada melemahkan semangat anda. Mungkin anda pernah mendengar pernyataan seperti ini, “jangan pernah mendikte pasar”, atau “jangan membuat pasar – tapi layanilah pasar”. Atau jadilah pelayan pasar!

Saya tidak mengatakan bahwa itu salah – tetapi seperti yang saya tulis diawal – bahwa ini besar kemungkinan merupakan pernyataan dari kelompok pertama, yaitu kelompok market driven – dan sangat tepat jika anda memang masuk kategori yang se-aliran dengan mereka.

Siapa (pasar mana) yang meminta dibuatkan mobil, handphone, mesin fotocopy atau hasil-hasil inovasi yang sekarang sudah menjadi hal umum tersebut? Tetapi mengapa semua itu diterima pasar dan entrepreneur yang bersusah-payah untuk menghasilkan produk-produk tersebut pada akhirnya akan menjadi orang termashur dan sukses.

Tapi layak juga diingat bahwa tidak semua inovator bisa menikmati jerih-payahnya, bahkan bisa jadi bernasib tragis. Contoh yang tidak terlalu tragis barangkali Dvorak – yaitu sebuah papan ketik (keyboard) ergonomis yang dirancang sangat pas dengan manusia – tapi nyatanya tidak diterima pasar.

Dan papan ketik Qwerty yang memiliki susunan kacau justru menjadi konsumsi publik dari mulai mesin ketik, komputer – dan bahkan sekarang sudah menajdi tren dalam dunia seluler – sehingga hampir semua vendor berlomba memproduksi handphone dengan keypad Qwerty – yang dulunya juga mungkin saja tidak ada yang minta dibuatkan keypad/keyboard yang kacau semacam itu.

Dunia bisnis memang penuh dengan paradoks dan ironi – tetapi itulah yang membuat bisnis tetap berjalan – dan bahkan terus (dan akan terus) berkembang dari waktu ke waktu.

Maka tak heran jika ada istilah yang sangat populer berbunyi, “Inovasi atau Mati!” – meskipun ada juga yang sudah ber-inovasi dan (toh) pada akhirnya akan tetap mati!

Saya sangat yakin bahwa semua yang HIDUP bukan sekedar menunggu giliran untuk MATI – ini adalah salah satu semangat kewirausahaan (entrepreneurship). Hanya saja, ada makhluk hidup yang (sedang) tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengisi hidup..?! Atau terpaksa bertindak apa adanya untuk tetap bisa bertahan hidup. Ini merupakan karakter negatif yang banyak berjangkit dikalangan pelaku usaha kecil (UMKM) di negri ini. Meski banyak juga pengusaha besar yang terjangkit penyakit semacam ini.

Golongan inilah yang perlu segera dibantu dan terus dimotivasi – sebelum meracuni dan merusak motivasi yang lainnya. Dan idealnya ini menjadi prioritas dan otoritas pemerintah untuk melakukannya.

Iklan