Banyak orang di negri ini – termasuk saya “merasa” ikut dipusingkan dengan berbagai persoalan, masalah , kendala atau apapun istilahnya yang terjadi di negri ini secara silih berganti. Walapun sebenarnya kalau kita mendengar petuah para bijak, hidup itu memang tidak lain dari mengatasi tantangan yang satu dan berpindah ke tantangan berikutnya – begitu seterusnya – selama kita masih hidup.

Demikian pula yang terjadi dengan sebuah negara, seperti juga rumah tangga tentu tak luput dari berbagai kendala dan tantangan yang datang silih-berganti. Seolah-olah bergiliran minta untuk dihadapi dan diselesaikan. Seperti anak kecil yang selalu mencari dan mencuri perhatian dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Namun memang jika persolan dan tantangan tersebut datang bagaikan air bah ataupun laksana pukulan karate dan tinju – akibatnya bisa membuat kita terjerembab – atau minimal mati kutu. Meski inipun sebenarnya akibat kesalahan kita yang tidak segera menyelesaikan masalah satu demi satu sebelum tiba waktunya masalah penting (important) tersebut menjadi mendesak (urgent). Kita akan lari dari kenyataan ini? tentu tidak akan menyelesaikan masalah – justru menimbun dan menyiapkan bom waktu – yang siap meledak kapan saja.

Saya tidak bermaksud terlalu menyederhanakan atau justru menyepelakan persoalan yang saat ini tengah dihdapai seluruh komponen bangsa ini. Tetapi menurut saya banyak masalah yang saat ini ada bersumber dari kesenjangan (gap). Ketika kesenjangan-kesenajngan dalam berbagai bidang tersebut semakin melebar – maka masalah tersebut seolah sudah tak bisa lagi diselesaikan – dan seringkali menjadi kabur. Imbasnya tentu saja menjadikan tindakan mata gelap, reaktif dan sejenisnya yang jauh dari efektif – bahkan menambah persoalan baru.

Berikut ini daftar kesenjangan yang menurut saya menjadi akar berbagai masalah tersebut, yaitu:

  • Kesenjangan pusat–daerah
  • Kesenjangan desa–kota
  • Kesenjangan kaya–miskin
  • Kesenjangan politisi–birokrasi
  • Kesenajngan citra–realita
  • Kesenjangan pemerintah–swasta
  • Kesenjangan teori–praktek
  • Kesenjangan bisnis–sosial
  • dll

Saya tidak perlu menguliti dan mengupas hal-hal tersebut satu-persatu karena saya percaya sudah banyak yang tahu dan bahkan lebih paham. Hanya yang ingin aya ingatkan bahwa utnuk mengatasai berbagai persoalan tersebut intinya adalah memperkecil kesenjangan dan bukan sebaliknya.

Jadi, dalam bidang apapun seperti diatas solusi dan formula yang akan diterapkan untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa ini harus dikembalikan pada fungsi pokok – yaitu untuk mengurangi kesenjangan – jika tidak bisa menghilangkannya. Indikator capaiannya adalah, apakah kebijakan, tindakan, program atau aksi yang direncanakan dan diimplementasikan itu akan mengurangi kesenjangan ataukah sebaliknya. Sederhana sekali bukan..?!

Meski ini baru dalam tataran ide – dan tentu saja ada kesenjangan dengan praktek atau implementasinya. Jika ide yang sederhana saja bisa menjadi rumit dalam prakteknya, bagaimana dengan ide yang sudah rumit?

Jangan tanya kenapa….!? Bertanyalah (pada pikiran anda) bagaimana caranya?

Iklan