Tulisan ini memang terinspirasi oleh komentar rekan-rekan pengusaha muda Jogja yang tergabung dalam TDA Jogja di status situs jejaring sosial yang tengah naik daun di seluruh dunia, yaitu facebook. Tentu sangat wajar jika sebagai pengusaha obrolan dan diskusinya tak jauh dari soal bisnis-nya dan bagaimana mengembangkan lebih lanjut. Ada banyak pendekatan dan cara dalam pengembangan sebuah bisnis. Dan tampaknya akhir-akhir ini sistem waralaba (franchise) sedang menjadi idola para pengusaha dalam rangka mengemabngkan bisnisnya dengan cepat.

Dan tampaknya gayung-pun bersambut karena ada banyak juga calon pengusaha baru yang lebih senang dengan model bisnis tersebut karena kemudahan sistem bisnis yang ditawarkan – selain biasanya juga merk yang sudah cukup dikenal – sehingga seorang calon pengusaha atau mantan karyawan yang ingin menjadi pengusaha, atau bahkan karyawan yang nyambi jadi pengusaha tanpa harus repot berpikir tentang pengembangan sistem bisnis yang akan dijalaninya. Cukup menyediakan modal sesuai dengna yang disyaratkan oleh pewaralaba.

Sayangnya, tidak semua bisnis memenuhi syarat atau layak untuk dijadikan bisnis waralaba. Lantas bagaimana dengan bisnis rekan-rekan yang lain – khususnya yang tidak memenuhi kriteria – untuk menjadi bisnis waralaba? Jawabannya bisa sangat beragam dan terkadang bisa juga sulit dijawab.

Lantas apakah kita harus diam saja dan menunggu bisnis tersebut tumbuh dan berkembang dengan sendirinya? rasa-rasanya itu hal yang cukup mustahil – terlebih untuk situasi bisnis saat ini – yang demikian cepat bergerak dan berubah dalam hitungan yang tidak lagi bisa menunggu. Tentu ini tak lepas dari pengaruh globalisasi dan revolusi teknologi khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Anda mungkin akan diam dan termangu karena merasa tidak berdaya lagi menghadapi situasi yang demikian sulit diantisipasi.

Hal ini yang sering saya dengar dari keluhan para pengusaha mikro di pedesaan – yang biasanya memang berlatar belakang pendidikan rendah dan kurang wawasan baik soal dunia usaha maupun teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya. Bahkan banyak yang akhirnya mengeluh, “Wah masih lebih enak jamannya Pak Harto (Presiden RI kedua) yaa..?!” orang jualan masih gampang, harga-harga stabil, dan persaingannya masih sedikit. Begitu kebanyakan keluhan yang mereka sampaikan.

Beda ceritanya ketika para pengusaha yang menghadapi situasi ini adalah para pengusaha muda yang berlatar belakang pendidikan tinggi, berwawasan luas, melek teknologi dan tidak pernah ketinggalan informasi. Mestinya reaksi yang muncul harus berbeda dibandingkan – kasus yang sama – yang dialami oleh para pelaku usaha mikro diatas. Tapi bukan berarti juga bahwa akan sangat mudah langkah yang akan dilakukan dan situasi yang dihadapi oleh para jagoan baru (pengusaha muda terdidik) kita ini. Bahkan seringkali sama beratnya dengan yang dirasakan oleh mereka-mereka yang dikampung – cuma dengan skala dan situasi yang berbeda.

Untuk tidak menambah pusing langsung saya saya sampaikan bahwa kunci pertumbuhan bisnis itu terletak pada kata perubahan (change). Apakah anda bisa menerima argumentasi bahwa pertumbuhan itu juga selalu diiringi dengan perubahan? Artinya bahwa bisnis yang tumbuh pastilah berubah – bisnis yang berkembang-pun demikian adanya. Jadi, sekali lagi kuncinya adalah perubahan. Ketika kita menginginkan pertumbuhan maka kita harus mulai melakukan perubahan – dalam hal apapun terkait dengan bisnis kita. Apakah perubahan ini lantas otomatis akan mendorong pertumbuhan? belum tentu! tapi bahwa jika tidak berubah maka tidak ada pertumbuhan. Bahkan bisa jadi tanpa melakukan perubahan yang akan kita hadapi adalah penurunan bisnis kita tersebut.

Selanjutnya pasti akan ada yang bertanya, perubahan seperti apa yang harus kami lakukan?

Pertama, dan ini yang paling utama adalah perubahan mental si pengusaha. Jika anda dahulu menjadi pengusaha adalah karena anti kemapanan atau menyukai perubahan – sadarilah bahwa seiring waktu berlalu – anda akan terbiasa dan merasa nyaman dengan kondisi bisnis yang anda geluti. Inilah yang harus diingat. Jadilah seperti anda ketika mulai memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, yaitu orang yang bersahabat dengan perubahan.

Kedua, lihatlah kembali dua hal dari bisnis anda – karena ini yang bisa anda ubah secara langsung – yaitu, produk dan proses bisnis anda. Cobalah untuk mencari peluang perubahan dari keduanya atau minimal salah satunya. Misalnya produk anda, mungkin saat ini sudah jenuh dan membosankan – maka saatnya anda untuk meremajakan produk tersebut – atau bisa juga dengan mengembangkan produk yang baru.

Atau dalam hal proses bisnis, anda yang tadinya memproduksi sendiri — bisa saja mulai mencoba untuk meng-outsource dari pihak lain — dan anda sendiri bisa memfokuskan pada pemasarannya atau pengembangan produk atau desain produknya. Atau proses bisnis yang tadinya dilakukan si pengusaha sendiri bisa di delegasikan kepada karyawan.

Jika belum ada tentu anda butuh untuk merekrut karyawan – dan ini pasti membutuhkan tambahan anggaran biaya operasi bisnis anda – tapi ini adalah sebuah perubahan yang anda sengaja dan tentu anda juga harus menyiapkan strategi untuk menghadapinya. Dari dua hal tersebut anda sebenarnya sudah bisa memulai perubahan bahkan mungkin revolusi bisnis – yang tentu saja diharapkan akan menghasilkan peningkatan atau pertumbuhan yang juga revolusioner.

Ini hanya soal pilihan, apakah anda akan berubah karena tuntutan keadaan? ataukah anda merubah diri dan bisnis anda sendiri sehingga mampu me-respon perubahan dan bahkan melampaui perubahan di luar dan mendapatkan pertumbuhan untuk bisnis anda.

Iklan