Begitulah saya menyebutnya..kutukan (curse) kalau dalam dongeng atau cerita adalah sesuatu yang menimpa seseorang dan baru akan hilang jika ada syarat tertentu telah terpenuhi. Nah, kalau dalam kasus saya sebenarnya bukanlah benar-benar sebuah kutukan seperti dalam dongeng, hanya saja ini untuk memudahkan penjelasan dalam tulisan ini.

Kutukan itu seolah-olah berbunyi demikian, “saya sulit menjadi entrepreneur karena saya adalah keturunan pedagang..!” Lho, kok bisa? begitulah reaksi spontan dari orang yang mendengarnya. Ceritanya berawal dari ibu saya yang kebetulan menjadi anak yatim sejak kecil. Beliau ditinggal kakek saya ketika masih kanak-kanak dengan 6 (enam) orang saudara yang juga kesemuanya masih kecil. Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sekeluarga, mbah putri saya terpaksa menjual tanah dan sawah yang dimiliki sedikit-demi sedikit. Bahkan ketika tanah sudah habis, tak jarang perabot baik yang ada di rumah maupun menempel pada bagian-bagian rumah juga dilego demi sesuap nasi.

Karena semakin terdesak kebutuhan itu, anak-anak yang masih kecil tersebut juga turut membanting tulang ikut bekerja pada orang lain di sawah – karena kebetulan berada di kampung – dan lapangan kerja yang ada hanyalah di sawah. Selain itu mbah putri mulai mencoba-coba untuk berdagang ke pasar. Dagang apa saja, mulai dari dedak (katul) sampai berjualan ayam-pun pernah dilakoninya. Cuma, ini keyakinan mereka semua pada saat itu – termasuk ibu saya bahkan sampai sekarang – bahwa mbah putri orang yang tidak tegaan alias rasa belas-kasihan-nya terlalu besar sebagai seorang pedagang.

Inilah yang menjadi penyebab ketidaksuksesan beliau dalam berdagang atau berwirausaha tersebut. Pernah, suatu ketika – seperti pentuturan ibu dan budhe saya (ibu adalah anak ketiga dari 7 bersaudara) – mbah putri pergi ke pasar untuk berjualan katul. Karena dagangan habis, pulanglah mbah putri dengan membawa berbagai macam kebutuhan pokok dan jajanan untuk anak-anaknya dari uang hasil penjualan dagangan tersebut.

Ketika melewati rumah tetangga, beliau melihat seorang anak kecil yang menangis karena kelaparan – beliau mampir dan akhirnya memberikan sebagian bawaannya untuk anak tersebut – beliau tidak tega melihatnya. Selanjutnya dalam perjalanan pulang selanjutnya, beliau melewati rumah tetangga yang lain yang juga katanya masih saudara – hal ini sangat wajar karena mbah putri adalah keturunan asli di kampung tersebut, sehingga hampir semua penduduk desa “katanya” adalah saudara – beliau bertemu orang yang sakit dan lagi-lagi merasa iba sehingga meninggalkan barang bawaannya di situ. Akhirnya beliau sampai di rumah dengan tangan yang kosong – padahal sedang ditunggu oleh anak-anaknya sendiri yang juga kelaparan.

Itulah pangkal cerita dari “kutukan” saya di awal tulisan ini. Sebagai cucunya, menurut ibu – yang melahirkan dan membesarkan saya tersebut – saya dianggap menjadi “pewaris sah” sifat mbah putri tersebut di atas. Sehingga ibu menganggap saya tidak bisa untuk menjadi seorang pedagang (wirausahawan) karena alasan tersebut. Padahal ibu dan bapak saya adalah seorang pedagang yang cukup sukses untuk ukuran di kampung kami – tetapi menurut beliau seharusnya bisa lebih jika kedua orang tua saya tegelan (tidak punya rasa iba). Dan sejak SD (Sekolah Dasar) saya sudah terlibat dalam perdagangan dalam rangka membantu kedua orang tua saya tersebut. Namun ketika beranjak dewasa, ibu lebih suka dan berharap saya menjadi pegawai, guru atau dosen dan pekerjaan intelektual lainnya. Karena menurut mereka berdagang bagi mereka adalah “keterpaksaan” karena kurangnya pendidikan (ibu saya cuma sekolah sampai SMEP – itupun tidak tamat) dan bisnis dianggap sebagai dunia yang kejam serta profesi yang kurang terhormat. Terlebih saya adalah seorang sarjana ekonomi, yang lebih pantas untuk bekerja di belakang meja dengan pakaian rapi dan bersih – atau istilah mudahnya perlente.

Sekarang saya bukan lagi anak-anak yang tinggal bersama mereka, tetapi sudah menjadi kepala keluarga dengan dua orang anak. Dan sebagian cita-cita ibu sudah saya penuhi. Saya mengajar sebagai guru dan dosen, pernah juga bekerja sebagai pegawai di kampus swasta dengan berbagai jabatan yang menurut orang-orang dianggap terhormat. Meskipun pada akhirnya saya memilih keluar dan bertekad untuk berwirausaha, namun keinginan untuk tidak membantah kemauan orang tua terlalu besar untuk membuat saya “berani” meninggalkan semua dunia profesional dan menekuni wirausaha sepenuhnya.

Akhirnya saya memilih menjadi seorang Self Employee (SE) – demikian menurut istilah Robet T. Kiyosaki dalam Cash Flow Quadran-nya.  Saya menjadi seorang trainer dan konsultan memanfaatkan keahlian yang saya miliki sebagai seorang sarjana ekonomi jurusan akuntansi – dan kebetulan juga pernah bekerja di KAP (Kantor Akuntan Publik).  Selain tentu saja karena saya merasa memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan dan pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia). Aktifitas ini telah berjalan kurang lebih 3 (tiga) tahun dan sebenarnya cukup sukses – tapi selama itu pula saya selalu berusaha untuk naik kelas – alias ingin menjadi Business Owner (BO).

Nah, pada titik itulah saya “dianggap” gagal (meski saya tetap kekeuh tidak mau mengakuinya…!?) oleh semua orang – terlebih keluarga terdekat saya – dan kembali ini menjadi bukti kutukan di atas. Karena semua inisiasi bisnis saya gagal dan biang keladinya menurut mereka adalah sifat mudah iba yang melekat pada diri saya. Mereka menganggap saya adalah anak baik (good boy) dan sudah selayaknya bersyukur dengan apa yang saya miliki tersebut, dan tidak usah neko-neko untuk menginisiasi berbagai macam ide bisnis yang menurut mereka harus menjadi makhluk yang kejam dan mengesampingkan kemanusiaan jika ingin berhasil. Karena itulah ibu tetap bersikukuh, saya diminta tetap bekerja sebagai profesional dan lebih memikirkan keluarga daripada memikirkan hal-hal yang menurut mereka tidak membumi (realistis) tersebut. Atau, jika ingin menjadi wirausaha lebih baik pulang ke kampung halaman dan meneruskan usaha orang tua. Ini dianggap lebih realistis karena tinggal meneruskan warisan mereka saja – dibandingkan harus merintis sendiri dari awal.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa memang orang-orang yang sejaman dengan ibu saya masih memiliki pandangan bahwa bisnis dan perdagangan atau dunia wirausaha itu kotor, kejam dan terkadang tidak manusiawi. Itulah yang disebut oleh Hermawan Kartajaya sebagai era polarisasi dalam bisnis – yaitu betul-betul memisahkan bisnis dan dan sosial kemanusiaan, atau urusan dunia dan akhirat.

Dan bahkan bukan hanya mereka-mereka yang sejaman dengan ibu saya – tetapi yang masih muda sekalipun – yang notabene baru memulai usaha saat inipun masih banyak yang memiliki pandangan semacam itu. Meski sudah banyak pula yang mulai masuk ke era kedua, yaitu era balancing, yaitu ketika orang menyadari bahwa cara berbisnisnya kotor dan mereka mulai membersihkan dengan cara-cara ber-amal atau menyumbang untuk keperluan kemanusiaan. Atau kalau dalam korporasi sekarang dikenal dengan konsep CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan.

Padahal sudah saatnya kita memasuki era ketiga yaitu, era konvergensi – dimana bisnis dan sosial seharusnya menjadi satu kesatuan yang bisa saling melengkapi dan bukan sebaliknya justru saling bertentangan dan dipertentangkan – hal ini terbukti dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan dan sulit diatasi dengan berbagai skema dan sistem yang masih men-dikotomikan ekonomi dan sosial.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menentang pendapat itu, meski ibu saya tidak mengenal internet dan tidak akan membaca tulisan ini. Tetapi lebih pada keyakinan saya pribadi bahwa ketika kita secara frontal menentang pendapat orang lain – bukan keberhasilan yang kita dapat – melainkan perlawanan yang semakin kuat. Dengan demikian saya tidak akan memaksakan pandangan saya soal konsep kewirausahaan (yang ideal menurut saya) diatas kepada para pembaca sekalian (termasuk pada ibu saya sendiri), namun semoga sepenggal cerita saya tersebut akan membuka mata dan wacana – dan yang lebih penting adalah menguatkan keyakinan saya pribadi bahwa kegagalan-kegagalan yang saya alami bukanlah karena keyakinan saya yang keliru – tetapi karena saya belum mampu mengatasi berbagai kendala yang muncul dalam dunia yang tidak ideal ini.

Ini hanya soal waktu untuk membuktikan kepada orang-orang yang saya cintai serta tanah air, negara dan bangsa ini bahwa saya mencintai mereka dan sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Syaratnya saya harus mampu menghilangkan kutukan tersebut dengan lebih banyak belajar, lebih sabar dan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Dan bukan menyalahkan orang lain atau kondisi (yang biasanya lebih mudah) atau mengikuti keyakinan orang lain yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang saya yakini. Karena jika demikian, saya yakin justru akan mengalami kegagalan yang sesungguhnya.

Selamat datang di era konvergensi…!

Iklan