Umumnya mimpi terjadi pada waktu malam, atau menjelang subuh atau tepat tengah malam. Itu adalah mimpinya orang yang tidur. Bahkan ada yang menyebut mimpi itu sebagai kembangnya tidur. Meski ada sebagian orang (Jawa-khususnya) yang masih menggunakan mimpi dalam rangka menafsirkan hal-hal yang akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka di masa yang akan datang – alias yang belum terjadi. Kalau mimpi tentang kejadian yang telah dialami – itu disebut “kethontho” – maksudnya pengalaman yang sampai terbawa dalam mimpi.

Lantas apa yang menjadi masalah ketika sebagian orang mengatakan bahwa sebuah bangsa atau secara individu susah untuk berkembang dimasa depan dikarenakan tiadanya impian dari yang bersangkutan. Seperti misalnya sebagian orang yang mengatakan bahwa untuk bermimpi memiliki kehidupan yang lebih sejahtera di Indonesia ini – tidak berani. Apakah begitu mengerikannya sebuah mimpi itu? sampai-sampai untuk bermimpi saja orang Indonesia sudah tidak lagi berani.

Pertanyaannya, mimpi seperti apakah yang seharusnya kita miliki? apakah mimpi yang indah-indah dan terjadi di waktu malam ketika kita tengah terlelap? ataukah mimpi-mimpi yang memang kita sadari – atau bahkan memang kita sengajakan untuk memimpikannya. Mungkin inilah yang disebut banyak orang sebagai mimpi di siang bolong. Lantas apakah ini tidak berguna sama sekali? ataukah ini merupakan awal dari mimpi-mimpi yang akan memasuki alam bawah sadar (sub consciousness) kita.

Sepertinya kita harus sedikit menggunakan pendekatan meta kognisi atau ilmu tentang cara kerja pikiran untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas. Mekanisme pikiran kita memang lebih banyak dikendalikan oleh pikiran bawah sadar (sub conscious mind) dibandingkan pikiran sadar (conscious mind) kita – bahkan beberapa sumber mengatakan perbandingan kekuatannya adalah 9:1 (sembilan banding satu). Otomatis pikiran bawah sadar lebih sering memenangkan pertarungan ide atau gagasan dibandingkan pikiran sadar dalam mengendalikan kehidupan kita. Sehingga sangat wajar apabila siapa kita di masa lalu – masih seringkali sama dengan kondisi saat ini – karena tidak mudah untuk keluar dari permainan pikiran kita sendiri yang telah membentuk perilaku atau habit.

Tapi bukan berarti bahwa kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa ketika hidup kita sudah dikendalikan oleh habit atau perilaku yang negatif – meski sebenarnya kita tidak menginginkannya. Salah satunya yaitu dengan menggunakan teknik yang disebut sebagai “afirmasi”. Dengan teknik ini kita akan bisa mempengaruhi pikiran bawah sadar kita dengan ide atau gagasan baru yang kita harapkan bisa membentuk perilaku dan kebiasaan yang baru – yang tentu saja lebih positif dibandingkan sebelumnya. Lantas apa kaitannya afirmasi dengan mimpi di siang bolong di atas?

Afirmasi pada prinsipnya adalah mempengaruhi pikiran sadar kita dengan skrip baru yang kita harapkan, caranya bisa dengan kata-kata motivasi atau dengan cara visualisasi atau penggambaran dalam pikiran kita. Inilah yang saya anggap sebagai mimpi di siang bolong itu. Apakah ini bisa bekerja atau berjalan? Jawabannya, tergantung! Maksud saya ada syarat dan kondisi tertentu yang harus dipenuhi untuk berhasilnya proses tersebut. Kalau lebih jelasnya, anda bisa mempelajari melalui buku-buku tentang motivasi atau self help – khususnya tentang ilmu atau teknologi pikiran.

Tetapi, secara sederhana cara kerjanya bisa kita gambarkan seperti berikut:

Pertama, dengan “bermimpi” secara sadar itu sama artinya kita sedang melakukan visualisasi atau mempengaruhi pikiran sadar kita melalui citra atau gambaran-gambaran yang bisa dicerna atau dipahami pikiran kita. Ini didasari oleh teori yang mengatakan bahwa cara kerja pikiran bawah sadar lebih banyak menggunakan citra atau gambar. Jadi, penggambaran atau visualisasi atau bermimpi di siang bolong itu bisa disebut sejalan dengna prinsip kerja pikiran bawah sadar.

Kedua, jika kita mempengaruhi kedua jenis pikiran kita dengan input yang sama maka potensi keselarasan keduanya akan lebih besar. Atau dengan kata lain, hal ini akan menghidnari terjadinya konflik pikiran – yaitu perbedaan antara pikiran sadar dan bawah sadar – yang seperti sudah saya sebutkan diatas tidak seimbang dan potensi kemenangan ada pada pikiran bawah sadar.

Ketiga, dengan melakukan visualisasi dalam kondisi sadar itu juga berarti kita sedang melakukan penyimpangan memori sementara. Dan pada saatnya nanti, yaitu ketika kita tidur – informasi baru tersebut akan di download ke dalam pikiran bawah sadar kita dan akan menjadi sebuah nilai baru – meski untuk bisa mempengaruhi sikap dan tindakan kita tidaklah semudah dan secapat itu.

Kesimpulannya, mimpi di siang bolong-pun ada manfaatnya untuk kita secara pribadi maupun kelompok – tentu saja dengan catatan bahwa itu adalah mimpi yang baik alias positif. Bahkan ada orang yang agak sinis mengatakan, “jika mimpi saja kita tidak berani apalagi melakukannya?!”. Maka tidak ada salahnya kita mulai memimpikan tentang diri kita, keluarga kita, desa kita, kawan-kawan kita, negara kita menjadi lebih baik dan terus lebih baik di masa depan. Kata orang-orang bijak, yang penting bukan siapa diri kita sekarang – tetapi ingin seperti apa kita dimasa depan.

Share

Iklan