Tentu saja tulisan ini memang terinspirasi oleh kondisi politik dan kepemimpinan di Indonesia akhir-akhir ini. Bukan maksud saya untuk ikut-ikutan menghakimi para pemimpin atau untuk membela mereka. Toh saya bukan jubir, penasehat atau bawahannya yang notabene harus loyal. Saya juga bukan anggota tim anu, komisi itu atau badan inu (maksudnya ini dan itu..?!). Saya rakyat biasa sama seperti mereka yang sekarang berada di jalan, di pasar, di sekolah ataupun di tempat-tempat lain di seluruh pelosok negeri ini.

Kembali ke soal pemimpin dan kepemimpinan, ada sebagian orang berpendapat bahwa pemimpin bukanlah penguasa – sedangkan yang lain justru sebaliknya – pemimpin adalah penguasa alias memiliki kekuasaan atas sesuatu. Sehingga tidak heran jika seorang Presiden disini dianggap sebagai penguasa negri ini. Meski ada yang menafsirkan penguasa sebagai pemimpin yang otoriter atau lalim. Istilah tersebut memang lebih sering digunakan dalam konteks politik atau pemerintahan yang otoriter. Misalnya saja, dulu kita sering mendengar istilah “penguasa orde baru” untuk menyebut Presiden Soeharto – tapi tentu saja sebutan itu setelah pemerintahannya ditumbangkan oleh gerakan reformasi pada tahun 1998 lalu – sebelumnya sangat jarang istilah tersebut kita dengar.

Secara umum kita mengenal tiga jenis pemimpin berdasarkan karakteristik individunya, yaitu: otoriter, demokratis dan permisif. Masing-masing memiliki kebaikan dan keburukan alias memiliki dua sisi. Pemimpin otoriter cenderung memiliki ketegasan dan kapasitas untuk memberi arahan (direction) sehingga pemimpin ini dikenal lugas dan efektif dalam membawa masyarakat yang dipimpinnya menuju ke arah yang diinginkan. Itu satu sisinya, sedangkan disisi lain karena karakternya yang otoriter cenderung sulit menerima masukan dan mengakomodasi kepentingan komunitas yang dipimpinnya. Dan model ini memiliki kecenderungan besar untuk menyalahgunakan kekuasaan.

Tetapi pemimpin jenis ini tepat ketika memimpin kelompok yang kurang terdidik dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Karena memang sulit untuk mengharapkan partisipasi dari anggota kelompok yang dipimpinnya, karena memang kurangnya kapasitas untuk berpartisipasi. Sedangkan pemimpin model kedua, yaitu demokratis tepat berada dalam situasi dimana anggota kelompok yang dipimpinnya sudah mencapai taraf pengetahuan yang mencukupi dan merata secara kualitas, serta didukung semangat partisipasi yang tinggi. Memang tetap saja kurang efektif alias lambat dalam mencapai tujuan karena harus mengakomodir masukan dan suara-suara dari bawah – yang celakanya biasanya sangat beragam – hal ini yang membuat seorang pemimpin otoriter tidak akan sabar menunggu.

Karenanya tidak heran jika masyarakat kelas bawah di perdesaan sering mengeluhkan kondisi saat ini dan di saat tertentu merindukan masa lalu yang katanya jauh lebih tentram dan makmur. Padahal tujuan manusia berkelompok tentu saja agar lebih makmur. Hal ini sudah merupakan kesadaran semua orang sebagai makhluk sosial. Tantangan pemimpin demokratis adalah merumuskan kebijakan atau mengambil keputusan (making decission) terbaik dari berbagai alternatif dan masukan dari berbagai pihak. Ini memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan – sayangnya inilah yang harus dilakukan. Dan semua orang tahu, tidak ada keputusan yang akan menyenangkan semua orang.

Bahkan ada sinisme yang mengatakan, “cobalah untuk menyenangkan semua orang, dan yakinlah anda pasti akan gagal!”. Memang, setahu saya juga belum ada yang bisa membantah sinisme di atas – setidaknya sampai dengan saat ini – entah ke depannya nanti. Nah, selanjutnya tipe pemimpin yang terakhir adalah permisif. Pemimpin ini cenderung membiarkan sistem dan mekanisme berjalan dengan sendirinya. Hal ini didasari asumsi bahwa bawahan atau orang-orang yang dipimpinnya sudah cukup pintar dan mampu menjalankan fungsinya masing-masing. Padahal pada kenyataannya tidak ada kondisi “ideal” yang demikian itu. Kata orang tipe pemimpin ini lebih tepat disebut sebagai manajer, alias pengelola dan bukan pemimpin. Dan lebih tepat ketika dihadapkan pada organisasi yang sistematis dan memiliki SDM yang kredibel. Ini diidentikkan dengan pemimpin divisi pada perusahaan-perusahaan besar atau korporasi yang mapan.

Meskipun akhir-akhir inipun hal itu dianggap sudah tidak relevan karena ternyata korporasi-pun menghadapi tantangan yang juga sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Terlebih jika kepemimpinan ini terkait dengan sebuah komunitas masyarakat besar yang bernama negara (state) atau bangsa (nation) yang jelas tantangannya jauh lebih kompleks dibandingkan sebuah korporasi – sebesar apapun ukurannya. Tapi juga bukan bermaksud merendahkan para presiden korporasi yang mampu memimpin perusahaannya mencapai kemakmuran itu. Misalnya saja IBM, Microsoft, Dell atau kalau di Indonesia semacam Bakrie Group, Medco, atau Bukaka Group, Salim dan yang lainnya. Tapi bahwa memimpin republik ini jauh lebih kompleks dan rumit.

Kembali kepada pemimpin jenis ketiga tersebut diatas, biasanya hal tersebut memang berasal dari pembawaan atau tempaan individu pemimpin yang bersangkutan. Disamping kesadaran akan siapa yang dipimpinnya. Lantas pertanyaannya, tipe mana yang tepat untuk kondisi Indonesia? Otoriter, demokratis ataukah permisif? Jawabannya adalah semuanya. Ya, saya tidak sedang bercanda!? Idealnya seorang pemimpin dimanapun memang harus mengadopsi ketiga karakter kepemimpinan di atas – termasuk pemimpin di negeri ini. Cuma masalahnya ternyata tidak semudah itu dalam praktiknya, karena sudah bukan rahasia lagi kalau pemimpin otoriter cenderung kurang atau bahkan tidak demokratis. Demikian pula sebaliknya, pemimpin demokratis cenderung kurang lugas dan “tidak bisa” berbuat otoriter, bahkan dengan alasan kemendesakan dan efektivitas tujuan demi kebaikan sekalipun.

Bahkan bisa jadi, seorang pemimpin permisif bukan terbentuk karena kesadaran akan kuatnya sistem atau kesadaran tentang kekuatan tim-nya, tapi bisa dikarenakan “lelahnya” kapasitas sebagai seorang demokratis. Hal ini bisa terjadi karena desakan yang terlalu kuat dari “bawah” tanpa partisipasi yang “memadai”.

Akhirnya…saya berharap bahwa siapapun pemimpin negri ini semoga bisa menjadi Super Leader, tim kerjanya menjadi Super Team dan rakyatnya bisa menjadi Super People. Saya sendiri sedang berusaha menjadi Super Dad…dan istri saya tidak mau kalah, ingin menjadi Super Mom…mohon do’a-nya…!? hehehe…

[Untuk Indonesia yang lebih baik…amiin]

Iklan