Tulisan ini seharusnya sudah saya tuangkan sejak dulu – tepatnya bertahun yang lalu semenjak saya bergaul dengan bisnis kecil atau UMKM. Tetapi kepercayaan diri saya belum cukup untuk mengatakan pada saat itu bahwa masalah usaha kecil umumnya adalah kurangnya pelanggan atau rendahnya penjualan – dan ujungnya kecilnya laba atau keuntungan dari usahanya – yang sayangnya harus bisa menutup semua kebutuhan bisnis tersebut dan juga kebutuhan pemiliknya.

Yang disebut terakhir justru yang sering menjadi legitimasi bahwa sebuah bisnis membutuhkan pinjaman. Dan setelah ditelusuri memang demikianlah adanya. Karena besarnya kebutuhan pribadi dan keluarga si pengusaha tidak selalu diimbangi dengan besarnya pendapatan bisnisnya – jadilah ketimpangan akut – dan akhirnya sampai pada kesimpulan harus ditutup dengan hutang.

Dan ini juga sekaligus menjadi referensi bagi pihak lain, baik pemerintah, lembaga keuangan, maupun lembaga-lembaga yang memiliki kepedulian dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah – bahwa masalah pengusaha kecil adalah permodalan – dan itu bisa dipenuhi melalui pinjaman. Atau dengan bahasa yang lebih mentereng, akses terhadap lembaga keuangan.

Saya tidak mau menutup mata bahwa bisnis sekecil apapun tetap membutuhkan modal kerja berupa uang tunai atau dana segar, karena ini yang akan menopang berjalannya aktivitas harian sebuah usaha. Tetapi saya juga tidak sepakat bahwa dengan dipenuhinya modal kerja tersebut lantas berarti selesai sudah masalahnya. Apalagi jika pemenuhan modal tersebut melalui pinjaman – selunak apapun – yang artinya tetap ada kewajiban untuk mengembalikan.

Bukan pula seperti yang banyak disampaikan pelaku usaha kecil melalui curhat-curhatnya ketika bertemu dengan pihak lain yang dianggap bisa menolong mereka. Seringkali mereka menyederhanakan persoalan menjadi, kami akan bisa hidup jika ada bantuan langsung – dan bukan pinjaman. Karena pinjaman harus mengembalikan, padahal kami belum tentu bisa mengembalikan pinjaman itu. Nah, jika kami mendapatkan dana gratis alias hibah – maka kami akan bisa hidup kembali dan bisa jadi lebih berkembang – karena tidak harus mengembalikan modal tersebut.

Saya tidak bermaksud menyalahkan siapapun, tetapi ijinkan saya memberikan usul.

Bagi Pemerintah:
Berdayakan UMKM dengan memberikan peningkatan kapasitas (karena ini investasi yang mahal untuk mereka), dan gunakan produk mereka – yang berarti kita membantu mereka sebagai pelanggan.

Bagi pelaku usaha kecil:
Jangan berharap ada dana hibah (gratis) agar bisa berkembang, tetapi sadarilah bahwa uang anda yang seharusnya adalah dari pelanggan – melalui penjualan barang atau jasa anda. Karena itu carilah pelanggan, jika mengalami kesulitan tingkatkan kemampuan anda.

Bagi masyarakat umum:
Belilah produk (barang dan jasa) UMKM jika ingin membantu mereka. Bukan hanya memberi mereka sedekah sepantasnya, atau memberi pinjaman yang sangat lunak sekali – apalagi pinjaman dengan bunga-berbunga. Karena mereka butuh pelanggan, bukan (hanya) pinjaman.

Buatlah mereka berbunga-bunga dengan membeli produknya ….!!?

Iklan