Sudah banyak petuah dan petunjuk, baik dari para ahli, para rohaniawan maupun para psikolog soal bagaimana cara-cara mengendalikan kemarahan namun demikian masih saja banyak diantara kita yang tetap bermasalah dengan kemarahan dan berbagai dampak yang ditimbulkannya.

Saya mengamati di lingkungan sekitar saya, orang yang berpenyakit dalam atau penyakit berat lainnya salah satu sebabnya ternyata karena sering memendam kemarahan. Baik karena merasa tidak berani melampiaskan, tidak punya pelampiasan atau karena merasa bahwa itu bukan sifat yang baik dan layak diakui.

Di sisi lain, ada juga orang yang hobi melampiaskan kemarahan pada siapapun yang ditemuinya – sehingga tak jarang orang dibuat bingung – datang ke kantor kok langsung marah-marah, padahal bisa jadi masalahnya di jalan. Atau ada juga yang memang agak “seniman”, mencoba melampiaskan kemarahan dengan berkarya – baik itu menulis, melukis atau menyanyi bahkan mungkin mematung  – atau membuat karya lainnya. Tapi sayang hasilnya seringkali juga “kacau dan balau” atau kalaupun jadi tidak seperti yang diharapkan karena hanya sekedar meluapkan emosi saja.

Lantas, apakah orang tidak boleh marah? Boleh saja – bahkan dalam kondisi tertentu harus. Yang dilarang adalah melampiaskan kemarahan, semua orang pasti paham kenapa. Orang yang tidak kreatif pasti akan mengatakan, “katanya boleh marah kok nggak boleh melampiaskan kemarahan..!??” kalau orang kreatif dia akan berfikir, “terus bagaimana caranya yaa…?!”

Nah, bagi anda yang beragama Islam ada banyak cara yang dituntunkan ketika kita marah (ghodob) yaitu: perbanyak istighfar, mengambil wudlu dan cara-cara lainnya. Kalau itu masih kurang, berikut saya tambahkan sebuah tips dari saya yang kebetulan juga berstatus “sumbu pendek” (alias cepat meledak).

Marah bisa datang kapan dan dimana saja salah-satunya di jalan raya. Hal ini dikarenakan di Indonesia, jalan memang bisa jadi sumber kemarahan yang tak pernah kering..hehehe (kalau ini bercanda). Jika anda kebetulan mengalaminya, cobalah untuk menahan marah dan pikirkan – bahkan bila perlu dibesar-besarkan – tentang akibatnya jika kita menuruti atau melampiaskan kemarahan kita. Jika kita cukup serius mem-visualisasikan atau membuat gambaran mental tentang dampak yang muncul akibat tindakan kita tersebut biasanya kemarahan akan segera mereda dan anda tidak akan dikuasai emosi, justru akal sehat yang akan dominant.

Saya sendiri pernah mengalami dan mencobanya. Ceritanya pada suatu sore sepulang dari kantor saya melewati Jl. Parang tritis – Jogja dengan mengendarai mobil sendirian. Di depan saya ada sebuah mobil ber-plat nomor “B”alias wilayah Jakarta – artinya bisa jadi orang ini belum faham jalan-jalan di Jogja. Mobil ini sudah menghidupkan tanda belok (sign) ke kiri, dan memperlambat laju kendaraan.

Dengan perlahan masih terus jalan sambil menyusuri pinggiran – kelihatan seperti mencarai-cari alamat. Lantas dari belakangnya, becak yang berada diantara saya dan mobil tersebut, menyalip si mobil – dan bisa ditebak akhirnya – terjadilah konvoi mobil dan becak berjejeran sehingga menutup sebagian besar bahu jalan.

Saya yang dalam kondisi kecapekan sepulang kantor, disuguhi kejadian semacam itu tentu saja sudah mulai geregetan dan segera saja memencet tombol klakson. Eeeee..si becak dan si mobil tetap saja berjalan seiring dan sejalan tanpa memedulikan saya yang hendak menyalipnya. Saya pencet lagi tombol klakson, kali ini dengan nada lebih panjang dan keras. Tiba-tiba si tukang becak mengacungkan tangannya ke atas sambil berteriak lantang, “(Yen ora sabar…maburrr!!!) Kalau tidak sabar…terbang saja..!!!!!?” kontan saja darah saya langsung naik ke ubun-ubun!!!

Grhhhhhhhhhh..#%^&&***## ..tiba-tiba tanduk saya mulai keluar…dan dari kedua telinga mulai mengeluarkan asap…(maksudnya marah besar..!??). Saya yang merasa lebih muda, (merasa) dalam posisi yang benar – bagaimana tidak marah merasa di tantang seorang tukang becak di jalan, begitulah kata ego saya. Saya hentikan mobil saya..dan dalam hati saya mulai memaki-maki si tukang becak, (maaf..) sudah tua, miskin, sombong lagi..!? mau minta diapakan orang ini?!

Tapi, saat itu saya mulai menggunakan akal sehat. Saya berfikir apa jadinya kalau sampai saya ribut-ribut atau berkelahi dengan tukang becak, dan kebetulan jarak ke rumah tinggal satu kilo meter lagi. Saya mulai was-was, jangan-jangan ada tetangga yang melihat lantas mereka akan ikut merubung saya sambil dengan cemas bertanya, “ Ada apa Pak RT…?!” saya juga berfikir, nanti kalau teman (satpam, atau pesuruh di kantor, atau mungkin mahasiswa – karena waktu itu saya bekerja di sebuah universitas) ada yang kebetulan lewat dan ada ribut-ribut dan ternyata saya – hahhh..betapa malunya saya membayangkan semua itu.

Di dalam pikiran saya, terlihat seperti banyak orang yang tertawa-tawa sambil mengelilingi saya – bahkan ada yang sinis – dan berkata, “Sarjana kok meladeni tukang becak…!!???” langsung saja saya teringat sebuah pepatah Jawa, Menang Ora Kondhang – Yen Kalah Wirang. Maksudnya, kalau menang tidak ngetop – tapi kalau sampai kalah, malunya tidak tertahankan.

Pikiran sehat saya langsung mengatakan, tidak ada gunanya saya menuruti kemarahan atau meladeni orang tersebut. Akhirnya saya biarkan si tukang becak melaju, dan saya sendiri segera menyalipnya untuk meneruskan perjalanan pulang yang sempat terganggu dengan perasaan sudah lebih nyaman, dan orang rumah tidak perlu jadi sasaran pelampiasan kemarahan saya…! Hehehehe…

Iklan