aa&jkPetani  – terlebih untuk kondisi saat ini –  identik dengan profesi pengambil resiko (risk taker) sedangkan pedagang lebih identik dengan pengambil keuntungan (profit taker). Sangat wajar jika kemudian terjadi dikotomi nasib diantara keduanya. Memang benar bahwa ada perbedaan cara berpikir yang signifikan diantara keduanya. Mengapa saya menyebut petani sebagai pengambil resiko? dan pedagang sebagai pengambil keuntungan? apakah berlebihan..?!

Coba kita lihat kembali bagaimana kehidupan seorang petani, baik petani tanaman pangan pokok maupun tanaman pangan substitut lainnya. Aktivitas mereka dimulai dari pengolahan lahan yang berarti juga meng-investasikan waktu, tenaga dan bisa juga uang pada lahan mereka (atau lahan orang lain jika mereka hanya penggarap). Setelah itu mereka akan menyebar benih agar memperoleh bibit-bibit tanaman yang siap tanam – meski sekarang sudah banyak pula petani lain yang hanya menjual bibit – dan tahap selanjutnya tentu saja menanam bibit dengan harapan akan tumbuh besar dan menghasilkan buah.

Selama menunggu proses pembuahan itupun tidak lantas aktivitasnya habis bagi mereka, karena mereka juga harus merawat, melakukan pemupukan (jika tanahnya kurang subur seperti kebanyakan kondisi saat ini), memberantas hama dan sebagainya sampai si tanaman berbuah.

Dan jika kita cermati ternyata setiap tahapan adalah aktivitas yang semuanya penuh resiko.Termasuk jika terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan juga kebutuhan hidup lainnya. Mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produknya karena biasanya mereka menjual sesuatu ketika sudah terdesak oleh kebutuhan hidupnya.

Bukan berarti para petani tidak menyadari itu, justru sebaliknya sangat sadar. Bahkan dahulu (berpuluh tahun lalu – saat saya masih berumur kurang dari sepuluh tahun) saya pernah mendapatkan nasehat Budhe (dari bapak) saya di kampung yang kurang lebih begini, “Anak muda, meski kamu nanti sudah menjadi orang yang kerja dibelakang meja (maksudnya pegawai kantoran) jangan lupakan pertanian karena itu adalah asal-usulmu”. Maksudnya bahwa petani bukan sekedar untuk menghidupi diri-sendiri dan keluarga melainkan juga orang lain.

Berbeda dengan pedagang – yang ketika harga pokok pembelian meningkat mereka akan segera menyesuaikan harga jual produknya. Bedanya keuntungan yang diperoleh tetap dengan modal yang lebih besar alias persentase-nya menurun.

Bukan berarti pula bahwa aksi ambil untung (profit taking) itu sepenuhnya keliru. Tetapi mengambil keuntungan tanpa investasi dan idealisme untuk memberi manfaat kepada orang lain atau pelanggan,  mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain, mematikan usaha lainnya dengan persaingan yang tidak sehat adalah tindakan yang mengingkari prinsip kemanusiaan.

Baru sekarang inilah pikiran saya mampu mencerna (sebagian kecil) maksud dari nasehat para leluhur saya tersebut. Saya mulai mengerti mengapa para petani di kampung tetap bertahan dan (masih saja) beraktivitas dan berinvestasi (menanam sesuatu) di lahan dengan mengambil resiko yang semakin lama semakin tidak mampu mereka tanggung sendiri. Meski disisi lain mereka agak mengkhawatirkan (tetapi belum mampu berbuat apa-apa) ketika sebagian besar generasi muda tidak mau lagi bersusah-susah untuk bertani.

Sedang di dunia yang sama namun berbeda seting panggungnya, banyak anak-anak muda (dan tua) yang justru tengah keranjingan dengan bisnis dan perdagangan yang (lagi-lagi) hanya mengejar keuntungan semata alias aksi profit taking. Maraknya perdagangan berjangka valuta telah semakin mendikotomi konsep hidup “pengambil resiko” dan “pengambil keuntungan” di atas.

Jika dahulu aktivitas pengambilan keuntungan yang dilakukan para pedagang hanya berimbas lokal dan tidak begitu terasa – namun sekarang..semua itu berdampak sangat luas, masif  dan mengerikan karena dukungan teknologi informasi dan pragmatisme yang berlebihan.

Ada pula sebagian pihak yang meredusir kewirausahaan (entrepreneurship) dengan kata-kata cara cepat menjadi pengusaha, menghasilkan dollar dalam semalam, peluang usaha tanpa modal, investasi tanpa resiko, bisnis mudah minim resiko keuntungan maksimal dan lain-lain.

Bukan bermaksud menghakimi atau memperjelas dikotomi “para pencari untung” dan “para pengambil resiko” tersebut diatas. Atau berkampanye mengajak setiap petani harus memiliki usaha sampingan, atau pedagang juga harus bertani. Karena meski bertindak demikian namun dengan tetap men-dikotomikan kedua prinsip diatas maka hasilnya adalah manusia bertopeng, yaitu petani yang idealis “di sawah”  – namun sangat pragmatis dan oportunis “di pasar”.

Petani harusnya lebih bisa “berdaya” dengan mengadopsi pula konsep pengambilan keuntungan. Sedangkan pedagang bisa menjadi lebih “manusiawi” dengan sedikit menerapkan (karena saya yakin mereka juga memiliki) idealismenya.

Ini menjadi masukan Program 100 Hari (andai saya tahu jalan ke rumah Pak Mentri…?!!) bagi Menteri Pemuda & Olah Raga, Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Komunikasi dan Informasi, Menteri PDT dan semua saja….kalau bisa….!???

Memang, ini hanyalah sekedar konsep entrepreneurship yang diajukan anak petani yang kebetulan juga pedagang. Tetapi besar harapan ini akan didengar oleh pemuda-pemudi Indonesia dan menginspirasi lahirnya generasi baru..!? Dan yang terpenting justu untuk mengingatkan keberadaan si anak petani yang pedagang itu…?!!!

(Ditulis dalam rangka Peringatan Hari Soempah Pemoeda)

Iklan