Logika adalah masuk akal, rasional dan bisa diterima akal sehat. Begitulah secara umum orang memaknai kata logika. Sehingga segala sesuatu yang masuk akal dianggap logis. Dan sebaliknya sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat atau logika umum disebut sebagai tidak logis, atau tidak masuk akal.

Bisnis adalah sebuah wilayah yang juga mengenal logika – artinya ada banyak hal yang juga bisa diterima akal sehat – tetapi sekaligus menyimpan sesuatu yang irasional alias tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang mau membeli rokok yang jelas-jelas merugikan kesehatan. Bagaimana ceritanya sampai-sampai jajanan atau makanan kecil yang mengandung zat berbahaya malah laris manis.

Disisi lain, ada banyak produk dan jasa yang sangat bagus dan berkualitas beredar di pasaran – bahkan dengan harga yang terjangkau – ternyata masih belum juga bisa merebut hati calon konsumen? Apakah itu masuk akal? Jika barang bagus dengan manfaat yang nyata dan harga terjangkau akan digandrungi oleh masyarakat sebagai konsumen – itu jelas masuk akal khan?!

Memang benar … ada sebuah “rahasia” dalam bisnis yang disebut dengan marketing atau pemasaran. Inilah rahasia terbesar dari sebuah bisnis yang membuat logika bisnis menjadi tidak sama dengan logika umumnya. Jika ada bagian-bagian dalam perusahaan yang sulit diukur secara kuantitatif maka salah satunya (jika bukan satu-satunya) adalah marketing.

Siapa yang bisa menghitung dan mempertanggung jawabkan pengeluaran untuk iklan di TV,  radio atau surat kabar dan bahkan mungkin di internet – tepat secara kuantitatif – yang artinya bisa diukur dan diperbandingkan dengan tepat antara input yang digunakan dengan output yang diperoleh. Inilah rahasia terbesar dari logika bisnis, yaitu bahwa bisnis memiliki logikanya sendiri.

Anda benar jika mengatakan bahwa bisnis itu tidak masuk akal atau tidak logis – bahkan cenderung bersifat klenik dan mistis – seperti sebagian kalangan yang mungkin telah banyak mengecap pendidikan yang memanjakan sisi kognisi menganggapnya. Tetapi anda tidak salah jika mengatakan bahwa bisnis itu berjalan dengan logika seperti yang selama ini orang awam fahami. Itu semua karena bisnis menggunakan dan memiliki logikanya sendiri.

Jadi, akan lebih baik jika tidak memaksakan logika kita kepada bisnis kita sendiri atau orang lain…!??

Iklan