Mungkin tidak ada orang yang saat ini tidak menyuarakan hal tersebut, yaitu kreatif dan kreatifitas. Mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, penulis, guru, seniman, LSM dan hampir semua pihak – baik didalam maupun diluar negeri – sedang gandrung dengan istilah tersebut. Apalagi pemicunya kalau bukan krisis keuangan global yang berkembang menjadi krisis ekonomi, rusaknya habitat dan lingkungan alam.

Berbagai bencana alam, sosial dan bahkan ekonomi silih-berganti, perubahan iklim dan munculnya berbagai jenis penyakit menular yang baru. Krisis energi dan bahkan ancamana krisis pangan lagi-lagi juga menuding karena rendahnya kreatifitas kita – manusia yang hanya bisa mengeksploitasi alam dan sekitarnya – dan bahkan sesama manusiapun saling mengeksploitasi.

Disisi lain, orang memahami istilah kreatif dan kreatifitas identik dengan aktifitas seni dan budaya (saja) dalam “pemahaman” selama ini. Sehingga saat inipun, Pemerintah baik pusat maupun daerah mencangkan berbagai program yang mendorong tumbuhnya industri dan bisnis kreatif. Dan seperti sudah saya duga – istilah kreatif yang dimaksud – masih seputar seni, musik, warisan budaya dan entertainment dan pertunjukan lainnya. Meski sudah ada pula yang lebih jauh menganggap konsep kreatif sampai pada industri perangkat lunak (software).

Pertanyaannya kemudian, apakah bidang industri dan bisnis yang lain tidak bisa kreatif atau tidak membutuhkan kreatifitas..??! dan bagaimana sebenarnya implementasi kreatif dan kreatifitas dalam bisnis-bisnis umum lainnya – yang dianggap tidak kreatif itu………..???! Jawabannya harus kreatif dong…!!???

Iklan