Kalau mendengar istilah wangsit maka pikiran kita akan langsung melayang pada gambaran tentang bisikan-bisikan halus yang entah datangnya darimana. Ada yang mengatakan bisikan gaib dari makhluk atau dunia lain, atau para perewangan. Sedangkan lelaku, identik dengan prosesi yang harus dijalani dalam rangka mendapatkan wangsit tersebut.

Kedua istilah tersebut memang spesifik untuk orang Jawa umumnya, dan khususnya lagi di pedesaan atau pinggiran yang belum mengenyam pendidikan modern – atau pendidikan agama yang mencukupi – karena biasanya istilahnya akan berbeda dalam pemahaman agama.

Demikian juga para pelaku usaha atau wirausahawan dalam rangka menjalankan dan mengembangkan bisnisnya, masih menggunakan pendekatan tersebut atau bisa juga mendatangi seorang “dukun” atau “paranormal” untuk meminta bantuan – biasanya berupa mantra tertentu atau jimat – yang harus dipasang pada lokasi tertentu untuk mempengaruhi bisnisnya.

Bahkan hal-hal tersebut berlaku juga dalam rangka bersaing dengan sesama pelaku bisnis lainnya. Apakah ini sebuah fenomena pembodohan? ataukah justru kecerdasan? terlepas dari itu semua hal yang bisa kita simpulkan sementara adalah bahwa pelaku usaha dan dunia usaha mengenal “logika” selain daripada logika yang difahami masyarakat umum atau akademik.

Bahwa dengan demikian klaim bahwa kecerdasan akademik belum menjamin keberhasilan dalam bisnis kembali menemukan pembenarannya dalam kasus ini. Bahwa ada kecerdasan emosional dan spiritual yang juga dibutuhkan dalam mensukseskan bisnis seseorang.

Dalam konteks tulisan ini, sebenarnya wangsit dan lelaku juga merupakan bagian dari spiritualisasi proses bisnis – dengan pemahaman versi orang tertentu – yang sudah disebutkan diatas. Hal inilah yang kemudian “ditentang” oleh penganut rasionalitas sebagai sebuah mistifikasi terhadap proses dalam menjalankan sebuah bisnis.

Kalau kita kaji lebih dalam, sebenarnya wangsit bagi para wirausaha tersebut sebenarnya adalah sebuah “ide atau gagasan” yang akan diterapkan dalam menjalankan bisnisnya – yang itu tidak didapatkan melalui akal sehat atau logika yang mereka kuasai – sehingga mereka berharap akan memperoleh kilatan ide tersebut dari dunia selain dirinya. Sedangkan lelaku adalah proses yang dijalani untuk sampai memperoleh wangsit tersebut. Wajar jika kemudian lelaku yang mereka jalani bagi sebagian orang menjadi tidak masuk akal.

Yang menjadi poin tulisan saya kali ini sebenarnya adalah “kalangan menengah” –  yaitu yang sudah tidak lagi percaya dengan mitos dan hal-hal mistis tersebut diatas – akan tetapi belum punya mekanisme penggantinya. Bagi “kalangan atas” yang biasanya adalah bisnis besar atau berlatar belakang manajemen modern, mereka sudah memiliki mekanisme pengganti yaitu dengan menggunakan jasa-jasa konsultan bisnis atau riset-riset ilmiah terbaru – dan karena mereka berangkat dari pemahaman modern biasanya mereka juga memiliki keyakinan terhadap metode yang mereka pakai tersebut.

Selain itu juga karena biasanya layanan “dukun-dukun” bisnis modern tersebut berharga mahal sehingga tidak terjangkau oleh kalangan bisnis menengah. Jadi, ada sebuah tantangan yang sekaligus menjadi peluang kebutuhan dukun-dukun bisnis untuk kalangan menengah. Yaitu, hadirnya para konsultan bisnis kecil dan menengah yang menggunakan pendekatan ilmiah dan modern dengan harga terjangkau.

Argumentasinya ini sebagai pengganti peran dukun-dukun mistis yang berlatar belakang spiritualisme – yang masih dipertanyakan untuk kalangan modern dan berpendidikan – tentang legitimasi dan validitas layanannya.

Harapannya, kedepan iklan-iklan di media masa umum maupun bisnis bukan dipenuhi lagi oleh iklan dukun-dukun yang bisa memberikan solusi bisnis, perjodohan, karir dan sebagainya dengan produk berupa jimat pemanggil rejeki, penglaris dan lain-lain – tetapi iklan yang ditampilkan adalah jasa dan layanan konsultasi bisnis berbasis ilmu pengetahuan dan cara-cara modern dan ilmiah – dan lebih penting lagi diterima oleh kalangan yang rasional.

Iklan