Dunia Maya
Dunia Maya

Pengalaman pertama ber-online ria, sungguh “luar biasa” dan tak terlupakan. Sebagai anak desa dari pinggiran kabupaten Cilacap yang bahkan jaringan telfon kabel saja belum masuk – bahkan sampai sekarang.  Jaringan listrik saja masuk ke desa saya ketika saya sudah kelas 2 (dua) Sekolah Menengah Pertama (SMP) – jadi praktis sebelumnya saya hanya mengenal lampu minyak untuk penerangan dan accu (baterai basah) untuk menghidupkan televisi, serta baterai kering untuk menghidupkan radio dan lampu senter.

Hal yang “luar biasa” itu bisa terjadi karena saya beruntung hidup dan menghabiskan masa pendidikan tinggi di kota Yogyakarta – yang tentu saja telah mengadopsi teknologi internet lebih dulu dibandingkan dengan kota-kota kecil lainnya – termasuk jika dibandingkan dengan kota kabupaten saya, Cilacap atau kota-kota lain di Jawa Tengah.

Salah seorang teman kuliah saya, namanya Doni – saat ini bekerja sebagai kepala seksi akunting di sebuah perusahaan farmasi di kota Cirebon – yang sudah lebih dahulu mengenal internet mengajari saya bagaimana cara membuat email dan untuk apa saya perlu memiliki sebuah akun email. Saat itu kurang lebih tahun 1999 s.d 2000-an dimana penetrasi internet di kota Yogyakarta masih sangat sedikit. Saya “dibuatkan” sebuah akun email pada sebuah provider web mail gratis – kalau tidak salah bernama usanet – tetapi sekarang tampaknya sudah tidak menyediakan akun gratis lagi.

Saya terbuai dengan “rayuan” teman saya yang katanya nanti setelah memiliki email saya akan bisa mencari lowongan kerja dan mendapat informasi lowongan kerja – dan kebetulan saat itu saya memang belum lulus kuliah – tapi sudah bersiap-siap untuk masuk ke dunia kerja setelah lulus kuliah.

Selain teman saya si Doni, tentu saja Roy Suryo – pakar telematika dari Yogyakarta – juga termasuk orang yang turut bertanggung jawab atas “tersesatnya” saya dalam dunia online ini. Karena beberapa tahun sebelumnya, kurang lebih 1997-1998 saya pernah mengikuti seminar tentang “tren internet” di kampus saya dan pembicaranya adalah pakar nyentrik yang kontroversial tersebut – sehingga saya menjadi terlarut juga dalam buaian mimpi-mimpi indah kemudahan dan manfaat internet tersebut.

Beberapa hari sekali (tentu saja kalau punya uang lebih)  karena pada saat itu untuk mengakses internet yang kecepatannya berkisar 56 kbps saya harus membayar Rp. 6.000,- perjam di warnet di sekitar kampus – saya pergi ke warnet dan men-check email saya yang dari waktu ke waktu isinya itu-itu saja…karena pada saat itu tentu saja saya tidak tahu bahwa alamat email saya seharusnya juga dipublikasikan kepada orang lain yang saya harapkan akan berkorespondensi dengan saya melalui fasilitas surat maya tersebut.

Memang pada awalnya saya “terlalu berharap banyak” sehingga agak kecewa ketika mendapati akun email saya tetap saja kosong selain sambutan selamat bergabung dari tim provider dan tentu saja email dari teman yang membuatkan email saya itu. Dan hebatnya lagi, dia mengirimkan email kepada saya dari bilik yang bersebelahan dalam warnet yang sama. Tapi kekecewaan saya sedikit terobati..ketika saya diajari cara-cara browsing internet yang katanya bisa untuk mendapatkan barang gratisan dari internet (free stuf).

Namun lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan karena ternyata tidak ada “barang gratisan” yang saya peroleh dari pengalaman berinternet tersebut. Pernah satu kali saya mendapatkan kiriman CD (Compact Disc) gratis lagu-lagu barat lama yang bahkan saya juga tidak mengenal sama sekali – setelah capek submit kesana-kemari mendatangi situs gratisan. Akhirnya ada seorang teman yang mengajak untuk menjebol kartu kredit (carding) orang luar negeri dan bahkan dia sempat memberikan print-out daftar nomor kartu kredit yang katanya biasa di jebol.

Ada teman anak kos yang sering membeli merchandise, baik berupa topi, kaos atau jaket dan bahkan jam tangan dengan bermodalkan list kartu kredit yang disebarkan antar teman tersebut. Sayangnya lagi, saya terlalu takut untuk ikut-ikutan teman-teman yang dalam pengertian saya “mencuri” uang orang lain untuk membeli barang-barang kesukaannya. Meski untuk sekedar iseng, saya tetap tidak berani mencoba…bahkan sampai sekarang!?

Akhirnya kekecewaan saya sedikit terobati karena teman saya yang membuatkan email pertama kali – menunjukkan sebuah alamat URL dari sebuah situs yang berisi lirik lagu-lagu barat. Pada saat itu memang sedang suka-sukanya bernyanyi dan “ngeband”. Tapi berawal dari kisah tersebut akhirnya saya bisa menjadi seperti sekarang ini – memiliki akun email yang bisa digunakan untuk kepentingan komunikasi profesional dan mendukung kerja. Memiliki akun di berbagai media komunitas sosial (social media seperti friendster, facebook, multiply dll), bisa browsing dan chatting dengan teman-teman lama yang telah “hilang” dari peredaran.

Tentu saja ada proses panjang sampai saya mencapai literasi internet seperti sekarang ini, terlebih saya memang bukan berlatar belakang pendidikan TI melainkan akuntansi. Jadi, awalnya saya mengenal internet adalah sebatas untuk mendukung aktivitas dan status saya sebagai seorang (calon) sarjana pada waktu itu untuk memudahkan mencari pekerjaan yang saya inginkan, selain juga barang gratisan – yang katanya sangat banyak bertebaran di internet…ha ha ha…kalau teringat masa itu saya membayangkan diri saya sangat “katrok”.

Internet dan dunia online adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seorang anak desa seperti saya yang bahkan mengenal jaringan telfon rumah, wartel dan telfon umum saja setelah kuliah di Yogyakarta – sebagai kota “kelahiran” saya yang kedua. Terima kasih Doni-punk, terima kasih Mas Roy, terima kasih Yogyakarta, terima kasih Bangsa…nah, kalau yang terakhir ini mengutip pernyataan pak Yusuf Kalla (JK) pada debat capres terakhir pilpres 2009..!!?

Iklan