Hari-hari ini aku bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang usaha..dan hampir semua berskala kecil bahkan mikro. Memang mulai bulan April 2009 kemarin saya bersama rekan-rekan dari PKPEK sedang mengerjakan sebuah proyek di dua Kabupaten di Provinsi DIY, tepatnya di Kabupaten Bantul dan Sleman.

Proyeknya didanai oleh AUSAID bekerjasama dengan BAPPEDA Provinsi dan Kabupaten dalam kerangka YCAP-AIP (Yogyakarta and Central Java Community Based Asistance Program – Australia Idonesia Partnership) Phase II. Yaitu sebuah proyek/program lanjutan dari asistensi paska gempa bumi di DIY dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006 yang lalu.

Dalam program ini saya kebagian peran untuk posisi trainer alias fasilitator untuk pelatihan Manajamen Usaha Kecil, sebagai satu paket aktifitas dalam program yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha kecil di dua kabupaten tersebut. Dari berbagai kelompok yang sudah saya temui secara umum ada dua kategori kelompok usaha. Yaitu kelompok usaha sub-sektor dan kelompok usaha berbasis wilayah geografis, yaitu dusun atau desa.

Untuk usaha sub-sektor yaitu ragam metal di daerah Kabupaten Sleman adalah para perajin kompor minyak. Sudah bisa ditebak khan apa masalah terbesar mereka? Ya..sejak ada konversi minyak ke gas mereka otomatis menjadi “mantan” pengrajin kompor minyak. Saat ini mereka memproduksi berbagai macam peralatan rumah tangga dan perkakas kerja berbahan baku plat metal/seng, seperti serok sampah, senggrong (pengeruk pasir) dan berbagi produk lainnya.

Yang paling mengejutkan saya yaitu pernyataan dari salah seorang anggota kelompok yang notabene sudah senior (bahkan tua secara umur – kisaran 60 tahunan), sebut saja Pak Adi namanya. Beliau menyebut bahwa sebenarnya punya ide dan gagasan tentang variasi produk, bahkan jauh sebelum adanya informasi penghapusan mitan (minyak tanah) dari pasaran. Tapi alasan kenapa tidak diwujudkannya ide tersebut yaitu: “takut ditiru oleh rekan pengrajin lainnya” – sehingga memutuskan lebih baik tidak membuat apapun yang baru.

Ini merupakan sebuah ironi dalam sebuah bisnis dimana seharusnya mereka berlomba-lomba untuk berinovasi tetapi justru sebaliknya mereka malah menunggu yang lain menelorkan produk baru dan dilempar ke pasar – barulah mereka mengikuti jika terbukti telah diterima pasar. Ini memang sudah menjadi ciri khas pelaku usaha mikro dan kecil yang notabene memilki berbagai kelemahan dan keterbatasan – termasuk dalam pengetahuan manajerial dan marketing. (Bersambung…)

Iklan