Itu adalah salah satu bentuk perubahan model marketing yang diusulkan oleh Phillip Kotler dalam Marketing Management untuk menghadapi ekonomi baru. Model ekonomi lama masih mengadopsi model “over promise under deliver” – tetapi sekarang sudah bukan saatnya lagi.

Pertanyaannya, apakah itu juga berlaku dalam marketing politik atau partai? jawaban sementara bisa “ya”. Salah satu buktinya adalah hasil Quick Count Pemilu Legislatif 2009 yang sudah di-launching oleh beberapa lembaga survei seprti LSN dan LSI. Disitu disebutkan daftar 10 besar (top ten) partai dengan suara terbanyak. Yang menarik yaitu, Partai Demokrat menduduki peroleh tertinggi sementara dengan suara mencapi 20% lebih. Selanjutnya diikuti oleh Golkar dan PDIP (bergantian..kita lihat saja hasil akhirnya).

Meski PDIP menggembar-gemborkan kontrak politik yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesisa bahkan sampai “masuk MURI” tetapi toch belum mampu untuk membawa mereka menjadi pemenang seperti pada pemilu 1999 – bahkan dibandingkan tahun 2004. Apa artinya? masyarakat sudah mencapai titik jenuh, capek dan bosan dengan segala janji-janji politik (tag line, jargon de el el..). Kalau mau jujur, itu semua dikarenakan model over promise, under deliver seperti yang sudah dilakukan oleh siapapun juga dimasa lalu.

Masalahnya, sekarang kondisinya benar-benar telah berubah – sayangnya tidak dengan sikap para politisi tersebut. Apakah Partai Demokrat melakukan strategi under promise, over deliver..? mungkin tidak juga dimasa lalu – bahkan mereka juga pernah terjebak pada janji-janji yang sulit ditepati, meskipun juga bukan semata-mata karena persolan internal tetapi lebih karena faktor eksternal dan makro.

Tetapi bahwa mereka telah membuktikan beberapa komitmennya, terutama terkait dengan pemberantasan korupsi, perbaikan sektor pendidikan dan lain sebaigainya – termasuk kesejahteraan rakyat (program BLT – meski sempat diributkan semua orang..) Yang lebih penting lagi adalah, pada masa kampanye pemilu legislatif 2009 yang baru saja berlalu mereka tidak terlalu “mengumbar janji manis” seperti banyak dilakukan partai dan politisi pada umumnya. Bahkan diakui atau tidak, figur SBY (ikon Demokrat) dengan kesantunan dan kepribadiannya yang elegan dan moderat serta kehati-hatiannya dalam berucap dan bertindak telah turut mendongkrak perolehan suara partai tersebut.

Jika benar premis diatas, maka partai demokrat telah belajar dari sebuah kesalahan dan menjalankan strategi baru dalam era politik dan demokrasi baru di Indonesia. Yang bisa diambil pelajaran bagi semuanya adalah, strategi under promise, over deliver..sangat layak dipertimbangkan sebagai strategi baru – jika ingin bertahan hidup atau beradaptasi. Jika tidak mampu beradaptasi maka besar kemungkinan para politisi atau partai politik gaya lama – dengan strategi yang oldies akan bernasib sama dengan dinosaurus yang mengalami kepunahan dari muka bumi.

Iklan