Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

Istilah ini mengutip dari Teguh Dartanto (Peneliti LPEM FE Universitas Indonesia, yang tengah belajar di Universitas Nagoya, Jepang) dalam sebuah kolom opini di Koran Tempo tanggal 24 Maret 2009 yang lalu. Sederhananya ini merupakan sebuah manifesto konsep ekonomi yang digagas oleh Prabowo Subianto – sebagai Capres Indonesia 2009 melalui partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya).

Saya tidak dalam kapasitas sebagai pendukung maupun penentang dari aliran ini, tapi lebih sebagai cc-line (baca: sisi lain) dari dinamika perpolitikan ekonomi di negeri ini. Sebagai penggiat ekonomi kerakyatan, melalui sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang ekonomi (PKPEK-Perkumpulan untuk Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan) kami bersama rekan-rekan di tingkat lokal (DIY dan Jateng) telah sejak lama (1999) mengusung tema ekonomi yang kurang lebih sejalan dengan konsep yang diajukan Prof. Mubyarto (alm).

Dari berbagai pengalaman bergaul dan belajar bersama dengan pelaku ekonomi mikro (mayoritas ekonomi rakyat kita) melalui berbagai interaksi berupa program dan kegiatan, kami sedikit banyak mendapatkan pembelajaran yang sangat berarti. Pembelajaran terbesarnya yaitu, bahwa perubahan seringkali tidak bisa dipaksakan dengan cara-cara ekstrim dan tergesa-gesa.

Lantas apa kaitannya dengan Prabowonomics diatas..? (sebenarnya sih) saya sendiri yang mencoba mengaitkannya. Jika mencermati berbagai iklan, pendapat, maupun opini tentang Prabowo Subianto dan Gerindra – saya melihat adanya semangat perubahan seperti yang barusan saya sebut. Ini juga relevan dengan pernyataan Prabowo sendiri dalam sebuah wawancara di sebuah TV swasta (kencan politik) yang menyebut bahwa beliau mulai merasakan adanya kesenjangan dengan orang-orangnya. Artinya, konsep dan idealisme yang diusung belum sepenuhnya bisa diterjemahkan dengan baik oleh second line-nya.

Ini sebuah masalah serius, karena berdasarkan pengalaman perubahan dalam bidang apapun (terlebih perubahan politik, ekonomi dan sosial sekaligus..) selalu saja kegagalan berawal dari gagalnya internalisasi visi dan misi kepada orang-orang yang terlibat dalam perubahan tersebut. Inilah yang saya sebut dengan pendekatan yang bersifat ekstrim.

Jangankan merubah haluan politik, ekonomi dan sosial sebuah negara..untuk merubah budaya dalam organisasi kecil saja tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ini tentu bukan bermaksud untuk melemahkan semangat para pemuda dan pengusung perubahan pada umunya – justru saya ingin mengingatkan supaya lebih bersiap diri dan berhati-hati.

Idealisme haruslah dimiliki oleh setiap manusia yang ingin bertahan hidup – termasuk para agen perubahan, tetapi setiap tindakan haruslah berangkat dan berpijak di bumi dimana kita berada. Supaya kita tidak menjadi orang yang berada di awang-awang alias tidak membumi.

Sehingga, tantangan untuk prabowonomics adalah membumikan konsep tersebut menjadi sebuah rencana aksi yang kongkrit – dan ini membutuhkan internalisasi yang cukup serta kuat – dan biasanya butuh waktu yang tidak sedikit. Saya sendiri tidak tahu cara tercepat untuk melakukan hal tersebut – kecuali dengan metode cuci otak (brain washing) seperti yang dilakukan pada peradaban masa lalu (era tradisional) ataupun saat ini – khususnya oleh organisasi terorisme atau organisasi yang sering disebut sebagai aliran ekstrim.

Atau mungkin saja menggunakan pendekatan modern dan ilmiah seperti hypnotherapy ataupun pendekatan-pendekatan psikologi dan kognisi lainnya. Sayangnya hal ini membutuhkan modal yang tidak kecil serta kemauan yang kuat, karena kita harus berinvestasi pada SDM yang seringkali sulit untuk diukur capaian-capaiannya secara kuantitatif. Selanjutnya monggo saja kita kembalikan kepada  peran masing-masing…ini khan baru pemikiran saya saja.

Iklan