Istilah itu sudah tidak asing lagi bagi para aktifis yang bekerja dalam pengembangan masyarakat atau sering disebut community development (CD). Kapasitas disini lebih sering diidentikkan dengan SDM (Sumber Daya Manusia) atau subyek masyarakat. Begitulah kata orang – seharusnya manusia memang menjadi subyek dalam segala bidang. Wajar, toh manusia satu-satunya makhluk yang memiliki akal atau pikiran.

Kata terakhir inilah yang seringkali disebut sebagai sumber pengembangan manusia yang (hampir) tidak terbatas. Meski banyak juga kalangan yang menyebutkan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap kapaitas manusia, termauk perasaan (emosionalnya) dan spiritualnya – selain daripada intelejensi atau kecerdasan akalnya.

Nah, sekarang masalahnya kalau kita berbicara soal tersebut dalam bisnis – lebih khusus lagi usaha kecil. Seringkali UKMK diidentikkan dengan kelemahan dalam segala hal – selain kecil itulah kekuatannya. Benarkah demikian? Ada banyak pengalaman dari praktisi pendamping UKMK yang bekerja bertahun-tahun bersama mereka namun memang sedikit jumlahnya yang bisa disebut berhasil akibat pengembangan kapasitasnya. Memang sulit mencari data pasti soal ini.

Sebenarnya, esensi dari tulisan ini adalah mencoba mengaitkan pengembangan dengan perubahan – terlebih perubahan eksternal akhir-akhir ini yang bisa disebut turbulensi. Pada hakikatnya sesuatu yang hidup harus tumbuh dan berkembang sampai kemudian menua dan mati. Begitupun dengan unit usaha yang diasumsikan sebagai sesuatu yang hidup – karena dikelola oleh manusia yang notabene hidup. Mestinya akan terus bertumbuh dan berkembang dan simeteris dengan pertumbuhan dan perkembangan SDM dalam hal ini pengelolanya.

Jadi, sebuah unit usaha entah besar entah kecil sudah seharusnya bertumbuh dan berkembang atau menua dan mati. Tapi ada kalanya memang makhluk hidup mati sebelum mencpai penuaan atau malah mengalami penuaan dini.

Iklan