Krisis keuangan global yang menjalar dari krisis keuangan di Amerika Serikat beberapa waktu lalu ternyata telah mulai dirasakan dampaknya di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Ini tentu bukan sesuatu yang menyenangkan bagi semua orang – lebih khusus lagi bagi dunia usaha dan para pelakunya. Tapi jangan dikira rakyat biasa tidak akan terkena imbasnya juga. Sebagai konsumen dalam sistem ekonomi tentu saja semua pihak akan terpengaruh atau terkena imbasnya ketika produsen mengalami perubahan – terelebih jika menyangkut harga sebuah produk.

Tidak disangka bahwa Indonesia khususnya harus mengalami berbagai goncangan ekonomi sejak tahun 1998 lalu hingga kini.  Krisis yang melanda dimulai dari adanya krisis moneter 98 (padahal sebenanrya adalah krisis moral) sampai krisis akibat berbagai bencana yang terjadi di negeri ini. Sekarang masih harus menanggung akibat dari moral hazzard salah satu pelaku bisnis keuangan dari negeri paman sam.
 

Negara berkembang seperti Indonesia akan mendapat perlakuan tidak adil, seperti yang disampaikan Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian – RI Sri Mulayani Indrawati pada pertemuan G-20 di Sao Paulo, Brazil pada tanggal 10/11 lalu,  ”Akibatnya, negara-negara berkembang mengalami ketidakadilan karena, walaupun mereka sudah memiliki fundamental ekonomi dan kerangka kebijakan yang baik, tetap saja terkena imbas krisis keuangan. Itu bukan kesalahan mereka,” ujar Sri Mulyani yang menjadi pembicara utama dalam pertemuan ini bersama Presiden Bank Dunia Robert B Zoellick.

Lantas bagaimana hal itu akan berdampak pula terhadap perekonomian secara umum di Indonesia? tidak ada jawaban pasti yang memuaskan. Lebih banyak adalah jawaban-jawaban spekulasi yang memiriskan, bahkan banyak pihak yang menyebut bahwa dampak krisis tersebut paling cepat baru akan berlalu setelah 2 (dua) tahun. Artinya kita masih harus akan prihatin lagi – setelah sebelumnya juga kita harus hidup dalam berbagai keprihatinan ekonomi yang belum berakhir.

Dunia bisnis tampaknya juga akan mengalami masa-masa sulit dan bahkan bisa mengalami perubahan lanskap yang signifikan, bisa bertambah baik atau terpuruk – tergantung skema dan langkah yang akan diambil seluruh stake holder ekonomi di Indonesia. Mengapa seluruh stake holder? karena semua pihak memiliki peran dan fungsinya masing-masing. JIka pemerintah lebih berperan dalam regulasi, maka pelaku usaha lebih berperan sebagai aktor dan para pekerja sebagai pendukung dalam aktifitas ekonomi tersebut. Idealnya terjadi sinergi antar semua pihak berkepentingan dalam rangka menyikapi dan menghadapi ancaman krisis tesebut.

JIka kita telisik lebih jauh, maka sebenarnyalah akar dari semua krisis baik keuangan maupun moneter yang pernah terjadi adalah akibat dari penyimpangan moral. Maka salahkah jika dalam rangka menghadapi imbas dari krisis ini kita melakukan sesuatu gerakan yang berbasis moral?  bukan hanya sekedar gerakan moral, seruan moral, ataupun dukungan moril – tetapi lebih tepatnya aktifitas ekonomi, politik, hukum dan seluruh sendi kehidupan dengan dilandasi sikap moral yang luhur. Dunia memang akan dan harus terus berubah, tetapi ingatlah bahwa seharusnya ada nilai-nilai manusia yang tidak boleh berubah, bersifat universal, mendasar dan lintas keyakinan – yaitu nilai moral.

Iklan