Judul ini tampaknya lebih merupakan “curhat” daripada artikel. Memang benar adanya, kalau ini sebenarnya lebih merupakan curhat saya sebagai seorang yang mengikuti perubahan. Mengapa saya sampai curhat di media on-line yang bisa saja dibaca banyak orang (ge er kali yaa…)? Tentu tak lain dan tidak juga bukan karena hal ini berkiatan dengan tema perubahan..ya ..tentang sebuah perubahan..apapun bentuknya.

Bertahun-tahun yang lalu, semasa menjadi mahasiswa saya adalah termasuk cowok yang sering menjadi “cheer leader” dalam komunitas dan kumpulan teman-teman. Sehingga kalau ada acara kumpul-kumpul mesti kurang lengkap tanpa hadirnya saya disitu. Bahkan ada yang bela-belain untuk menjemput ketika syaa tidak punya kendaraan atau bahkan saya masih tidur dan gak peduli dengan undangan teman-teman yang sudah jauh-jauh hari disampaikan. Seringkali ketika mereka datang nampak cemberut dan langsung berkomentar, ” hah ..belum apa-apa..?!” belum mandi juga…? (kalau yang ini sich memang kebiasaan buruk)

Selang beberapa lama saya mulai merubah gaya hidup dan tentu juga berimbas pada cara bergaul dan bermain atau lebih tepatnya berkomunitas. Teman-teman yang biasa berkumpul bersama dan terus bersama-sama dalam berbagai acara, sedikit-demi sedikit ditinggalkan dengan adanya pengaruh aktifitas baru yang mncul akibat cara berfikir yang baru. Dari sini mulailah masalah itu muncul ..teman-teman menganggap saya telah berubah, meski saya mencoba mati-matian untuk menjelaskan bahwa saya adalah saya..percuma..mereka tetap tidak bisa terima karena kenyataanya saya memang berbeda dari sebelumnya.   Terutama dalam masalah kumpul-kumpul, sedikit demi sedikit saya berkurang intensitasnya dan mulai kurang bersemangat dengna agenda-agenda yang dulunya sangat “menggairahkan” saya. Inilah yang mulai tampak dan dirasakan oleh beberapa kawan.

Saya sendiri telah menyadarinya, dan seringkali saya berkata “tiada pesta yang tidak berakhir!”. Itulah mantra-mantra yang sering saya lontarkan terhadap teman-teman (khususnya wanita) yang merasa kecewa dengan perubahan diri saya. Bahwa manusia terus tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun emosi dan pemikiran. Tepatnya “saya” tidak berubah menjadi “bukan saya”, tetapi saya adalah orang yang terus berkembang dan bertumbuh. Jadi memang mudahnya menyebut saya telah berubah, tetapi saya takut disalah artikan sebagai berubah sikap terhadap teman-teman saya yang lebih berarti menjauhi. Itu sebenarnya yang saya jaga.

Hal itu berjalan sekian lama, toh pada akhirnya orang sadar bahwa saya tetaplah saya. Meski secara fisik berubah (dulu gondrong ..sekarang rapi…), pemikiran berubah, tetapi ada nilai-nilai yang tetap sama. Nilai-nilai universal yang memang seharusnya tetap berlaku sepanjang hayat dan sepanjang jaman. Nah..sekarangpun, sebagai seorang suami dari seorang istri, ayah dari anak-anak saya, saudara ipar dari saudara istri saya – sayapun kembali menghadapi masalah berkaitan dengan perubahan itu.. !

Ada sebagian saudara yang menganggap saya adalah orang aneh dengan sikap dan perilaku saya yang memang cenderung berubah (bukan berubah-ubah lho..?) seiring dengan perkembangan umur dan kedewasaan saya, dan tentu saja terkait dengan kondisi eksternal baik ekonomi maupun sosial. Pada akhirnya saya semakin sadar bahwa orang secara umum seringkali tidak sadar dengan tuntutan perubahan dan menganggap aneh orang yang responsif terhadap perubahan. Kasarnya, lebih banyak orang yang terjebak dalam “zona kenyamanan” atau bahasa politisnya “status quo”, dibandingkan dengan orang yang menyadari dan beradaptasi terhadap perubahan sehingga sringkali harus rela meninggalkan zona nyaman menuju sesuatu yang baru – yang terkadang tidak lebih nyaman pada awalnya.

Akhirnya, saya hanya ingin berkata mengutip petuah para bijak-bestari “tidak ada yang tetap di dunia selain perubahan itu sendiri” dan bahwa perubahan itu niscaya, baik karena pertumbuhan alami atau karena adaptasi terhadap kondisi ekternal. Tidak ada yang salah dengan perubahan, justru orang yang tidak berubah itulah yang tidak benar. Tetapi ada satu perubahan yang salah yaitu, berubahnya nilai-nilai universal yang seharusnya menjadi pegangan hidup karena dorongan atau tekanan dari luar (eksternal) seperti, hilangnya kejujuran dari diri seseorang akbat tekanan kebutuhan ekonomi. Ataupun terkikisnya nurani seseorang akibat kebutuhan akan kekuasaan yang memabukkan. Walahualam…

Iklan