Menurut kamus Encarta on-line kata Serendipity diartikan sebagai berikut:
Terjemahan bebasnya kurang lebih berarti seperti berikut:
  • menemukan sesuatu yang menguntungkan: penemuan kebetulan atas sesuatu yang menyenangkan, bernilai, atau berguna
  • hadiah untuk penemuan: sebuah hadiah alami untuk membuat senang, bernilai, atau penemuan berguna tanpa disengaja.
Saya tertarik dengan istilah tersebut karena menurut saya menarik dan terdengar aneh ketika diucapkan, dan yang lebih menarik lagi sampai saat ini saya belum menemukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Jawa. Saya tidak tahu dengan bahasa di daerah lain di Indonesia.

Menurut para ahli bahasa secara umum mengatakan bahwa penerjemahan tidak bisa hanya dilakukan dengan memahami arti kata atau istilah, melainkan harus melibatkan pemahaman budaya asal dari daerah asal suatu istilah atau bahasa. Karena itu sering sekali kita menemui kalimat yang aneh atau bahkan sulit dimengerti karena merupakan terjemahan dari bahasa asing. Misalnya buku-buku terjemahan dari Bahasa Inggris yang dikerjakan bukan oleh ahlinya, alih-alih bisa dinikmati sebagai penambah pengetahuan seringkali justru membuat pusing dan kebingungan setelah membaca buku-buku yang tidak berkualitas tersebut.
Baiklah kita kembali pada istilah serendipity diatas, kenapa sulit dicarikan padanannya dalam Bahasa Indonesia? salah satu penjelasannya adalah kalimat pertama paragraf diatas. Istilah tersebut merupakan manifestasi kebudayaan di sana (meski bahasa sendiri itu adalah sebuah budaya) yang tidak dengan mudah dicari padanannya dengan budaya di Indonesia. Jelas perbedaan yang ada demikian banyak jika dipersandingkan antara kedua negara, bahkan secara geografis saja sudah berbeda belum lagi dengan hal-hal lainnya.
Dalam konteks tulisan ini yang ingin saya cermati bahwa hal semacam itu (serendipity), menemukan sesuatu yang berharga tanpa sengaja belum menjadi budaya kita sebagai bangsa. Buktinya istilahnya saja belum ada atau belum ditemukan. Bangsa penemu secara umum adalah bangsa yang rajin bereksperimen, bereksplorasi dan berani melakukan sesuatu secara berbeda atau keluar dari kebiasaan. Kita sebagai pribadi maupun sebagai bangsa tampaknya masih jauh dari kriteria tersebut. Dalam tataran tertentu kita sudah cukup berani untuk melakukan sesuatu secara berbeda, akan tetapi umumnya mudah patah semangat dan berhenti pada titik-titik dimana seharusnya kita bisa mendapatkan sesuatu, atau berhenti di menit-menit akhir.
Selain itu, kita seringkali kurang bisa bersyukur (ikhlas) ketika mendapati sesuatu tidak sesuai dengan tujuan atau keinginan dan harapan kita, meskipun hal tersebut baik bagi kita sekalipun. Akan tetapi karena ketidakpuasan kita itulah maka kita akan kembali mencoba untuk meraih hal yang sebelumnya kita harapkan meski dengan perjuangan yang lebih besar, biaya yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang tentu saja. Ini seringkali kita lihat dalam berbagai bidang, termasuk dalam pemerintahan. Ketika reformasi bergulir dan tampak disana-sini terlihat carut-marut dan bahkan mendekati chaos, orang tidak suka berfikir apa hal yang bisa dipetik dari semua itu – melainkan mereka akan membandingkan dengan era orde baru – yang tampak lebih enak daripada saat ini.
Wajar jika kemudian tampak usaha-usaha dari beberapa pihak untuk mencoba mengembalikan kepada sistem pemerintahan seperti era orde baru, karena reformasi dianggap gagal. Tetapi yang tidak atau kurang disadari semua pihak adalah kita akan kehabisan banyak waktu dan biaya hanya sekedar untuk kembali menjadi seperti orde baru, padahal kita telah menjalani reformasi selama 10 (sepuluh) tahun lebih. Lebih parahnya lagi kita akan menjadi phobia dengan perubahan, dan mewariskan kepada generasi selanjutnya sebuah trauma yang tidak boleh terulang.
Lagi-lagi kita akan tertinggal semakin jauh ke belakang dalam percaturan global, bahkan dibandingkan dengan saudara Asia kita, bahkan dengan serumpun kita Malaysia. Pertanyaan untuk sepuluh tahun reformasi adalah, apakah kita mengalami serendipity? atau untuk mudahnya, hikmah apa yang bisa dipetik dari perjalanan (eksplorasi, eksperimen) reformasi di Indonesia dan bisa menjadi sesuatu yang kita jadikan sebagia tonggak baru bernegara dan berbangsa yang lebih baik tentunya.
Iklan