Pria menikahi wanita karena berharap ia tidak berubah, ternyata ia berubah
Wanita menikahi pria karena berharap ia akan berubah, ternyata ia tidak berubah
(kata-kata bijak)

Saya mengutip kata-kata diatas dari sebuah milis dan saya terjemahkan secara bebas. Mengapa saya tertarik? benar. Karena ada kata ‘berubah’ disitu. Yang menarik lagi adalah dikotomi dua pernyataan diatas. Kurang lebih menyiratkan bahwa laki-laki lebih sulit berubah dibandingkan perempuan atau wanita. Benarkah demikian adanya?

Dalam beberapa, hal tersebut terbukti. Sebagai seorang laki-laki sayapun merasa demikian, artinya saya sadar bahwa untuk berubah ternyata tidaklah mudah. Contoh sederhana adalah merubah kebiasaan buruk ketika muda dan masih sendiri. Sebagai seorang laki-laki muda yang hidup bebas dan merasa merdeka, tidak pernah merasa risau dengan waktu dan tempat. Ketika sudah berkumpul dengan ‘gank’ seperti lupa segalanya. Ketika pergi bersama kawan-kawan serasa tidak perlu berfikir tentang rumah dan orang yang dirumah.

Ketika menikah hal itu menjadi masalah, dan ketika saatnya punya anak masalah bertambah besar akibat kesulitan untuk berubah tersebut. Secara umum saya dan kawan-kawan keluarga muda menghadapi persoalan yang sama ketika pulang kerja terlambat dan tanpa memberi khabar orang rumah. Padahal dahulu sebelum menikah, hal semacam ini tidak pernah menjadi masalah (karena memang tidak ada yang mempermasalahkan..?!). Kesadaran itu ada, bahwa sekarang sudah tidak sendiri lagi, sekarang ada anak-istri yang menanti di rumah, ada yang khawatir dan cemas ketika tiba waktunya pulang sang ayah dan suami belum tampak batang hidungnya. Tetapi lagi-lagi ternyata tidak mudah untuk berubah, bagi laki-laki.

Disisi lain, seorang perempuan mengalami metamorfosa yang sedemikian cepat setelah memasuki jenjang pernikahan. Walaupun ada perempuan yang teteap saja sejak gadis sampai nenek-nenek, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Secara umum perempuan lebih cepat dan sering berubah, baik secara fisik, mental dan tingkah-laku maupun sikap dan cara berfikirnya. Ketika masih berpacaran, seorang perempuan senang melihat calon suaminya berpakaian perlente dan mewah. Tetapi setelah menikah, cara berfikir itu kontan berubah. Daripada beli pakaian mahal-mahal kenapa tidak menabung untuk sekolah anak saja. Atau daripada duit dipakai untuk modifikasi kendaraan, kenapa tidak untuk beli pakaian anak saja? begitu kira-kira yang sering terjadi.

Itulah sekelumit cerita tentang perubahan pria dan wanita. Nah yang ingin saya sampaikan terkait dengan manajemen perubahan profesional, baik di kantor pemerintah, perusahaan, lembaga sosial dan masyarakat adalah bahwa hal yang sama bisa terjadi juga dalam bidang yang sudah saya sebutkan diatas. Dalam banyak kasus, wanita lebih mudah dipengaruhi dibandingkan laki-laki. Karena itu lebih mudah mencari dukungan perempuan daripada laki-laki. Dan setelah cukup banyak masa yang terlibat dalam isu perubahan, biasanya laki-laki akan masuk dalam gerbong belakangan.

Saya bukanlah psikolog, akan tetapi saya percaya bahwa cara berfikir perempuan dan laki-laki cenderung berbeda. Hal ini disebabkan juga karena bentuk penampang otak laki-laki dan perempuan ternyata berbeda (lihat gambar).

Bahkan dalam tradisi kepemimpinan dan kekuasaan di negeri ini masih diperdebatkan soal kapasitas perempuan (bukan bermaksud bias jender). Lho kok jadi melenceng? Bukan begitu, maksud saya adalah menarik kesimpulan sementara dari kata biajak diatas bahwa laki-laki memang lebih teguh pendirian, kuat daya pikir (nalarnya) dan celakanya lebih susah dipengaruhi alias ‘keras kepala’.

Sedangkan perempuan lebih mudah berubah dalam segala hal (termasuk fisik, baru kemarin kayak peragawati..ee..sekarang kok …?!). Secara pemikiran perempuan mudah goyah dan gampang dipengaruhi alias labil. Pendiriannya mudah tergoyahkan, apalagi jika melalui sesuatu yang menyentuh perasaan.

Akhirnya kita bisa menarik pembelajaran dalam konteks manajemen perubahan sebagai berikut. Dalam proses awal sebuah perubahan kita membutuhkan agen-agen perubahan yang akan membantu penyebarluasan gagasan dan ide-ide serta wacana perubahan. Dan ini memerlukan pendekatan terhadap wanita. Mengapa? karena wanitalah yang lebih mudah dipengaruhi, tetapi jangan menggunakan rasio dan logika yang berlebihan – wanita akan ‘muak’

Iklan