Saat ini sudah tidak aneh lagi bagi kita mendengar istilah inovasi, baik dalam perbincangan, ruang kuliah dan seminar, media elektronik dan lain-lain. Baik itu menyangkut persoalan ekonomi, politik, lingkungan, pertanian, energi, terlebih lagi dunia bisnis – tampaknya paling akrab dengan istilah tersebut.

Namun akhir-akhir ini ada beberapa kejadian yang cukup memiriskan hati (saya kshususnya..) berkiatan dengan inovasi tersebut. Sebutlah yang sedang ramai-ramianya saat artikel ini ditulis, yaitu heboh tentang pembakaran padi Supertoy HL2 di daerah Grabag, Purworejo oleh petani sendiri pada tanggal 3 September lalu. Apa pasal? ternyata hal ini dipicu adanya kekesalan petani akibat tidak terbuktinya janji-janji dari PT. Sarana Harapan Indopangan (SHI) yang merupakan penggagas proyek tersebut.

Padi yang beritanya sempat “dipromosikan” juga oleh Presiden SBY pada April lalu tersebut, diklaim pihak PT. SHI mampu menghasilkan 14,7 ton gabah per hektar. Namun petani kecewa karena ternyata cuma menghasilkan 3,5 ton per hektar. Siapakah yang harus bertanggungjawab? para politisi yang berseberangan dengan pemerintah sudah mulai pasang strategi menyerang, karena ini merupakan celah yang empuk – apalagi menjelang 2009. Komentator dan para pengamat mulai kasak-kusuk soal dampaknya terhadap konstelasi politik negeri ini.

Sedangkan orang dalam lingkaran pemerintahan dan lembaga kepresidenan mulai sibuk tengok kanan-kiri dan mulai mencari kambing yang siap atau bisa “dihitamkan”. Situasi semacam itu tampaknya sudah menjadi standar bagi kejadian-kejadian sejenis di negara kita. Seperti halnya kasus Blue Energy yang juga heboh beberapa waktu yang lalu, karena ternyata juga dianggap sebagai pepesan kosong dan bahkan tokoh dibalik itu – Joko Suprapto bahkan tengah berurusan dengan pengadilan akibat berseteru dengan sebuah PTS di Yogyakarta yang juga merasa “tertipu”.

Berkaca dari berbagai kejadian tersebut tampaknya kita harus mulai merenungkan kembali arti kata “inovasi”. Namun yang juga tak kalah penting adalah meningkatkan kesadaran tentang apa inovasi dan mengapa harus? serta apa konsekuensinya? Inovasi bukanlah produk dari ilham karena merenung semalam suntuk atau karena bertapa di gua. Secara umum inovasi adalah hasil dari kreativitas dan kerja keras serta konsisten. Kreativitas muncul dari adanya kebebasan berekspresi dan berkarya, suatu hal yang masih jarang juga terjadi di budaya kita.

Kreativitas juga merupakan produk dari sebuah apresiasi yang tulus, yang lagi-lagi juga hal yang masih langka di negeri ini. Bahkan ada sebuah pepatah yang sering dianggap tepat menggambarkan karakter bangsa ini (meski saya sendiri kurang setuju) yaitu, “JIka kita ingin kursi kita tampak bagus, rusaklah kursi orang lain”. Itulah gambaran bentuk apresiasi yang ada dalam budaya kita – meski tidak semua. Di satu sisi budaya plagiat juga menjadi pelengkapnya. Tanpa malu-malu mengklaim hasil karya orang lain sebagai karyanya, sesuatu yang juga sering terjadi. Baik dalam bisnis, akademis, teknologi, politik dan bidang-bidang yang lain termasuk seni. (Bersambung….)

Iklan