Bulan suci Ramadhan akan kembali mendatangi umat muslim di seluruh dunia, dan jika tidak ada aral maka hari pertama bulan tersebut akan jatuh tepat pada tanggal 1 September 2008. Hal yang sangat jarang terjadi, hari pertama bulan Hijriyah bersamaan dengan hari pertama bulan Masehi.

Bagi umat muslim di seluruh dunia, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Itu sudah sangat sering disampaikan oleh para ustadz dan kyai untuk mengajak umat muslim menyambut dengan suka cita datangnya bulan tersebut. Namun yang jarang disebut adalah bahwa bulan tersebut bisa disebut sebagai budiklat (bulan pendidikan dan latihan-red) ..ya, pada bulan ini umat Islam diharapkan dapat berlatih untuk menahan hawa nafsunya. Nafsu bagi manusia adalah pembangkit motivasi, tanpanya maka manusia sudah tidak lagi bisa disebut hidup. Akan tetapi nafsu ini pula yang seringkali menjadi awal kerusakan dan kehancuran.

Lingkungan dan alam sekitar rusak karena nafsu untuk mengeksploitasi kekayaan alam tersebut. Keamanan dan ketertiban rusak karena nafsu untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain. Situasi politik dan kepemimnan menjadi jauh dari amanah, lagi-lagi juga dikarenakan diperturutkannya hawa nafsu tersebut.

Islam memberikan solusi, tidak meberangus nafsu pada diri manusia tetapi menyuruh untuk mengendalikannya (controlled). Nah..pada bulan puasa inilah umat Islam diwajibkan untuk masuk kedalam diklat satu bulan penuh yang akan mengajarkan pengendalian terhadap hawa nafsu, yang paling sederhana adalah berkaitan dengan persolan perut, syahwat, mulut dan lebih tinggi lagi adalah mengendalikan hati. Yang terakhir itulah yang disebut sebagai puncak penendalian – karena tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui isi hati orang lain selain dari yang bersangkutan dan Tuhannya.

Lantas apakah hal tersebut relevan dengan isu perubahan? ya..karena harapannya dari proses pelatihan selama satu bulan penuh (tanpa jeda) tersebut selanjutnya akan berdampak pada sikap (attitude) dan perilaku (behaviour) dari peserta pelatihan (training) tersebut.

Apakah metode tersebut telah terbukti keandalannya? tentu saja..sebagai umat beragama yang percaya kepada sang pencipatanya maka sebagian besar kita sudah tidak menyangsikan lagi metode training pengendalian tesebut. Tetapi realita yang terjadi dalam masyarakat belumlah tampak seperti yang diidealkan. Sama seperti terjadi dalam pelatihan-pelatihan yang dilakukan dalam berbagai organisasi dan lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas (capacity building). Output yang diharapkan seringkali masih jauh dari harapan – demikian pula yang terjad dalam kasus puasa Ramadhan.

Akan tetapi premis tersebut tidaklah tepat jika oleh sebagian orang dipergunakan sebagai dalil untuk meniadakan “ritual peatihan” yang sering diaggap jumud dalam berbagai organisasi dan lembaga tersebut. Salah satu alasan lainnya yaitu karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, menyita waktu kerja produktif (mengurangi produktifitas) dan lain sebagainya dalam kasus diklat secara umum. Sedangkan dalam kasus puasa Ramadhan ada sebagian orang yang merasa “jengah” karena output yang diharapkan pada bulan Syawal sehabis puasa sebulan penuh tidak tercapai.

Jika demikian yang terjadi maka sebenarnya yang perlu ditinjau ulang adalah prosesnya. Jika metode sudah benar namun output tidak tercapi maka sudah barang tentu yang harus dilihat kembali adalah pelaksanaannya. Sudah benarkan penerapan metodenya? ataukah sudah tepatkah target yang ingin dicapai dengan input yang ada? ini seringkali yang luput dari perhatian pada umumnya. Lebih tepatnya orang sering menjeneralisir suatu  kasus.

Sederhananya, jika orang yang baru saja belajar menekan tombol key board komputer masuk kedalam pelatihan sebulan – maka tidaklah masuk akal jika output yang diharapkan adalah para programmer komputer handal. Demikian pula halnya dengan puasa Ramadhan. Bagi orang yang selama sebelas bulan lamanya bergelut dengan korupsi, kolusi dan nepotisme…diklat sebulan tidak lantas menjadikannya sebagai da’i atau manusia suci. Jadi, perubahan adalah sebuah proses..dan bisa sangat panjang atau lebih cepat, tetapi tidaklah “instant”. Seperti halnya bulan Ramadhan, bulan pelatihan dan perubahan bagi umat muslim. Tetapi janganlah berharap seperti tukang sulap yang bermantra “Sim Salabim…Abrakadabara…” semuanya berubah dan berjalan seperti keinginan kita.

Selamat menyambut Ramadhan 1429 H bagi umat muslim diseluruh dunia. Sebuah even pelatihan SDM paling akbar di dunia…hasilnya? kita jalani saja prosesnya, tunggu hasilnya, evaluasi kembali, jalani proses..begitu seterusnya.

Iklan