Sepertinya tidak bisa disangsikan lagi, kewirausahaan (entrepreneurship) berkaitan erat dengan perubahan. Salah satu konsep yang dikembangkan dalam kewirausahaan adalah pengambilan resiko terukur. Dalam banyak kasus, perubahan juga selalu diiringi dengan berbagai resiko dari yang kecil, sedang, besar atau bahkan sangat besar. Pada akhirnya ada benarnya konsep yang mengatakan bahwa dalam manejemen perubahan dibutuhkan SDM yang memiliki jiwa kewirausahaan.

Secara umum para penganut status quo (baca: anti-perubahan) adalah juga orang-orang yang tidak berani mengambil resiko, bahkan meskipun terukur atau sudah diukurkan, dibantu mengukur oleh orang lain..tetap saja mereka akan resisten terhadap perubahan. Karena pada dasarnya mereka cenderung tidak mau meninggalkan comfort zone (yang saat ini sedang dijalani..) dan menuju zona yang peuh ketidakpastian, tentu akan sangat menyakitkan. Itu yang ada dibenak banyak orang.

Para wirausahawan atau entrepreneur justru adalah orang yang berani meninggalkan zona nyaman menuju zona yang bahkan bisa sangat tidak nyaman, baik dalam waktu sesaat atau bisa juga sangat lama. Contohnya misalnya adanya karyawan sebuah perusahaan atau pegawai pemerintah yang meninggalkan jabatan dan pekerjaan dengna gaji tetap untuk menjadi pengusaha yang belum tentu menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek. Bahkan yang lebih ektrim lagi – meninggalkan pekerjaan mapan untuk mencari sebuah usaha dan ide usaha yang belum jelas atau belum ada wujudnya, apalagi keuntungan.

Atau dalam wilayah publik, ada orang yang disebut sebagai social entrepreneur yang berani menmpuh resiko dan mengambil sebuah peran yang baru dalam masyarakat untuk membuat terobosan yang diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat lebih dari sebelumnya. Didalam pemerintahan, seorang pejabat atau pegawai pemerintah cenderung mengambil langkah dan tindakan yang sesuai dengan tugas dan fungsi yang telah digariskan – meskipun untuk kebaikan masyarakat yang dilayani. Mereka umumnya tidak berani mengambil resiko disalahkan oleh atasan, atau dicopot dari jabatan karena melanggar tugas dan fungsinya. Padahal itu jelas-jelas dibutuhkan oleh masyarakat.

Cotoh paling tepat dalam hal ini adalah apa yang dilakukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang dalam tugasnya menolak penasihat hukum bagi para tersangka. Sebagian kalangan (..yang tidak suka dengan sepak-terjang KPK…) mengkritik hal ini dengan menuduh KPK sebagai penegak hukum telah berbuat melanggar hukum dengan tidak membolehkannya tersangka didampingi oleh pengacara. Padahal itu  diatur oleh undang-undang, jadi KPK dianggap telah melanggar undang-undang dalam menjalankan tugasnya.

Dalam setiap perubahan selalu akan berhadapan dengan hal-hal semacam ini, dan ini membutuhkan sebuah keberanian bertindak, pengambilan resiko dan juga kemampuan mental untuk melawan arus utama. Dan sepertinya hal tersebut melekat pada ciri-ciri dan sifat kewirausahaan.

Iklan