Sudah jamaknya jika kaum muda diidentikkan dengan perubahan. Tentu bukan tanpa dasar jika banyak orang berpendapat demikian. Namun tampaknya akhir-akhir ini hal tersebut menjadi sebuah polemik yang entah menguntungkan siapa, yang tua atau yang muda. Bola salju ini mulai bergulir ketika Tifatul Sembiring yang saat ini menjabat presiden PKS tersebut berorasi dalam Mukernas PKS di Hotel Clarion, Makassar, Senin 21 Juli 2009 yang baru lalu. Tifatul Sembiring mengatakan bahwa 2009 adalah waktunya bagi orang muda untuk memimpin, jadi bagi yang tua dan pernah gagal untuk tidak maju lagi.

Pernyataan tersebut ternyata ditanggapi oleh berbagai pihak, dan uniknya adalah para politisi yang senior – jika tidak mau disebut tua. Tak kurang ketua umum partai Golkar, H. Yusuf Kalla berkomentar menanggapi pernyataan tersebut. Dan yang tampak paling emosional adalah ketua umum PDIP yaitu Megawati Sukarno Putri. Bahkan reaksi sang ketua umum tersebut diopinikan oleh berbagai media sebagai tantangan terhadap presiden PKS untuk bertarung dalam Pilpres 2009 nanti.

Saat ini saya bukan bermaksud terlibat dalam polemik tersebut atau ingin mendapatkan keuntungan dari isu tersebut, meski saya juga adalah orang muda. Tetapi saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan kembali isu perubahan, kondisi negeri ini dan kepemimpinan serta tentu saja tentang generasi muda. Apakah benar generasi muda identik dengan perubahan? atau generasi tua identik dengan status quo?

Saya tidak menggunakan analisa politik untuk menggambarkannya, saya hanya ingin mengajak kita berfikir kembali. Mengapa seorang pemuda lebih berani megambil rsiko daripada seorang bapak beranak dua? Ini didasarkan pada pengalaman saya sendiri sebagai pemuda yang telah beranak dua. Pada saat saya masih membujang, tidak ada hal yang bisa menghalangi saya untuk berbuat sesuatu yang saya anggap baik, bahkan tidak juga dengan orang tua saya sendiri. bersambung…

Iklan