Komunikasi adalah kecenderungan dasar setiap makhluk hidup, terlebih manusia yang memiliki indra dan alat komunikasi verbal yang paling lengkap. Manusia bisa saling berbicara satu dengan lainnya, mendengar, mengirim surat dan bahkan saat ini manusia telah mencapai taraf yang belum terbayangkan sebelumnya. Berbicara dan saling melihat dari jarak yang berjauhan (teleconferrence) berkat kemajuan teknologi khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Lantas bagaiamanakah kaitannya dengan proses perubahan? Apakah komunikasi juga akan berperan penting? Tentu saja jawabannya akan sangat tergantung dari jenis dan kualitas komunikasi yang kita bicarakan. Akan tetapi saya pikir semuanya akan sepakat bahwa dalam proses perubahan komunikasi menemukan tempat yang jauh lebih penting daripada sebelumnya. Mengapa demikian? Pasti kita semua sepakat bahwa dalam perubahan, satu-satunya hal yang pasti adalah ketidakpastian.

Dengan adanya ketidakpastian maka itu berarti bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dan itu berarti peluang sekaligus ancaman bagi semua. Bagi pihak yang mengharapkan perubahan, keidakpastian bisa berarti ada peluang akan adanya perubahan yang diharapkan. Sedangkan bagi pihak yang tidak mennginginkan perubahan – secara umum disebut status quo – berharap dengan ketidakpastian maka kondisi akan kembali tenang dan bandul akan bergerak ke posisi semula. Artinya mereka tetap mengharapkan hal yang sedang terjadi hanyalah kejutan sementara yang akan normal kembali pada saatnya nanti.

Lantas bagaimanakah kaitannya dengan komunkasi yang sedang kita bicarakan diatas? Tentu saja sangat jelas benang merahnya, bahwa komunikasilah yang akan berperan untuk menjembatani masing-masing pihak untuk bisa bertahan dalam harapannya masing-masing. Ini berarti bahwa siapa yang menguasai komunikasi bisa berarti telah memenangkan sebagian „pertarungan“.

Jika demikian maka didalam manajemen perubahan sudah seharusnya meletakkan komunikasi dalam daftar prioritas tertinggi dalam rencana tindak dan implementasinya. Jika hal ini tidak dilakukan maka itu bisa diartikan bahwa ada pihak lain yang akan memanfaatkannya. Jika hanya ada dua pihak yang berkepentingan maka bisa langsung ditebak pihak manakah yang akan mendapat keuntungan dari penguasaan komunikasi tersebut. Ceritanya menjadi lain ketika ada banyak pihak (multi stakeholders) yang berkepentingan terhadap sebuah proses perubahan.

Contoh untuk kasus ini bisa kita dapatkan dalam proses perubahan yang terjadi dalam lembaga pemerintahan atau organisasi publik lainnya. Ada banyak pihak yang berkepentingan dan berperan dalam proses perubahan. Ada lembaga swadaya yang memperjuangkan kepentingan publik, ada wakil rakyat yang juga menyuarakan kepentingan rakyat, pemerintah yang juga akan menjadi pelayan masyarakat, ada lembaga bisnis yang membutuhkan dukungan regulasi dan mungkin saja stimulan tertentu. Dan masih banyak lagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan dengan lembaga pemerintahan.

Tentu saja hal ini menjadi tantangan yang tidak lebih ringan bagi manajemen perubahan sektor publik dibandingkan sektor privat atau swasta. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi pentingnya komunikasi dalam manajemen perubahan. Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi yang demikian pesatnya. Siapakah yang bakal menjadi pemenang? pihak yang menguasai server dan bank data, orang yang memiliki handphone paling canggih, aplikasi komputer paling lengkap, tenaga terampil dalam bidang TIK..? atau politisi yang mampu mengetok palu dengan keras? atau jangan-jangan malah mahasiswa dan aktivis yang menggunakan megaphone di perempatan kantor pos besar..? entahlah…

Iklan