Manajemen perubahan diasumsikan sebagai sebuah proses mengelola sebuah perubahan, baik perubahan yang disengaja maupun perubahan yang muncul dengan sendirinnya.
Setiap perubahan selalu memunculkan ketidakpastian. Dalam situasi semacam itu orang akan cenderung kebingungan dan merasa tak berdaya. Jika dibiarkan akan menimbulakan frustasi dan lebih jauh lagi akan menyebabkan situasi “chaos”.

Dalam kondisi ketidakpastian orang cenderung berbuat untuk mencari aman dan selamat. Celakanya, jika semua orang bermain amaan dan mencari selamat maka hampir bisa dipastikan tidak akan ada perubahan. Karena sebuah perubahan selalu penuh dengan resiko. Seperti dsebutkan sebelumnya, resiko pertama adalah ketidakpastian itu sendiri. Tetapi lebih dari itu, perubahan akan membawa sesuatu yang bisa saja membahayakan semua orang atau masing-masing individu.

Dengan asumsi tersebut, diperlukan sebuah pengelolaan terhadap sebuah perubahan. Itulah esensi dari manajemen perubahan. Secara umum dalam bidang manajemen orang mengenal empat tahapan, yaitu: perencanaan, pengorganiasian, pelaksanaan dan monitoring atau pemantauan serta evaluasi. Demikian halnya dalam manajemen perubahan, setiap tahapan tersebut diimplementasikan dalam rangka mengelola perubahan tersebut.

Hasil yang ingin dicapai tentu saja adalah manfaat dari sebuah perubahan, dan bukannya dampak negatif atau resiko dari perubahan. Seringkali perubahan itu berkaitan dengan hal-hal yang memang tidak menyenangkan. Misalnya, dalam perusahaan atau bisnis perubahan terjadi karena adanya pesaing baru. Baik berupa produk maupun penyedianya. Apapun itu yang jelas adalah sebuah ancaman bagi eksistensi perusahaan.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini faktor penyebab perubahan terbesar di dunia ini adalah perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Tak seorangpun bisa menyangkal hal ini, bahwa perkembangan TIK telah membawa perubahan luar biasa baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan yang lebih jauh lagi adalah persoalan agama dan keyakinan – sebuah domain yang selama ini dianggap tak tersentuh oleh perubahan – ternyata tak luput dari ancaman (atau justru peluang baru) tersebut.

Terlepas dari berbagai polemik dan perdebatan soal teknologi itu sendiri – yang dianggap sebagai bagian dari gerakan globalisasi atau bahkan ada yang menganggap sebagai imperialisme baru – yang jelas bahwa hal itu telah merubah kehidupan kita, baik kita suka atau tidak suka. Bahkan kita rela atau tidak rela, semua telah melindas dan menggulung kita dalam ombak besar perubahan. Dengan demikian, masih perlukah kita berdebat soal perubahan itu sendiri atau tentang cara menghadapinya?

Iklan