Dua kata yang mewakili arti dan makna yang berbeda. Inovasi, dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Innovation. The term innovation may refer to both radical and incremental changes in thinking, in things, in processes or in services (Mckeown, 2008) – http://en.wikipedia.org/wiki/Innovation). Tetapi sering disebut juga sebagai sebuah hasil atau keluaran dari sebuah penemuan atau implementasi dari sebuah penemuan.

Dari definisi menurut Mckeown diatas setidaknya tersirat bahwa perubahan juga adalah bagian daripada inovasi. Artinya tidak ada inovasi tanpa perubahan. Sedangkan kata “perubahan” secara umum berarti proses untuk menjadi berbeda.

Akhir-akhir ini dua kata tersebut seolah telah menjadi mantra abad 21. Hampir semua orang membicarkannya, mulai dari bidang pemerintahan, sosial dan kemasyarakatan dan tentu saja yang sebenarnya paling progresif adalah dunia bisnis dan ekonomi. Yang disebut terakhir ini justru seringkali menjadi pihak terdahulu yang menyadari dan mengimplementasikan prinsip-prinsip tersebut.

Tidaklah mengherankan, dunia bisnis memang sebuah dunia yang sangat progresif dan lebih bersifat terbuka – kalau tidak mau disebut pragmatis – yang menghitung segala sesuatu secara material. Dan hal ini diakui oleh siapapun merupakan sebuah dasar dan cara berfikir atau logika dari sebuah bisnis. Walaupun hal ini mulai menunjukkan kelemahan mendasar saat ini. Karena terlalu menyederhanakan persoalan dengan hanya mendasarkan pada teori ekonomi materialisme sehingga dunia usaha/bisnis dewasa inipun mengalami apa yang disebut krisis moral (moral hazard).

Lepas dari hal tersebut, setidaknya kita dan hampir semua orang mengakui pula bahwa satu-satunya hal yang tetap di dunia ini adalah perubahan. Cuma sayangnya, tidak semua orang menerima dengan mudah dan merespon perubahan yang terjadi disekitarnya dengan perubahan internal yang diperlukan. Lebih tepatnya adalah beradaptasi terhadap perubahan, alih-alih justru menjadi resisten dari perubahan. Memang hal terberat bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan resistensi terhadap perubahan yang membuat kita “sakit”.

Lantas apakah kita harus berdiam diri dan menunggu perubahan datang dan menggilas kita..? selanjutnya mencampakkan kita ke masa lalu yang kelam. Ingat masa sekarang akan menjadi masa lalu, setelah adanya perubahan. Ada sebagian pihak yang menyadari dengan baik persoalan tersebut, sehingga muncullah apa yang disebut dengan change management atau manajemen perubahan.

Daripada meratapi perubahan yang terjadi, justru hal ini bermaksud mengelola sebuah perubahan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Namun sekali lagi, tidak mudah walaupun bukan berarti tidak mungkin.

Iklan