<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>agen-perubahan</title>
	<atom:link href="http://riyantosuwito.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riyantosuwito.wordpress.com</link>
	<description>Satu-satunya hal yang tetap di dunia adalah perubahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2009 08:22:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='riyantosuwito.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e480dbbd80d6ba6c14a2f7783978a75f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>agen-perubahan</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Entrepreneur [petani yang pedagang itu]</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/28/entrepreneur-petani-yang-pedagang-itu/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/28/entrepreneur-petani-yang-pedagang-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 06:47:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Petani  &#8211; terlebih untuk kondisi saat ini -  identik dengan profesi pengambil resiko (risk taker) sedangkan pedagang lebih identik dengan pengambil keuntungan (profit taker). Sangat wajar jika kemudian terjadi dikotomi nasib diantara keduanya. Memang benar bahwa ada perbedaan cara berpikir yang signifikan diantara keduanya. Mengapa saya menyebut petani sebagai pengambil resiko? dan pedagang sebagai pengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=219&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-220" title="aa&amp;jk" src="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/aajk.jpg?w=115&#038;h=112" alt="aa&amp;jk" width="115" height="112" />Petani  &#8211; terlebih untuk kondisi saat ini -  identik dengan profesi pengambil resiko <em>(risk taker) </em>sedangkan<em> </em>pedagang lebih identik dengan pengambil keuntungan <em>(profit taker)</em>. Sangat wajar jika kemudian terjadi dikotomi nasib diantara keduanya. Memang benar bahwa ada perbedaan cara berpikir yang signifikan diantara keduanya. Mengapa saya menyebut petani sebagai pengambil resiko? dan pedagang sebagai pengambil keuntungan? apakah berlebihan..?!<br />
<span id="more-219"></span><br />
Coba kita lihat kembali bagaimana kehidupan seorang petani, baik petani tanaman pangan pokok maupun tanaman pangan substitut lainnya. Aktivitas mereka dimulai dari pengolahan lahan yang berarti juga meng-investasikan waktu, tenaga dan bisa juga uang pada lahan mereka (atau lahan orang lain jika mereka hanya penggarap). Setelah itu mereka akan menyebar benih agar memperoleh bibit-bibit tanaman yang siap tanam &#8211; meski sekarang sudah banyak pula petani lain yang hanya menjual bibit &#8211; dan tahap selanjutnya tentu saja menanam bibit dengan harapan akan tumbuh besar dan menghasilkan buah.</p>
<p>Selama menunggu proses pembuahan itupun tidak lantas aktivitasnya habis bagi mereka, karena mereka juga harus merawat, melakukan pemupukan (jika tanahnya kurang subur seperti kebanyakan kondisi saat ini), memberantas hama dan sebagainya sampai si tanaman berbuah.</p>
<p>Dan jika kita cermati ternyata setiap tahapan adalah aktivitas yang semuanya penuh resiko.Termasuk jika terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan juga kebutuhan hidup lainnya. Mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produknya karena biasanya mereka menjual sesuatu ketika sudah terdesak oleh kebutuhan hidupnya.</p>
<p>Bukan berarti para petani tidak menyadari itu, justru sebaliknya sangat sadar. Bahkan dahulu (berpuluh tahun lalu &#8211; saat saya masih berumur kurang dari sepuluh tahun) saya pernah mendapatkan nasehat Budhe (dari bapak) saya di kampung yang kurang lebih begini, &#8220;Anak muda, meski kamu nanti sudah menjadi orang yang kerja dibelakang meja (maksudnya pegawai kantoran) jangan lupakan pertanian  karena itu adalah asal-usulmu&#8221;. Maksudnya bahwa petani bukan sekedar untuk menghidupi diri-sendiri dan keluarga melainkan juga orang lain.</p>
<p>Berbeda dengan pedagang &#8211; yang ketika harga pokok pembelian meningkat mereka akan segera menyesuaikan harga jual produknya. Bedanya keuntungan yang diperoleh tetap dengan modal yang lebih besar alias persentase-nya menurun.</p>
<p>Bukan berarti pula bahwa aksi ambil untung <em>(profit taking)</em> itu sepenuhnya keliru. Tetapi mengambil keuntungan tanpa investasi dan idealisme untuk memberi manfaat kepada orang lain atau pelanggan,  mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain, mematikan usaha lainnya dengan persaingan yang tidak sehat adalah tindakan yang mengingkari prinsip kemanusiaan.</p>
<p>Baru sekarang inilah pikiran saya mampu mencerna (sebagian kecil) maksud dari nasehat para leluhur saya tersebut. Saya mulai mengerti mengapa para petani di kampung tetap bertahan dan (masih saja) beraktivitas dan berinvestasi (menanam sesuatu) di lahan dengan mengambil resiko yang semakin lama semakin tidak mampu mereka tanggung sendiri. Meski disisi lain mereka agak mengkhawatirkan (tetapi belum mampu berbuat apa-apa) ketika sebagian besar generasi muda tidak mau lagi bersusah-susah untuk bertani.</p>
<p>Sedang di dunia yang sama namun berbeda seting panggungnya, banyak anak-anak muda (dan tua) yang justru tengah keranjingan dengan bisnis dan perdagangan yang (lagi-lagi) hanya mengejar keuntungan semata alias aksi <em>profit taking. </em>Maraknya perdagangan berjangka valuta telah semakin mendikotomi konsep hidup &#8220;pengambil resiko&#8221; dan &#8220;pengambil keuntungan&#8221; di atas.</p>
<p>Jika dahulu aktivitas pengambilan keuntungan yang dilakukan para pedagang hanya berimbas lokal dan tidak begitu terasa &#8211; namun sekarang..semua itu berdampak sangat luas, masif  dan mengerikan karena dukungan teknologi informasi dan pragmatisme yang berlebihan.</p>
<p>Ada pula sebagian pihak yang meredusir kewirausahaan (entrepreneurship) dengan kata-kata cara cepat menjadi pengusaha, menghasilkan dollar dalam semalam, peluang usaha tanpa modal, investasi tanpa resiko, bisnis mudah minim resiko keuntungan maksimal dan lain-lain.</p>
<p>Bukan bermaksud menghakimi atau memperjelas dikotomi &#8220;para pencari untung&#8221; dan &#8220;para pengambil resiko&#8221; tersebut diatas. Atau berkampanye mengajak setiap petani harus memiliki usaha sampingan, atau pedagang juga harus bertani. Karena meski bertindak demikian namun dengan tetap men-dikotomikan kedua prinsip diatas maka hasilnya adalah manusia bertopeng, yaitu petani yang idealis &#8220;di sawah&#8221;  &#8211; namun sangat pragmatis dan oportunis &#8220;di pasar&#8221;.</p>
<p>Petani harusnya lebih bisa &#8220;berdaya&#8221; dengan mengadopsi pula konsep pengambilan keuntungan. Sedangkan pedagang bisa menjadi lebih &#8220;manusiawi&#8221; dengan sedikit menerapkan (karena saya yakin mereka juga memiliki) idealismenya.</p>
<p>Ini menjadi masukan Program 100 Hari (andai saya tahu jalan ke rumah Pak Mentri&#8230;?!!) bagi Menteri Pemuda &amp; Olah Raga, Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Komunikasi dan Informasi, Menteri PDT dan semua saja&#8230;.kalau bisa&#8230;.!???</p>
<p>Memang, ini hanyalah sekedar konsep <em>entrepreneurship </em>yang diajukan anak petani yang kebetulan juga pedagang. Tetapi besar harapan ini akan didengar oleh pemuda-pemudi Indonesia dan menginspirasi lahirnya generasi baru..!? Dan yang terpenting justu untuk mengingatkan keberadaan si anak petani yang pedagang itu&#8230;?!!!</p>
<p>(Ditulis dalam rangka Peringatan Hari Soempah Pemoeda)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=219&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/28/entrepreneur-petani-yang-pedagang-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/aajk.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">aa&#38;jk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reframing [karena semua adalah nyata dalam dunia pikiran]</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/27/reframing-karena-semua-adalah-nyata-dalam-dunia-pikiran/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/27/reframing-karena-semua-adalah-nyata-dalam-dunia-pikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 09:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Istilah reframing sering juga disebut dengan membingkai ulang isi. Maksudnya adalah proses mengubah pengalaman negative menjadi sesuatu yang positif dengan mengubah makna pengalaman tersebut. Ingatlah bahwa setiap pengalaman atau kejadian memiliki banyak makna. Makna yang kita pilih utnuk kita percayai akan menjadi sesuatu yang nyata bagi kita.
Teknik ini sering digunakan oleh para terapis untuk membantu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=213&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-217" title="pas-brotherhood" src="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/pas-brotherhood3.jpg?w=101&#038;h=150" alt="pas-brotherhood" width="101" height="150" />Istilah <em>reframing</em> sering juga disebut dengan membingkai ulang isi. Maksudnya adalah proses mengubah pengalaman negative menjadi sesuatu yang positif dengan mengubah makna pengalaman tersebut. Ingatlah bahwa setiap pengalaman atau kejadian memiliki banyak makna. Makna yang kita pilih utnuk kita percayai akan menjadi sesuatu yang nyata bagi kita.</p>
<p>Teknik ini sering digunakan oleh para terapis untuk membantu klien yang mengalami trauma akibat kejadian buruk di masa lalu. Inti dari teknik ini adalah memberi makna baru pada sebuah kejadian di masa lalu ataupun sekarang ini. Misalnya, ada seorang pegawai yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) ditengah sulitnya mencari pekerjaan. Reaksi otomatis yang akan muncul adalah marah, kecewa, sakit hati dan sederet emosi negative lainnya.<br />
<span id="more-213"></span><br />
Dan menurut para ahli kejiwaan, emosi negative yang sering terjadi inilah yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan seperti yang diharapkannya. Nah, <em>reframing</em> ini tidak mengubah kejadian tersebut – tetapi memberikan makna baru yang pada akhirnya akan memunculkan emosi yang positif dan membangun bagi diri dan juga lingkungan kita. Untuk contoh kasus diatas, <em>reframing</em>-nya bisa menjadi sebagai berikut:</p>
<p><strong>Kejadian:</strong></p>
<p>Di PHK disaat sulit</p>
<p><strong>Reaksi &amp; pengalaman:</strong></p>
<p>Sakit hati, kecewa dll</p>
<p><strong>Bingkai ulang:</strong></p>
<ul>
<li>Ini merupakan langkah awal untuk berwirausaha</li>
<li>Saya tidak harus menjadi pegawai sampai tua</li>
<li>Dll</li>
</ul>
<p>Dengan membingkai ulang sebuah pengalaman memang tidak akan mengubah kejadian itu sendiri – akan tetapi yang sedang kita ubah adalah cara kita memaknai pengalaman tersebut menjadi lebih positif dan pada akhirnya akan memunculkan sikap dan tindakan yang positif pula. Dan yang lebih penting lagi kita tidak terus hidup di masa lalu tetapi siap untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.</p>
<p>Hal ini bisa diterapkan dalam bidang apa saja, baik bisnis, hubungan keluarga, pertemanan dan bahkan pengalaman yang paling pribadi sekalipun. Untuk ini saya punya sebuah kisah nyata.</p>
<p>Saya memiliki dua orang anak yang masih kecil, satu perempuan (Bita) dan satunya laki-laki (Fawwaz) saat ini berumur tiga tahun lebih, sedangkan kakaknya baru genap enam tahun.</p>
<p>Ceritanya terjadi kurang lebih tiga tahun yang lalu (tepatnya saya lupa). Saya dan anak saya yang pertama mengantarkan keponakan perempuan saya (Dian) yang masih kuliah dan ingin membeli sebuah laptop <em>(notebook)</em>. Waktu itu saya bersama dua perempuan, gadis muda dan balita tersebut ke Jogjatronik (anda pasti bisa menebak kotanya khan…?!).</p>
<p>Saya ajak anak gadis saya tersebut melihat-lihat setiap konter penjual computer dan laptop – Tanya sana-sini, minta brosur dan melihat-lihat barangnya.</p>
<p>Akhirnya setelah berputar-putar cukup lama dari satu konter ke konter lainnya, saya memberikan saran pada keponakan saya untuk membeli sebuah laptop warna kuning (merk dirahasiakan..nanti dikira promosi) yang memang dia juga suka, dan saya melihat bentuk dan spesifikasinya lumayan bagus untuk kondisi saat itu. Lengkap dengan <em>web cam, wi-fi</em> dan <em>DVD Writer plus LCD 10”</em> (waktu itu sudah sangat hebat khan..?)</p>
<p>Cerita sebenarnya bukanlah itu, tapi bahwa pengalaman ini ternyata menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi si gadis kecil (anak pertama saya) – dan dia selalu menceritakan hal itu ketika kami melewati toko tersebut yang memang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tentu saja hal ini tidak menyenangkan bagi anak saya yang kecil – yang kebetulan tidak ikut karena masih terlalu kecil untuk saya ajak – pada saat kejadian tersebut.</p>
<p>Dia menunjukkan reaksi tidak senang kalau dalam perjalanan melewati toko tersebut, si kakak langsung menceritakan pengalamannya tanpa bosan-bosannya dan tanpa perasaan bersalah – justru sebaliknya perasaannya seperti menang, tapi saya juga maklum namanya saja anak-anak.</p>
<p>Tentu saja si adik ini menjadi kesal (saya tahu dari sikapnya…!?) tetapi ia dengan cerdasnya mengarang sebuah cerita seolah-olah dia pernah pergi ke toko tersebut bersama kakak sepupunya dan membeli laptop – tanpa mengajak serta si kakak dalam ceritanya. Saya menganggap ini merupakan sebuah penerapan teknik <em>reframing</em> yang bahkan saya yakin anak saya mendengar istilahnya saja belum pernah. Tapi dia telah melakukan hal itu.</p>
<p>Daripada dia kesal setiap kali mendengar cerita dan pengalaman masa lalu yang tidak pernah berubah (mengajak dia menjadi tokoh cerita maksudnya…hehehe) dan harus merasa kalah – ia justru membingkai ulang kejadian tersebut menjadi cerita versinya sendiri. Dan setiap kali kami melewati toko tersebut, dia sigap berdiri dari jok mobil dan melihat ke belakang (biasanya kakak perempuan dan ibunya duduk di jok belakang) dan dengan gagahnya menceritakan pengalaman “belanja imajiner” dengan judul, “Membeli laptop bersama Ayah dan Mbak Dian”. Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana kira-kira cara dia menceritakannya…!? hehehe</p>
<p>Saya (sebagai pelaku sejarah-pun) tidak mampu mengubah alur cerita tersebut sesuai dengan aslinya dan hanya bisa manggut-manggut. Memang ibunya sempat khawatir bahwa ini berbahaya bagi kejiwaannya, tapi saya justru mengatakan sebaliknya, “Imajinasi Lebih Penting Daripada Pengetahuan” – ya, anda benar saya cuma mengutip dari Einstin. Dan toh saat ini ia masih kecil dan bukan kriminal, dan justru tugas kamilah untuk menanamkan nilai-nilai yang berguna bagi dirinya kelak tanpa harus membunuh kreativitas dan imajinasinya.</p>
<p>Karena pikiran anda tidak bisa membedakan kisah nyata atau imajinasi – semuanya adalah nyata dalam dunia pikiran. Membingkai ulang sebuah kisah bisa jadi berguna khan? Tanpa harus mengubah sejarah, kita bisa menyongsong masa depan lebih baik. Dan yang terpenting kita tidak terjebak untuk menyalahkan siapapun dan terperangkap di masa lalu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=213&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/27/reframing-karena-semua-adalah-nyata-dalam-dunia-pikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/pas-brotherhood3.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">pas-brotherhood</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diferensiasi dan Kreativitas Bisnis</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/15/diferensiasi-dan-kreativitas-bisnis/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/15/diferensiasi-dan-kreativitas-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 06:18:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Differentiation menurut kamus elektronik encarta, salah satunya didefinisikan sebagai establishment of differences: the establishment of differences or a difference among two or more things. Sedangkan dalam konsep marketing dan strategi bisnis di Indonesia disebut dengan diferensiasi. Dulu, istilah ini lebih sering dipakai atau dikaitkan dengan diferensiasi produk atau harga.
Sekarang ini istilah diferensiasi sudah jauh berkembang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=203&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><strong></strong><img class="alignleft size-full wp-image-204" title="strategic-triangle" src="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/strategic-triangle.jpg?w=132&#038;h=112" alt="strategic-triangle" width="132" height="112" />Differentiation</em> menurut kamus elektronik <a title="Kamus Encarta" href="http://encarta.msn.com/dictionary_/differentiation.html" target="_blank">encarta</a>, salah satunya didefinisikan sebagai <em>establishment of differences</em>: <em>the establishment of differences or a difference among two or more things. </em>Sedangkan dalam konsep marketing dan strategi bisnis di Indonesia disebut dengan diferensiasi. Dulu, istilah ini lebih sering dipakai atau dikaitkan dengan diferensiasi produk atau harga.</p>
<p>Sekarang ini istilah diferensiasi sudah jauh berkembang, salah satunya menurut pakar marketing dari <a title="Markplus. Inc" href="http://www.markplusinc.com/markplus-founder.php" target="_blank">Markplus.Inc</a>, Hermawan Kartajaya bahwa diferensiasi meliputi tiga hal yaitu: <em>product </em><em>(what to offer)</em>, <em>context (how to offer)</em> dan <em>infrastructure (enabler)</em>. Saya sendiri termasuk pendukung konsep ini, dibandingkan dengan diferensiasi &#8220;hanya&#8221; pada produk dan harga seperti disebut sebelumnya diawal tulisan ini.<span id="more-203"></span></p>
<p>Lantas apakah ada keterkaitan antara konsep diferensiasi dengan kreativitas bisnis atau lebih jelasnya kreativitas pelaku bisnis..? menurut saya jelas sangat terkait. Bagaimana mungkin bisnis (pelaku bisnis) yang tidak atau kurang kreatif akan mampu melakukan diferensiasi pada salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut diatas. Jawabannya bisa saja..! misalnya, dengan bantuan konsultan, dukun, rekan, saudara, atau siapapun &#8211; tetapi tetap saja bahwa bisnis tersebut harus kreatif untuk bisa melakukan strategi diferensiasi &#8211; minimal kreatif untuk meminta bantuan dari pihak lain, baik dengan memberi imbalan atau hanya sekedar ucapan terima kasih.</p>
<p>Diferensiasi itu sendiri menurut saya adalah sebuah keharusan bagi sebuah bisnis karena dua alasan. Pertama, ini merupakan sebuah &#8220;kewajiban&#8221; kita kepada pelanggan jika kita merasa memiliki misi. Artinya, dengan memberikan pilihan yang berbeda kita sedikit mengurangi pusingnya konsumen akibat dibanjiri dengan berbagai penawaran baik produk barang maupun jasa. Disisi lain, ini memudahkan mereka mengidentifikasi bisnis kita ditengah keramaian <em>(crowded)</em> pasar.</p>
<p>Alasan kedua yaitu, bahwa diferensiasi ini merupakan sikap hormat kita kepada kompetitor maupun sesama pelaku bisnis. Disisi lain, ini berarti bahwa kehadiran kita tidak untuk menantang mereka &#8211; tetapi untuk melengkapi dan meramaikan bahkan bisa jadi membentuk pasar baru. Hal ini berarti bahwa dengan hadirnya produk atau bisnis baru justru akan membuka atau mengembangkan pasar baru &#8211; bukan sebaliknya &#8211; memenuhi pasar yang sudah sempit dan penuh sesak.</p>
<p>Dengan demikian, sebuah bisnis yang menerapkan strategi diferensiasi adalah juga bisnis yang kreatif. Biasanya pula, strategi ini tidak berjalan sendiri melainkan dipadu dengan strategi yang lain. Misalnya <em>positioning</em>, <em>differentiation</em>, dan <em>brand</em> akan diterapkan sebagai sebuah strategi segitiga atau sering disebut <em>The Strategic Triangle</em> seperti gambar diatas. Lagi-lagi ini membutuhkan kreativitas.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=203&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/15/diferensiasi-dan-kreativitas-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/strategic-triangle.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">strategic-triangle</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Miyabi dan Industri Kreatif di Indonesia</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/14/miyabi-dan-industri-kreatif-di-indonesia/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/14/miyabi-dan-industri-kreatif-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 04:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inovasi & Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi ini soal Miyabi, padahal terus terang saya pribadi baru mendengar nama Miyabi itu setelah ribut-ribut demo menentang kehadirannya di Indonesia lho&#8230;??! sueeerrr dech&#8230;!?? Dan saya baru tahu di tayangan salah satu TV swasta bagaimana &#8220;rupa&#8221; si Miyabi yang ternyata memang cantik. Saya malah jadi bertambah bingung, orang secantik itu kok ditolak yaa..??!! kasian..hehehe&#8230; Akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=200&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-201" title="miyabi" src="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/miyabi.jpg?w=90&#038;h=135" alt="miyabi" width="90" height="135" />Lagi-lagi ini soal Miyabi, padahal terus terang saya pribadi baru mendengar nama Miyabi itu setelah ribut-ribut demo menentang kehadirannya di Indonesia lho&#8230;??! sueeerrr dech&#8230;!?? Dan saya baru tahu di tayangan salah satu TV swasta bagaimana &#8220;rupa&#8221; si Miyabi yang ternyata memang cantik. Saya malah jadi bertambah bingung, orang secantik itu kok ditolak yaa..??!! kasian..hehehe&#8230; Akan tetapi saya tidak akan membahas soal itu dalam tulisan kali ini. Saya justru ingin mengaitkan fenomena kedatangan Miyabi ini dengan isu industri kreatif di Indonesia yang saat inipun sedang menjadi isu hangat di berbagai kalangan.</p>
<p>Sebelum membicarakan jauh hal tersebut, saya akan menyampaikan istilah kreatif sebagai pangkal bahasan. Menurut Teresa Amabile (peneliti kreativitas dari Harvard Business School), kreatif itu berarti <em>baru</em> dan <em>berharga</em> atau memiliki <em>relevansi</em>.<span id="more-200"></span></p>
<p>Ada beberapa teman yang apriori dengan pengguliran isu industri kreatif sebagai basis pembangunan ekonomi kreatif di negeri ini paska dilanda krisis akibat imbas krisis keuangan global yang bersumber dari Amerika Serikat sekitar akhir tahun lalu dan juga munculnya kesadaran baru tentang arah kebijakan pembangunan perekonomian. Teman yang apriori tersebut merasa takut dan khawatir bahwa industri kreatif seperti yang dipahaminya dari informasi dan sumber yang diterimanya ternyata &#8220;tidak lebih baik&#8221; dari ideologi kapitalisme seperti yang saat ini berlaku &#8211; bahkan dianggap cenderung lebih mengerikan &#8211; tentu yang dimaksud dalam hal sifat-sifat eksploitatifnya.</p>
<p>Ada juga teman dan beberapa pihak lain yang menganggap industri kreatif itu identik dengan industri hiburan dan entertainment &#8220;saja&#8221; (<a href="http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/12/bisnis-kreatif-dan-kreatifitas-bisnis/">baca tulisan sebelumnya</a>). Bahkan ada sebagian lain yang menganggap penyebutan tersebut sekedar jargon dan cenderung melebih-lebihkan. Benarkah demikian adanya?! Mari kita coba berkaca pada kasus Miyabi diawal tulisan ini.</p>
<p>Apakah Maxima sebagai PH (Production House) yang bermaksud mendatangkan Miyabi itu bisa disebut &#8220;kreatif&#8221; dengan memproduksi film yang berjudul &#8220;Menculik Miyabi&#8221; dan meng-impor artisnya langsung dari negerinya..?! Dari definisi kreatif diatas, bisa saja hal ini disebut sebagai &#8220;sesuatu yang baru&#8221; &#8211; tetapi ingat bahwa untuk bisa disebut kreatif masih ada satu syarat lagi &#8211; yaitu bahwa hal tersebut &#8220;berharga&#8221; atau bermanfaat dan relevan.</p>
<p>Apakah kasus Miyabi memenuhi unsur kreatif yang kedua..? rasanya tidak, berharga untuk siapa? manfaatnya apa? untuk siapa? dan seterusnya&#8230;. sehingga dari sini bisa disimpulkan bahwa hal itu bukan sesuatu yang kreatif dan tidak ada kaitannya dengan pengembangan industri kreatif di negeri ini &#8211; bahkan mungkin kontra produktif. Saya tidak ingin lebih jauh merujuk pada persolan moral dan etika &#8211; hal itu sudah banyak yang membahasnya dan lebih kompeten &#8211; tetapi dari sisi konsep kreatif &#8220;saja&#8221; itu sudah tidak memenuhi kriteria diatas.</p>
<p>Sekarang coba kita lihat salah satu aktivitas yang saat ini banyak berkembang di berbagai daerah. Salah satunya misalnya di Yogyakarta, banyak pengrajin baru bermunculan dalam bidang usaha yang sebelumnya tidak ada. Misalnya saja, pembuatan kerajinan dari bahan baku limbah plastik yang selama ini hanya menjadi sampah. Bisakah itu disebut kreatif..?! Jika menilik dari definisi kreatif diatas, pertama bahwa kegiatan tersebut &#8220;baru&#8221;, dan yang kedua bahwa kegiatan tersebut memberi manfaat untuk si pelaku, konsumen atau masyarakat umum, bahkan Pemerintah dan juga &#8220;lingkungan alam&#8221;.</p>
<p>Setujukah jika saya mengatakan ini adalah industri kreatif berdasarkan definisi diatas..?! bahkan lebih jauh saya menyebut ini &#8220;inovatif&#8221; &#8211; karena itu bukan lagi gagasan di kepala melainkan sudah terwujud. Bahkan merujuk pendapat peneliti yang lain, yaitu Mihaly Csikzentmihalyi (dalam bukunya, Creativity: Flow and the Psychology of Discoveri and Invention, New York: Harper Perennial, 1996) yang mengatakan bahwa kreativitas sesungguhnya terjadi ketika orang bekerja sama dalam lingkungan sekitarnya, dan di dalam masyarakat.</p>
<p>Dari sini saya berani menyimpulkan bahwa semua bisnis dan industri bisa menjadi kreatif dengan minimal memenuhi persyaratan tersebut diatas, selain syarat-syarat lain tentunya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=200&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/14/miyabi-dan-industri-kreatif-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://riyantosuwito.files.wordpress.com/2009/10/miyabi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">miyabi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Logika Bisnis Yang Tidak Logis</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/13/logika-bisnis-yang-tidak-logis/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/13/logika-bisnis-yang-tidak-logis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 03:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Logika adalah masuk akal, rasional dan bisa diterima akal sehat. Begitulah secara umum orang memaknai kata logika. Sehingga segala sesuatu yang masuk akal dianggap logis. Dan sebaliknya sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat atau logika umum disebut sebagai tidak logis, atau tidak masuk akal.
Bisnis adalah sebuah wilayah yang juga mengenal logika – artinya ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=198&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Logika adalah masuk akal, rasional dan bisa diterima akal sehat. Begitulah secara umum orang memaknai kata logika. Sehingga segala sesuatu yang masuk akal dianggap logis. Dan sebaliknya sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat atau logika umum disebut sebagai tidak logis, atau tidak masuk akal.</p>
<p>Bisnis adalah sebuah wilayah yang juga mengenal logika – artinya ada banyak hal yang juga bisa diterima akal sehat – tetapi sekaligus menyimpan sesuatu yang irasional alias tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang mau membeli rokok yang jelas-jelas merugikan kesehatan. Bagaimana ceritanya sampai-sampai jajanan atau makanan kecil yang mengandung zat berbahaya malah laris manis.<br />
<span id="more-198"></span><br />
Disisi lain, ada banyak produk dan jasa yang sangat bagus dan berkualitas beredar di pasaran – bahkan dengan harga yang terjangkau – ternyata masih belum juga bisa merebut hati calon konsumen? Apakah itu masuk akal? Jika barang bagus dengan manfaat yang nyata dan harga terjangkau akan digandrungi oleh masyarakat sebagai konsumen – itu jelas masuk akal khan?!</p>
<p>Memang benar &#8230; ada sebuah &#8220;rahasia&#8221; dalam bisnis yang disebut dengan <em>marketing</em> atau pemasaran. Inilah rahasia terbesar dari sebuah bisnis yang membuat logika bisnis menjadi tidak sama dengan logika umumnya. Jika ada bagian-bagian dalam perusahaan yang sulit diukur secara kuantitatif maka salah satunya (jika bukan satu-satunya) adalah <em>marketing</em>.</p>
<p>Siapa yang bisa menghitung dan mempertanggung jawabkan pengeluaran untuk iklan di TV,  radio atau surat kabar dan bahkan mungkin di internet – tepat secara kuantitatif – yang artinya bisa diukur dan diperbandingkan dengan tepat antara input yang digunakan dengan output yang diperoleh. Inilah rahasia terbesar dari logika bisnis, yaitu bahwa bisnis memiliki logikanya sendiri.</p>
<p>Anda benar jika mengatakan bahwa bisnis itu tidak masuk akal atau tidak logis – bahkan cenderung bersifat klenik dan mistis – seperti sebagian kalangan yang mungkin telah banyak mengecap pendidikan yang memanjakan sisi kognisi menganggapnya. Tetapi anda tidak salah jika mengatakan bahwa bisnis itu berjalan dengan logika seperti yang selama ini orang awam fahami. Itu semua karena bisnis menggunakan dan memiliki logikanya sendiri.</p>
<p>Jadi, akan lebih baik jika tidak memaksakan logika kita kepada bisnis kita sendiri atau orang lain&#8230;!??</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=198&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/13/logika-bisnis-yang-tidak-logis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bisnis kreatif dan kreatifitas bisnis</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/12/bisnis-kreatif-dan-kreatifitas-bisnis/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/12/bisnis-kreatif-dan-kreatifitas-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 04:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin tidak ada orang yang saat ini tidak menyuarakan hal tersebut, yaitu kreatif dan kreatifitas. Mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, penulis, guru, seniman, LSM dan hampir semua pihak &#8211; baik didalam maupun diluar negeri &#8211; sedang gandrung dengan istilah tersebut. Apalagi pemicunya kalau bukan krisis keuangan global yang berkembang menjadi krisis ekonomi, rusaknya habitat dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=195&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mungkin tidak ada orang yang saat ini tidak menyuarakan hal tersebut, yaitu kreatif dan kreatifitas. Mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, penulis, guru, seniman, LSM dan hampir semua pihak &#8211; baik didalam maupun diluar negeri &#8211; sedang gandrung dengan istilah tersebut. Apalagi pemicunya kalau bukan krisis keuangan global yang berkembang menjadi krisis ekonomi, rusaknya habitat dan lingkungan alam.</p>
<p>Berbagai bencana alam, sosial dan bahkan ekonomi silih-berganti, perubahan iklim dan munculnya berbagai jenis penyakit menular yang baru. Krisis energi dan bahkan ancamana krisis pangan lagi-lagi juga menuding karena rendahnya kreatifitas kita &#8211; manusia yang hanya bisa mengeksploitasi alam dan sekitarnya &#8211; dan bahkan sesama manusiapun saling mengeksploitasi.<br />
<span id="more-195"></span><br />
Disisi lain, orang memahami istilah kreatif dan kreatifitas identik dengan aktifitas seni dan budaya (saja) dalam &#8220;pemahaman&#8221; selama ini. Sehingga saat inipun, Pemerintah baik pusat maupun daerah mencangkan berbagai program yang mendorong tumbuhnya industri dan bisnis kreatif. Dan seperti sudah saya duga &#8211; istilah kreatif yang dimaksud &#8211; masih seputar seni, musik, warisan budaya dan <em>entertainment</em> dan pertunjukan lainnya. Meski sudah ada pula yang lebih jauh menganggap konsep kreatif sampai pada industri perangkat lunak <em>(software)</em>.</p>
<p>Pertanyaannya kemudian, apakah bidang industri dan bisnis yang lain tidak bisa kreatif atau tidak membutuhkan kreatifitas..??! dan bagaimana sebenarnya implementasi kreatif dan kreatifitas dalam bisnis-bisnis umum lainnya &#8211; yang dianggap tidak kreatif itu&#8230;&#8230;&#8230;..???! Jawabannya harus kreatif dong&#8230;!!???</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=195&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/12/bisnis-kreatif-dan-kreatifitas-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wangsit dan lelaku wirausahawan</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/09/wangsit-dan-lelaku-wirausahawan/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/09/wangsit-dan-lelaku-wirausahawan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 08:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Kalau mendengar istilah wangsit maka pikiran kita akan langsung melayang pada gambaran tentang bisikan-bisikan halus yang entah datangnya darimana. Ada yang mengatakan bisikan gaib dari makhluk atau dunia lain, atau para perewangan. Sedangkan lelaku, identik dengan prosesi yang harus dijalani dalam rangka mendapatkan wangsit tersebut.
Kedua istilah tersebut memang spesifik untuk orang Jawa umumnya, dan khususnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=192&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau mendengar istilah <em>wangsit</em> maka pikiran kita akan langsung melayang pada gambaran tentang bisikan-bisikan halus yang entah datangnya darimana. Ada yang mengatakan bisikan gaib dari makhluk atau dunia lain, atau para <em>perewangan</em>. Sedangkan <em>lelaku</em>, identik dengan prosesi yang harus dijalani dalam rangka mendapatkan wangsit tersebut.</p>
<p>Kedua istilah tersebut memang spesifik untuk orang Jawa umumnya, dan khususnya lagi di pedesaan atau pinggiran yang belum mengenyam pendidikan modern &#8211; atau pendidikan agama yang mencukupi &#8211; karena biasanya istilahnya akan berbeda dalam pemahaman agama.<br />
<span id="more-192"></span><br />
Demikian juga para pelaku usaha atau wirausahawan dalam rangka menjalankan dan mengembangkan bisnisnya, masih menggunakan pendekatan tersebut atau bisa juga mendatangi seorang &#8220;dukun&#8221; atau &#8220;paranormal&#8221; untuk meminta bantuan &#8211; biasanya berupa mantra tertentu atau jimat &#8211; yang harus dipasang pada lokasi tertentu untuk mempengaruhi bisnisnya.</p>
<p>Bahkan hal-hal tersebut berlaku juga dalam rangka bersaing dengan sesama pelaku bisnis lainnya. Apakah ini sebuah fenomena pembodohan? ataukah justru kecerdasan? terlepas dari itu semua hal yang bisa kita simpulkan sementara adalah bahwa pelaku usaha dan dunia usaha mengenal &#8220;logika&#8221; selain daripada logika yang difahami masyarakat umum atau akademik.</p>
<p>Bahwa dengan demikian klaim bahwa kecerdasan akademik belum menjamin keberhasilan dalam bisnis kembali menemukan pembenarannya dalam kasus ini. Bahwa ada kecerdasan emosional dan spiritual yang juga dibutuhkan dalam mensukseskan bisnis seseorang.</p>
<p>Dalam konteks tulisan ini, sebenarnya wangsit dan lelaku juga merupakan bagian dari spiritualisasi proses bisnis &#8211; dengan pemahaman versi orang tertentu &#8211; yang sudah disebutkan diatas. Hal inilah yang kemudian &#8220;ditentang&#8221; oleh penganut rasionalitas sebagai sebuah mistifikasi terhadap proses dalam menjalankan sebuah bisnis.</p>
<p>Kalau kita kaji lebih dalam, sebenarnya wangsit bagi para wirausaha tersebut sebenarnya adalah sebuah &#8220;ide atau gagasan&#8221; yang akan diterapkan dalam menjalankan bisnisnya &#8211; yang itu tidak didapatkan melalui akal sehat atau logika yang mereka kuasai &#8211; sehingga mereka berharap akan memperoleh kilatan ide tersebut dari dunia selain dirinya. Sedangkan lelaku adalah proses yang dijalani untuk sampai memperoleh wangsit tersebut. Wajar jika kemudian <em>lelaku</em> yang mereka jalani bagi sebagian orang menjadi tidak masuk akal.</p>
<p>Yang menjadi poin tulisan saya kali ini sebenarnya adalah &#8220;kalangan menengah&#8221; -  yaitu yang sudah tidak lagi percaya dengan mitos dan hal-hal mistis tersebut diatas &#8211; akan tetapi belum punya mekanisme penggantinya. Bagi &#8220;kalangan atas&#8221; yang biasanya adalah bisnis besar atau berlatar belakang manajemen modern, mereka sudah memiliki mekanisme pengganti yaitu dengan menggunakan jasa-jasa konsultan bisnis atau riset-riset ilmiah terbaru &#8211; dan karena mereka berangkat dari pemahaman modern biasanya mereka juga memiliki keyakinan terhadap metode yang mereka pakai tersebut.</p>
<p>Selain itu juga karena biasanya layanan &#8220;dukun-dukun&#8221; bisnis modern tersebut berharga mahal sehingga tidak terjangkau oleh kalangan bisnis menengah. Jadi, ada sebuah tantangan yang sekaligus menjadi peluang kebutuhan dukun-dukun bisnis untuk kalangan menengah. Yaitu, hadirnya para konsultan bisnis kecil dan menengah yang menggunakan pendekatan ilmiah dan modern dengan harga terjangkau.</p>
<p>Argumentasinya ini sebagai pengganti peran dukun-dukun mistis yang berlatar belakang spiritualisme &#8211; yang masih dipertanyakan untuk kalangan modern dan berpendidikan &#8211; tentang legitimasi dan validitas layanannya.</p>
<p>Harapannya, kedepan iklan-iklan di media masa umum maupun bisnis bukan dipenuhi lagi oleh iklan dukun-dukun yang bisa memberikan solusi bisnis, perjodohan, karir dan sebagainya dengan produk berupa jimat pemanggil rejeki, penglaris dan lain-lain &#8211; tetapi iklan yang ditampilkan adalah jasa dan layanan konsultasi bisnis berbasis ilmu pengetahuan dan cara-cara modern dan ilmiah &#8211; dan lebih penting lagi diterima oleh kalangan yang rasional.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=192&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/09/wangsit-dan-lelaku-wirausahawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melok Ning Ojo Nyolok [Diferensiasi Gaya Jawa]</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/06/melok-ning-ojo-nyolok-diferensiasi-gaya-jawa/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/06/melok-ning-ojo-nyolok-diferensiasi-gaya-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 03:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[“Aku berbeda maka aku ada &#8211; Riyanto B. Suwito”
Kalimat yang merupakan judul artikel ini berarti, tampak jelas tapi jangan menyolok. Jelas berarti tidak perlu dipertanyakan, jangan menyolok berarti tidak ada yang tersilaukan.
Demikian makna dari salah satu filosofi manusia Jawa – yang katanya adiluhung itu – namun sekarang telah banyak ditinggalkan bahkan belum pernah bertemu. Khususnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=188&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>“Aku berbeda maka aku ada &#8211; Riyanto B. Suwito”</p></blockquote>
<p>Kalimat yang merupakan judul artikel ini berarti, tampak jelas tapi jangan menyolok. Jelas berarti tidak perlu dipertanyakan, jangan menyolok berarti tidak ada yang tersilaukan.</p>
<p>Demikian makna dari salah satu filosofi manusia Jawa – yang katanya adiluhung itu – namun sekarang telah banyak ditinggalkan bahkan belum pernah bertemu. Khususnya bagi generasi Jawa baru yang terlahir di kota atau dari keluarga yang mendapat pendidikan modern.<br />
<span id="more-188"></span><br />
Saya tidak sedang mengajak pada romantisme sejarah dan masa keemasan sebuah peradaban. Atau membangkitkan semangat primordial yang sedang mengancam Nasionalisme warga negri ini. Justru saya sedang mencoba menerapkan salah satu filosofi Jawa yang lain, yaitu <em>othak-athik-gathuk</em> ….!!? Hmmm .. ini istilah apa lagi yaa? Maksudnya dari sekedar mengotak-atik data dan fakta tetapi bisa ditarik korelasinya. Dan saya juga tengah mencoba memperkaya khasanah keragaman budaya bangsa dengan mengangkat budaya-budaya local. Terdengar seperti seorang idealis, tetapi sudahlah itu bukan sesuatu yang utama dalam pembahasan artikel singkat ini.</p>
<p>Ketika saya mulai mempelajari macam-macam strategi marketing saya langsung jatuh cinta pada salah satu konsep, yaitu: diferensiasi atau pembeda. Artinya sebuah bisnis atau produk harus mempunyai perbedaan dengan bisnis lain yang telah ada. Ini menjadi syarat bisnis tersebut akan bisa bersaing secara sehat untuk memperebutkan bagian pasar dengan bisnis lainnya – baik yang bersifat pesaing langsung ataupun tidak langsung.</p>
<p>Bagi saya pribadi, itu syarat mutlak sebuah bisnis. Logikanya, kalau kita tidak berbeda dengan yang lain maka kenapa kita harus ada. Meski bisa saja kita mengklaim untuk melengkapi penawaran yang belum menutup permintaan yang ada – tetapi siapa yang bisa mengukur dengan tepat berapa permintaan sebenarnya atas sebuah bisnis – dan tentu saja jika pebinis yang terdahulu mengetahui hal ini dia sendiri akan membesarkan bisnisnya sesuai dengan permintaan pasar tersebut. Baik dengan membuka cabang baru, memperbesar bisnis yang ada atau dengan cara-cara lainnya seperti waralaba yang tengah marak dalam dunia bisnis kontemporer.</p>
<p>Bahkan Doug Hall, seorang pakar pengembangan bisnis dari Kanada yang bahkan dengan tegas menyebut syarat sebuah bisnis itu harus memiliki <strong>perbedaan yang mencolok, </strong>selain manfaat nyata dan alasan kuat untuk percaya.</p>
<p>Namun masalahnya adalah, ketika kita berbeda secara mencolok maka pesaing kita akan segera menyadari kehadiran kita dan mengantisipasi dengna langkah dan strategi yang dirasa tepat. Lebih apesnya jika bisnis baru kita dianggap telah menyerang mereka dengan men-dikotomi bisnis mereka dan celakanya lagi mereka merasa di pojokkan – yang terjadi selanjutnya tentu saja adalah kemungkinan terjadinya serangan balik – yang bisa jadi mematikan bisnis baru kita “yang baru berencana akan tumbuh”. Memang benar, bahwa dengan berbeda secara mencolok maka akan mengalihkan perhatian calon konsumen kita dari keramaian pasar dan ada peluang untuk melirik produk atau bisnis kita.</p>
<p>Contoh yang mudah adalah kasus yang dialami Sido Muncul dengan produk obat anti masuk angin cair dalam sachet-nya, yaitu: Tolak Angin. Tidak ada yang meragukan manfaat nyata dari obat herbal tersebut, dan tidak ada alas an untuk tidak mempercayai produk dari Sido Muncul yang terkenal sejak bertahun lau menjadi penghasil jamu berkualitas. Dan dari sisi diferensiasi sangatlah jelas mereka berbeda, justru mereka adalah innovator karena merekalah yang pertama meluncurkan produk tersebut.</p>
<p>Hanya karena penerapan diferensiasi dan segmentasi yang barangkali kurang tepat ternyata memunculkan reaksi “asal-beda” dari pesaingnya. Karena mengusung slogan “orang pintar minum tolak angin” dengan menggunakan bintang-bintang iklan yang berkelas dan dari kalangan artis papan atas negeri ini – bahkan sempat juga mengusung seorang intelektual dari kampus – segera saja menuai serangan dari Bintangin (produk sejenis dari bintang toedjoe), yang mengusung tag line “mau minum jamu saja kok mesti pintar” – maka terjadilah perang slogan diantara keduanya.</p>
<p>Dibalik hiruk-pikuk dan keriuhan perang tersebut ternyata ada pihak yang diuntungkan, yaitu Antangin yang dengan cerdas membawa slogan yang sangat popular di berbagai kalangan, “wes hewes hewes..bablas angine”. Saya memang tidak memiliki data penjualan ketiganya, tetapi dipasaran lingkungan terdekat saya, ternyata lebih mudah menemukan Antangin (dan lebih suka) ketimbang Tolak Angin atau Bintangin.</p>
<p>Saya tidak yakin, apakah karena figure almarhun Basuki yang dengan cerdas membawakan slogan tersebut sehingga sangat mengena dihati konsumen jamu anti masuk angin, atau karena strategi diferensiasi yang jitu. Dan kebetulan juga Basuki sudah memiliki citra yang kuat sebagai pelawak Jawa yang njawani dikemas dalam sebuah strategi diferensiasi gaya Jawa, <em>melok ning ojo nyolok</em>. Klop sudah – tetapi sekali lagi, ini hanyalah <em>othak-athik-gathuk</em>.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=188&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/10/06/melok-ning-ojo-nyolok-diferensiasi-gaya-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tahap Perubahan ..</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/09/03/tahap-perubahan/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/09/03/tahap-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 22:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inovasi & Perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[change]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/09/03/tahap-perubahan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada cerita menarik dari beberapa orang yang sedang atau merasa telah berubah. ada beberapa versi tetapi secara umum, orang mengalami transformasi atau perubahan diri setelah mendapatkan kesadaran diri.
ini memang terkesan ideal sekali, karena banyak juga orang yang mengalami perubahan bahkan ia sendiri tidak menyadarinya &#8211; kecuali orang terdekatnya yang menyadari. inilah proses perubahan yang berbahaya..karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=187&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada cerita menarik dari beberapa orang yang sedang atau merasa telah berubah. ada beberapa versi tetapi secara umum, orang mengalami transformasi atau perubahan diri setelah mendapatkan kesadaran diri.</p>
<p>ini memang terkesan ideal sekali, karena banyak juga orang yang mengalami perubahan bahkan ia sendiri tidak menyadarinya &#8211; kecuali orang terdekatnya yang menyadari. inilah proses perubahan yang berbahaya..karena si pelaku bisa terjerumus dalam perubahan tak terkendali! bahkan dalam perubahan sosial..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=187&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/09/03/tahap-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Confession of Though Guy&#8230;.</title>
		<link>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/08/02/the-confession-of-though-guy/</link>
		<comments>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/08/02/the-confession-of-though-guy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 05:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riyantosuwito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riyantosuwito.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Entah apa yang harus aku katakan lagi, paling teman-teman lamaku tidak akan mempercayainya..apalagi mereka yang sejak kecil mengetahui siapa dan bagaimana aku. Ya..aku sedih, takut, cemas, tertekan, depresi dan segala macam rasa itu bercampur aduk menjadi satu &#8211; yang bahkan sebelumnya bukan hal yang patut untuk dipertimbangkan &#8211; bahkan meski diingatkan oleh orang lain sebelum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=182&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Entah apa yang harus aku katakan lagi, paling teman-teman lamaku tidak akan mempercayainya..apalagi mereka yang sejak kecil mengetahui siapa dan bagaimana aku. Ya..aku sedih, takut, cemas, tertekan, depresi dan segala macam rasa itu bercampur aduk menjadi satu &#8211; yang bahkan sebelumnya bukan hal yang patut untuk dipertimbangkan &#8211; bahkan meski diingatkan oleh orang lain sebelum aku mengambil sebuah keputusan atau melakukan tindakan apapun. <span id="more-182"></span></p>
<p>Tidak jarang teman-teman dekatku semasa kuliah menjuluki aku sebagai orang yang kontroversial, sehingga jika tidak melakukan tindakan atau mengambil keputusan yang &#8220;mengagetkan&#8221; dianggap bukan saya lagi&#8230;menyedihkan!?<br />
<!--more--><br />
Tetapi saat ini..aku harus benar-benar membuat pengakuan yang jujur kepada diriku sendiri. Jika dahulu aku merasa seolah-olah seperti Bruce Wilis yang memerankan &#8220;jagoan&#8221; dalam Die Hard dalam setiap tindakanku &#8211; kini hal itu telah sirna dan seperti menguap entah kemana dan mengapa. Aku merasa mulai &#8220;melemah&#8221;, tidak sehebat dulu lagi. Ya, jika dulu saya dengan berani menghadapi berbagai situasi bahkan seperti &#8220;nothing to loose&#8221; &#8211; seperti layaknya Timnas Indonesia All Star andai kemarin jadi bertanding dengan &#8220;Si Setan Merah&#8221; Manchester United (MU) &#8211; sekarang justru sebaliknya. Bukan lantas saya merasa seperti MU dengan siap menghadapi Indonesia All Star, tetapi lebih seperti tim tanpa misi dan kepercayaan diri&#8230;</p>
<p>Semua itu berawal dari rencana mendadak (yang sebetulnya sudah cukup lama dipikirkan..) kepindahan saya dan keluarga ke Muntilan, sebuah kota kecil di Kabupaten Magelang yang terkenal dengan jajanan khas tape ketan dan wajik-nya. Saat ini saya telah seminggu lebih (tepatnya  10 hari) pindah mukim dari Kota Yogyakarta ke Muntilan. Karena istri saya kebetulan orang sana, dan kebetulan juga setelah ibu mertua meninggal &#8211; istri saya mendapat &#8220;warisan sosial&#8221; berupa TK/PAUD yang sebelumnya baru saja dirintis oleh almarhumah ibu. Kebetulan saudara-saudara yang lain juga telah mendapatkan amanah masing-masing, tinggal istri saya yang belum &#8211; jadilah akhirnya dia mendapat tugas menjadi kepala sekolah di sana.</p>
<p>Dahulu, tepat setahun yang lalu ketika ibu meninggal istri saya berjanji untuk pindah ke Muntilan dan mengemban tugas sebagai pengurus TK/PAUD tersebut jika putri pertama kami memasuki sekolah dasar (SD) sehingga sekalian pindah komunitas. Kini, putri kami telah menjadi murid kelas 1 sebuah SD negeri di Gunung Pring &#8211; Muntilan.</p>
<p>Itulah awal-mula dari pengakuan ini..jika sebelumnya saya hanya berkomentar singkat dengan mengatakan bahwa &#8220;saya bisa hidup dimanapun saya berada&#8221; &#8211; I Will Survive&#8230;hehehe .. agak takabur memang. Bukan sesuatu yang luar biasa bagi saya untuk berpindah tempat tinggal, meski sebelumnya telah tinggal di Yogyakarta sejak tahun 1995 dan mulai menetap sebagai sebuah keluarga kurang lebih 5 tahun yang lalu &#8211; dan bahkan sampai saat ini saya masih tercatat sebagai penduduk dan ketua RT di sana. Saya justru beralasan bahwa yang perlu menjadi perhatian adalah putri kami, apakah dia akan betah pada komunitas barunya nanti?</p>
<p>Seperti ditampar saja rasanya muka ini..bagaimana tidak?! anak saya yang telah lebih dulu pindah ke Muntilan karena harus masuk sekolah, menjawab dengan ceria, senang dan bahkan tanpa beban sama sekali ketika saya bertanya, &#8220;Nak, apa kamu senang sekolah disini?&#8221;, sungguh diluar perhitungan rasio dan logika saya yang selama ini saya anggap hebat..!!? Seorang anak perempuan berumur 6 tahun kurang 2 bulan yang sebelumnya bersekolah di TK swasta di Yogyakarta, kemudian harus masuk SD karena sudah terlalu lama berada di PAUD dan TK (karena dulu kami sama-sama bekerja sehingga sejak kecil dia dititipkan di TPA). Saya khawatir dia akan mengalami depresi dengan lingkungan barunya, disamping umurnya seharusnya belum mencukupi syarat administratif untuk masuk SD negeri &#8211; tetapi itu tetap harus kami lakukan karena bingung harus disekolahkan dimana selain TK dan SD?</p>
<p>Akhirnya, sekarang saya harus mengakui dengan sejujurnya bahwa sebenarnya sayalah yang mengalami &#8220;stress dan depresi&#8221; dengan kepindahan ini. Pertama, saya merasa terlalu mencemaskan orang-orang yang saya cintai. Kedua, saya harus kehilangan (sementara) akses kepada teman-teman, pekerjaan dan komunitas di Yogyakarta. Ketiga, Muntilan bukanlah sebuah kota impian untuk tempat menetap saya &#8211; seperti halnya Cilacap yang notabene tempat lahir saya. Bukan tanpa sebab, saya merasa bahwa saya kurang bisa mengaktualisasi diri di dua kota di Jawa Tengah tersebut.</p>
<p>Tetapi sebagai seorang yang menganggap diri sebagai &#8220;agen perubahan&#8221;, tentu saja malu kalau harus mengakui bahwa saya takut untuk menghadapi kenyataan dan &#8220;perubahan&#8221; dalam hidup saya. Sedangkan hidup saya selama ini sudah seperti &#8220;roller coaster&#8221; &#8211; banyak tikungan, tanjakan dan jalan curam menurun deras&#8230;dan saya selalu selamat..seolah-olah punya keberuntungan tanpa batas. Tetapi saat ini..mengapa hal itu tidak lagi bekerja pada diri saya. Keyakinan atau keberanian menempuh tantangan itu semakin menurun dan bahkan seperti hilang. Saya ketakutan setengah mati..bagaimana saya akan menjalani hidup ini? apa yang akan saya kerjakan? darimana sumber penghasilan saya?</p>
<p>Saat ini saja saya sudah beberapa kali jatuh sakit &#8211; yang saya yakin penyebabnya bukan semata-mata perubahan cuaca yang ekstrim atau menurunnya kondisi tubuh saya &#8211; tetapi lebih karena kondisi psikis atau mental yang tidak begitu siap dengan kenyataan dan kondisi baru tersebut. Atau karena saya tidak terbiasa (lagi) naik sepeda motor &#8211; sementara saat ini &#8220;mobil butut&#8221; saya yang selama ini setia selama 4 tahun lebih mengantar kemanapun saya pergi &#8211; sedang opname dan rehab berat di bengkel sehingga saya terpaksa harus menjadi &#8220;bikers&#8221; lagi, padahal dulu saya adalah bikers yang dengan senang hati melakukan tur bersama kawan-kawan semasa kuliah.</p>
<p>Akhir kata, yang saya butuhkan saat ini adalah betul-betul sebuah pernyataan jujur bahwa saya sedih, kecewa, ketakutan dan tertekan..mengalami depresi yang sebenarnya cukup berat &#8211; tapi coba ditutupi dengan &#8220;keberanian semu&#8221; yang dulu pernah sangat ampuh menjadi senjata pamungkas saya dalam setiap permasalahan. Tapi saya melupakan sesuatu..dulu saya adalah seorang &#8220;pemuda nekat&#8221; yang siap menghadapi apaun dengan semangat &#8220;fearless&#8221; alias no fear&#8230;!? tetapi hari ini..saya adalah ayah dari dua orang anak kecil yang sedang lucu-lucunya, seorang suami dari seorang perempuan yang dengan rela menyerahkan hatinya untukku.</p>
<p>Saya tidak bisa lagi mengandalkan modal nekad &#8211; tetapi saya belum mampu mengatasi &#8220;rasa takut&#8221; yang memang seharusnya tetap ada bahkan pada diri seorang &#8220;ksatria sejati&#8221;. Pemberani yang sesungguhnya bukanlah &#8220;makhluk tanpa rasa takut&#8221; &#8211; tetapi menguasai dan mengendalikan ketakutan untuk lebih berhati-hati dan bersiap atas segala situasi, demikian kata para bijak. Cukuplah untuk saat ini saya mengakui bahwa saya sedih dan takut&#8230;itu sudah jauh lebih baik. Mudah-mudahan ini bukan berarti saya sedang mengalami penurunan atau mulai melemah, justru inilah jalan untuk menjadi sang ksatria sejati&#8230;yang dalam wujud manusianya tetap memiliki air mata&#8230;.???!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/riyantosuwito.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/riyantosuwito.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/riyantosuwito.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/riyantosuwito.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/riyantosuwito.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/riyantosuwito.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/riyantosuwito.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/riyantosuwito.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/riyantosuwito.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/riyantosuwito.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=riyantosuwito.wordpress.com&blog=4404223&post=182&subd=riyantosuwito&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/08/02/the-confession-of-though-guy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57906cb699b9368fe3b59870c353664d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">riyantosuwito</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>