Metode Akuntansi Persediaan Non Fisik & Non Perpetual (Maya)

Secara umum, dalam akuntansi selama ini hanya dikenal 2 (dua) metode penilaian persediaan yaitu: metode perpetual (perpetual inventory system) dan metode fisik (physical inventory ssystem). Metode pertama mengasumsikan bahwa setiap item persediaan bernilai tinggi sehingga setiap pergerakannya (movement) haruslah tercatat – sehingga ada kartu pencatat persediaan sebagai buku besar pembantu (subsidiary general ledger) yang digunakan pada metode ini. Sebaliknya pada metode fisik, persediaan hanya dicatat pada sat terjadi pembelian saja dan penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) atau Cost of Goods Sold akan dilakukan pada akhir periode dengan menggunakan perhitungan secara sederhana sebagai berikut:
Persediaan awal             xx
Pembelian                     xx
Retur pembelian            (xx)+
Tersedia untuk dijual       xx
Persediaan akhir             xx -
Harga Pokok Penjualan   xx
Sehingga pada metode fisik, pergerakan persediaan tidak selalu bahkan tidak pernah dicatat secara khusus – karenanya sistem ini cocok diterapkan pada perusahaan dengan mobilitas persediaan yang tinggi tetapi nilai (harga) nya rendah. Misal pada perusahaan perdagangan komoditas dan lain sebagainya. Selama bertahun-tahun sistem persediaan semacam itu terus dipergunakan dalam praktik akuntansi di Indonesia – bahkan mungkin juga di dunia.
Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan juga praktik bisnis-bisnis baru dan inovatif ternyata tidak bisa sepenuhnya mengandalkan model dan sistem informasi model-model yang sama seperti pada jaman atau era industri seperti diatas. Contoh paling sederhana adalah bisnis voucher electronik pra-bayar. Untuk kalangan ritel, seperti konter/gerai handphone mungkin belum dan tidak membutuhkan sistem akuntansi mengingat skala dan manfaat yang akan mereka dapatkan belumlah seimbang. Tetapi lain ceritanya bagi dealer atau distributor yang menjual voucher elektrik kepada banyak pedagang pengecer – tentu saja skala usahanya sudah cukup besar dan membutuhkan sistem informasi (termasuk akuntansi) untuk dapat membantu mengelola bisnisnya dengan baik dan tentu saja diharapkan menghasilkan keuntungan. Keuntungan ini memang bukan tujuan utama sebuah bisnis – tapi tanpa keuntungan itu tidak ada gunanya keberadaan sebuah entitas bisnis.
Atau dalam bidang yang sedikit berbeda misalnya seperti bisnis on-line ticketing atau reservasi secara on-line, saat ini sudah banyak penyedia (provider) layanan tersebut – apalagi dengan semakin berkembangnya penyebaran internet di Indonesia yang sudah menjangkau ke pelosok yang mungkin saja dulunya sama sekali tidak tersentuh “peradaban”. Kembali pada soal metode persediaan diatas, harus diingat bahwa metode persediaan adalah bagian dari (sub) sistem akuntansi untuk perusahaan dagang ataupun manufaktur, karena diasumsikan dua model perusahaan inilah yang memiliki persediaan – baik barang dagangan maupun bahan baku, barang setengah jadi, maupun barang jadi. Jadi, perushaan jasa adalah pengecualisan dari penggunaan sistem ini – karena perusahaan jasa (services) tidak memiliki persediaan produk berupa barang.
Nah pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perusahaan dagang yang persediaannya berupa produk non barang atau barang tidak berwujud? jawabannya gampang, asal produk tersebut bisa dikuantifikasi – jumlahnya berapa, harga satuannya berapa – maka jumlah totalnya juga akan dengan mudah disebutkan dan disajikan dalam laporan.
Contoh:
PT. XYZ pada 31 Desember 2009 memiliki persediaan voucher elektrik sejumlah Rp. 10.000.000,- dengan rincian sebagai berikut:
  • Voucher IM3             Rp.2.500.000,- (masih dengan rincian pecahan atau satuan tertentu, misal: 5.000,-; 10.000,- dll)
  • Voucher SimPATI      Rp. 5.000.000,-(sda)
  • Voucher XL               Rp. 2.500.000,- (sda)
Dengan ilustrasi semacam diatas, dapatlah kita berasumsi bahwa dengan teknologi yang sedemikian hebatnya – seperti saat ini – tidak ada kesulitan menggunakan metode persediaan sistem perpetual karena dengan bantuan komputer dan aplikasinya setiap pergerakan dan detil kuantitas persediaan dapat terekam dan tercatat dengan baik dan cepat. Hal yang tidak terbayangkan jika menggunakan sistem manual dengan perhitungan dibantu mesin hitung biasa semacam kalkulator misalnya – pasti akan sangat merepotkan.
Tetapi, masalahnya tenyata menjadi tidak sederhana ketika dengan teknologi komputer dan aplikasi yang baru – namun kita masih harus mengadopsi dan menyesuaikan dengan sistem akuntansi yang lama – ternyata sulit saudara-saudara…!?? hehehe..(kayak kampanye…). Karena dengan bentuknya yang maya (tidak nyata) maka produk-produk semacam voucher elektronik menjadi tidak mudah untuk dikendalikan secara tradisional – belum lagi sistem bisnid yang digunakan bisa sedemikian berbeda dengan model-model konvensional alias jadul.
Jaman voucher fisik, kita dengan mudah mengidentifikasi keberadaannya di etalase kita dengan satuan nominal yang tertulis di kartu-nya sehingga tinggal kita hitung jumlah totalnya – sebesar itulah nilai persediaan barang dagangan kita. Tetapi pada saat ini, kita lebih mengenal istilah “deposit” untuk menyebut barang dagangan kita berupa sejumlah nilai voucher elektronik. Dan untuk melakukan pembelian kita tinggal menyetorkan uang sejumlah tertentu dan kita mendapatkan tambahan deposit pada akun (rekening) kita yang selanjutnya bisa langsung kita jual kembali. Jadi, persediaan dagangan kita adalah sesuatu yang tidak kelihatan yang kita sebut sebagai deposit. Sebenarnya inipun tidaklah menjadi masalah, jika deposit kita secara keseluruhan merupakan hasil perkalian dari jumlah produk dikalikan harga masing-masing (kuantitas x harga).
Tetapi saat ini dengan kemudahan sistem bisnis dan mungkin akibat persaingan yang makin ketat, kita bisa memiliki saldo deposit sejumlah nominal tertentu yang bisa kita “konversi” menjadi barang atau produk tertentu – tergantung kebutuhan calon pembeli kita – sehingga nilai persediaan berupa deposit tadi baru akan bisa diakui secara pasti pada saat terjadinya transaksi penjualan atas persediaan kita. Dalam akuntansi tradisional kita hanya akan menggolongkannya sebagai persediaan – tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian – karena ada juga penyedia produk (provider) yang mengharuskan agen/distributir membeli sejumlah deposit dalam hitungan paket tertentu. Misalnya, deposit sejumlah Rp. 1.000.000,- terdiri dari pulsa elektrik dengan nominal 10.000,- , 5.000,- , 20.000,- dan 50.000,- dengan.
Dalam kasus semacam ini, deposit itu bisa kita anggap sebagai persediaan barang dagangan – tapi untuk kasus sebelumnya dimana sejumlah deposit yang bersifat bebas – bisa saja disebut persediaan pada saat terjadinya mutasi akibat penjualan. Hal ini memang tampak sangat repot jika kita menggunakan asumsi akuntansi tradisional, terlebih jika masih menggunakan teknologi manual atau pekerjaan klerikal – sungguh merepotkan. Padahal saat ini, bukan hanya pedagang voucher elektrik yang mengalami situasi tersebut – tapi seperti sudah saya sebutkan diatas – ada juga agen tiket on-line atau bahkan kecil-kecilan ada juga agen pembayaran listrik, telfon dan lain-lain yang menggunakan teknologi on-line. Dengan menggunakan metode fisik jelas tidak layak, karena dalam kasus e-voucher produknya saja sudah bukan produk fisik, tetapi harganya jelas untuk masing-masing item produk – dan signifikan nilainya jika diperbandingkan dengan tingkat perputarannya yang tinggi – namun kesulitannya jika menggunakan metode perpetual, rincian item produk belum bisa diakui sebelum transaksi penjualan terjadi. Artinya persediaan baru dianggap persediaan setelah produk dijual kepada pelanggan.
Ini merupakan sebuah peluang sekaligus juga tantangan khususnya bagi kalangan akuntansi (baik praktisi maupun akademisi) untuk dapat merespon berbagai perkembangan dalam dunia bisnis yang sudah sedemikian cepat, tak terbatas tempat tapi sekaligus makin rumit dan komplek – dengan menciptakan sistem informasi akuntansi yang mampu menerjemahkan berbagai sistem bisnis yang berkembang tersebut dalam bahasa akuntansi dan keuangan yang dapat dimengerti dan digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan (stake holder) – khususnya bagi pihak manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.
Riyanto Suwito
0812 271 2426
http://riyantosuwito.wordpress.com
About these ads

3 thoughts on “Metode Akuntansi Persediaan Non Fisik & Non Perpetual (Maya)

  1. Regards for posting “Metode Akuntansi Persediaan Non Fisik & Non Perpetual (Maya) |
    Riyanto Suwito’s Blog”. I personallymay surely end up being coming back for a great deal more browsing and commenting shortly. Thanks, Lavonda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s