My first Online Experience

Juli 15, 2009
Dunia Maya

Dunia Maya

Pengalaman pertama ber-online ria, sungguh “luar biasa” dan tak terlupakan. Sebagai anak desa dari pinggiran kabupaten Cilacap yang bahkan jaringan telfon kabel saja belum masuk – bahkan sampai sekarang.  Jaringan listrik saja masuk ke desa saya ketika saya sudah kelas 2 (dua) Sekolah Menengah Pertama (SMP) – jadi praktis sebelumnya saya hanya mengenal lampu minyak untuk penerangan dan accu (baterai basah) untuk menghidupkan televisi, serta baterai kering untuk menghidupkan radio dan lampu senter.

Hal yang “luar biasa” itu bisa terjadi karena saya beruntung hidup dan menghabiskan masa pendidikan tinggi di kota Yogyakarta – yang tentu saja telah mengadopsi teknologi internet lebih dulu dibandingkan dengan kota-kota kecil lainnya – termasuk jika dibandingkan dengan kota kabupaten saya, Cilacap atau kota-kota lain di Jawa Tengah.

Salah seorang teman kuliah saya, namanya Doni – saat ini bekerja sebagai kepala seksi akunting di sebuah perusahaan farmasi di kota Cirebon – yang sudah lebih dahulu mengenal internet mengajari saya bagaimana cara membuat email dan untuk apa saya perlu memiliki sebuah akun email. Saat itu kurang lebih tahun 1999 s.d 2000-an dimana penetrasi internet di kota Yogyakarta masih sangat sedikit. Saya “dibuatkan” sebuah akun email pada sebuah provider web mail gratis – kalau tidak salah bernama usanet – tetapi sekarang tampaknya sudah tidak menyediakan akun gratis lagi.

Saya terbuai dengan “rayuan” teman saya yang katanya nanti setelah memiliki email saya akan bisa mencari lowongan kerja dan mendapat informasi lowongan kerja – dan kebetulan saat itu saya memang belum lulus kuliah – tapi sudah bersiap-siap untuk masuk ke dunia kerja setelah lulus kuliah.

Selain teman saya si Doni, tentu saja Roy Suryo – pakar telematika dari Yogyakarta – juga termasuk orang yang turut bertanggung jawab atas “tersesatnya” saya dalam dunia online ini. Karena beberapa tahun sebelumnya, kurang lebih 1997-1998 saya pernah mengikuti seminar tentang “tren internet” di kampus saya dan pembicaranya adalah pakar nyentrik yang kontroversial tersebut – sehingga saya menjadi terlarut juga dalam buaian mimpi-mimpi indah kemudahan dan manfaat internet tersebut.

Beberapa hari sekali (tentu saja kalau punya uang lebih)  karena pada saat itu untuk mengakses internet yang kecepatannya berkisar 56 kbps saya harus membayar Rp. 6.000,- perjam di warnet di sekitar kampus – saya pergi ke warnet dan men-check email saya yang dari waktu ke waktu isinya itu-itu saja…karena pada saat itu tentu saja saya tidak tahu bahwa alamat email saya seharusnya juga dipublikasikan kepada orang lain yang saya harapkan akan berkorespondensi dengan saya melalui fasilitas surat maya tersebut.

Memang pada awalnya saya “terlalu berharap banyak” sehingga agak kecewa ketika mendapati akun email saya tetap saja kosong selain sambutan selamat bergabung dari tim provider dan tentu saja email dari teman yang membuatkan email saya itu. Dan hebatnya lagi, dia mengirimkan email kepada saya dari bilik yang bersebelahan dalam warnet yang sama. Tapi kekecewaan saya sedikit terobati..ketika saya diajari cara-cara browsing internet yang katanya bisa untuk mendapatkan barang gratisan dari internet (free stuf).

Namun lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan karena ternyata tidak ada “barang gratisan” yang saya peroleh dari pengalaman berinternet tersebut. Pernah satu kali saya mendapatkan kiriman CD (Compact Disc) gratis lagu-lagu barat lama yang bahkan saya juga tidak mengenal sama sekali – setelah capek submit kesana-kemari mendatangi situs gratisan. Akhirnya ada seorang teman yang mengajak untuk menjebol kartu kredit (carding) orang luar negeri dan bahkan dia sempat memberikan print-out daftar nomor kartu kredit yang katanya biasa di jebol.

Ada teman anak kos yang sering membeli merchandise, baik berupa topi, kaos atau jaket dan bahkan jam tangan dengan bermodalkan list kartu kredit yang disebarkan antar teman tersebut. Sayangnya lagi, saya terlalu takut untuk ikut-ikutan teman-teman yang dalam pengertian saya “mencuri” uang orang lain untuk membeli barang-barang kesukaannya. Meski untuk sekedar iseng, saya tetap tidak berani mencoba…bahkan sampai sekarang!?

Akhirnya kekecewaan saya sedikit terobati karena teman saya yang membuatkan email pertama kali – menunjukkan sebuah alamat URL dari sebuah situs yang berisi lirik lagu-lagu barat. Pada saat itu memang sedang suka-sukanya bernyanyi dan “ngeband”. Tapi berawal dari kisah tersebut akhirnya saya bisa menjadi seperti sekarang ini – memiliki akun email yang bisa digunakan untuk kepentingan komunikasi profesional dan mendukung kerja. Memiliki akun di berbagai media komunitas sosial (social media seperti friendster, facebook, multiply dll), bisa browsing dan chatting dengan teman-teman lama yang telah “hilang” dari peredaran.

Tentu saja ada proses panjang sampai saya mencapai literasi internet seperti sekarang ini, terlebih saya memang bukan berlatar belakang pendidikan TI melainkan akuntansi. Jadi, awalnya saya mengenal internet adalah sebatas untuk mendukung aktivitas dan status saya sebagai seorang (calon) sarjana pada waktu itu untuk memudahkan mencari pekerjaan yang saya inginkan, selain juga barang gratisan – yang katanya sangat banyak bertebaran di internet…ha ha ha…kalau teringat masa itu saya membayangkan diri saya sangat “katrok”.

Internet dan dunia online adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seorang anak desa seperti saya yang bahkan mengenal jaringan telfon rumah, wartel dan telfon umum saja setelah kuliah di Yogyakarta – sebagai kota “kelahiran” saya yang kedua. Terima kasih Doni-punk, terima kasih Mas Roy, terima kasih Yogyakarta, terima kasih Bangsa…nah, kalau yang terakhir ini mengutip pernyataan pak Yusuf Kalla (JK) pada debat capres terakhir pilpres 2009..!!?


Small Business Marketing – Part 2

Juli 10, 2009

Ada pengalaman menarik dari rangkaian pertemuan dengan para pelaku usaha kecil, baik dalam bentuk FGD (Focus Group Discussion) maupun dalam sesi pelatihan. Kebanyakan mereka menyadari bahwa sebuah unit usaha apapun akan sangat bergantung dari penjualan (sales).

Sayangnya, sebagian besar bahkan hampir semua dari mereka belum tahu dan memahami konsep pemasaran (marketing). Bahkan ada yang mengaku baru sekali itu mendengar istilah marketing atau pemasaran.
Ini memang menarik sekaligus menggelitik dan juga memprihatinkan. Saya, secara pribadi terus menerus mengkampanyekan konsep-konsep marketing yang paling dasar pada setiap perjumpaan dengan mereka – para pejuang ekonomi kerakyatan – atau mungkin bagus juga kalau disebut dengan laskar ekonomi.

Lagi-lagi masih menurut saya..tanpa analisis ilmiah yang mendalam – kesimpulan sementara saya adalah – para pelaku usaha kecil kita membutuhkan peningkatan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan yang mendesak berkaitan dengan fungsi marketing yaitu: kompetisi atau persaingan ditingkat lokal.

Jika secara bertahap kita bisa meningkatkan “kapasitas kompetisi” para pelaku usaha kecil tersebut, maka bolehlah kita berharap UMKM kita akan mampu bersaing secara global.  Semoga…!!?


detikcom : Wow, Tajirnya Capres-capres Kita

Mei 20, 2009

title : Wow, Tajirnya Capres-capres Kita
summary : Komisi Pemberantasan Korupsi baru saja selesai mengklarifikasi laporan kekayaan calon presiden. Inilah sebagian hasil pengumuman sementara kekayaan mereka. (read more)


Small Business Marketing…Part 1

Mei 14, 2009

Hari-hari ini aku bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang usaha..dan hampir semua berskala kecil bahkan mikro. Memang mulai bulan April 2009 kemarin saya bersama rekan-rekan dari PKPEK sedang mengerjakan sebuah proyek di dua Kabupaten di Provinsi DIY, tepatnya di Kabupaten Bantul dan Sleman.

Proyeknya didanai oleh AUSAID bekerjasama dengan BAPPEDA Provinsi dan Kabupaten dalam kerangka YCAP-AIP (Yogyakarta and Central Java Community Based Asistance Program – Australia Idonesia Partnership) Phase II. Yaitu sebuah proyek/program lanjutan dari asistensi paska gempa bumi di DIY dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006 yang lalu.
Baca entri selengkapnya »


Pemimpin yang dilahirkan ..

April 27, 2009

Beberapa waktu terakhir ini kita tengah menunggu dan berharap datangnya atau munculnya pemimpin yang benar-benar mampu untuk membawa kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia. Sebuah utopia ataukah sesuatu yang niscaya?

Kita (orang awam) sering dan masih menganggap bahwa pemimpin adalah orang yang sejak lahir (gifted) memang telah memiliki bakat dan jiwa kepemimpinan (leadership). Sedangkan para ahli berpendapat lain, dengan berkeyakinan bahwa pemimpin adalah hasil dari sebuah proses pendidikan dan pengembangan (dibentuk).  
Baca entri selengkapnya »


Cetak biru perubahan di Indonesia ..

April 24, 2009

Mengutip tulisan Zaim Uchrowi di Republika on line, “Seluruh pencapaian bangsa ini tentu harus disyukuri. Syukur akan mengantarkan pada keberhasilan lebih lanjut. Tapi, itu tak semestinya membuat terlena. Seolah segala aspek yang ada pada bangsa ini sudah memadai, dan hanya perlu melanjutkannya dan memperbaikinya sedikit. Yang terjadi tidak demikian. Masih banyak hal yang harus kita perbaiki secara mendasar”, menarik untuk mencermati kata “melanjutkan” dan “memperbaiki sedikit” serta kata “mendasar”.

Saya tidak dalam kapasitas untuk “menantang” pernyataan tersebut – justru saya akan “melanjutkan”. Bahwa dalam konteks apapun – termasuk perubahan dan pembangunan, kata berkelanjutan (sustainable) yang dalam kata kerjanya menjadi “melanjutkan” atau “dilanjutkan” sangat tidak terbantahkan sebagai sebuah prasyarat keberhasilan.  Menurut saya inipun sangat “mendasar”.  Sehingga ketika melakukan  sesuatu tanpa mengenal apalagi mempersiapkan dasar atau melakukkan hal yang mendasar maka hampir bisa dipastikan menuai kegagalan.
Baca entri selengkapnya »


Menerima atau menolak hasil pemilu 2009?

April 16, 2009

Hajat besar bangsa Indonesia yaitu Pemilu Legislatif 2009 telah berlalu beberapa hari yang lalu. Beberapa pihak tampak keletihan, senang, sedih, gembira bahkan ada beberapa kasus di daerah dimana para pendukung beberapa parpol maupun caleg yang meraup suara cukup – melampiaskan kegembiraan dengan berbagai cara. Salah satunya ada yang melakukan aksi pelontos kepala beramai-ramai.

Terlepas dari gegap-gempita, sebuah hajat besar juga selalu menyisakan persoalan yang belum tuntas. Kalau dalam kasus keluarga bisa saja menyisakan hutang, perselisihan antar panitia dan ketidakpuasan pemilik hajat. Dalam konteks pemilu seharusnya pemilik hajat ini adalah rakyat – yang diwakili oleh partai-partai politik.
Baca entri selengkapnya »


Under promise over deliver..

April 10, 2009

Itu adalah salah satu bentuk perubahan model marketing yang diusulkan oleh Phillip Kotler dalam Marketing Management untuk menghadapi ekonomi baru. Model ekonomi lama masih mengadopsi model “over promise under deliver” - tetapi sekarang sudah bukan saatnya lagi.

Pertanyaannya, apakah itu juga berlaku dalam marketing politik atau partai? jawaban sementara bisa “ya”. Salah satu buktinya adalah hasil Quick Count Pemilu Legislatif 2009 yang sudah di-launching oleh beberapa lembaga survei seprti LSN dan LSI. Disitu disebutkan daftar 10 besar (top ten) partai dengan suara terbanyak. Yang menarik yaitu, Partai Demokrat menduduki peroleh tertinggi sementara dengan suara mencapi 20% lebih. Selanjutnya diikuti oleh Golkar dan PDIP (bergantian..kita lihat saja hasil akhirnya).
Baca entri selengkapnya »


Prabowonomics…apa lagi ini yaa..?

April 6, 2009
Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Istilah ini mengutip dari Teguh Dartanto (Peneliti LPEM FE Universitas Indonesia, yang tengah belajar di Universitas Nagoya, Jepang) dalam sebuah kolom opini di Koran Tempo tanggal 24 Maret 2009 yang lalu. Sederhananya ini merupakan sebuah manifesto konsep ekonomi yang digagas oleh Prabowo Subianto – sebagai Capres Indonesia 2009 melalui partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya).

Saya tidak dalam kapasitas sebagai pendukung maupun penentang dari aliran ini, tapi lebih sebagai cc-line (baca: sisi lain) dari dinamika perpolitikan ekonomi di negeri ini. Sebagai penggiat ekonomi kerakyatan, melalui sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang ekonomi (PKPEK-Perkumpulan untuk Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan) kami bersama rekan-rekan di tingkat lokal (DIY dan Jateng) telah sejak lama (1999) mengusung tema ekonomi yang kurang lebih sejalan dengan konsep yang diajukan Prof. Mubyarto (alm).
Baca entri selengkapnya »


Revitalisasi spirit kewirausahaan

April 2, 2009

Mungkin judul diatas terlalu klise dan terasa membosankan tetapi sayangnya seringkali sesuatu yang (sedang) kita butuhkan memang tidak kita inginkan. Contoh sederhananya barangkali seperti orang yang sakit. Siapapun akan mengatakan, banyak-banyaklah istirahat yang cukup, tenangkan pikiran, minum obat dan vitamin..dan sebagainya. Dan semua itu bagi “si sakit” adalah pernyataan yang klise dan membosankan.

Begitulah kiranya yang tengah terjadi dengan perekonomian negeri kita – bahkan dunia kita secara umum. Suka ataupun tidak selalu ada hal klise yang akan kita dengar soal berbagai nasehat, saran, masukan maupun resep.
Baca entri selengkapnya »